Senin, 08 Februari 2021

Kenali Efek Penyalahgunaan Ekstasi, Narkoba yang Diamankan dari Ridho Rhoma

 Pedangdut Ridho Rhoma ditangkap di sebuah apartemen di Jakarta atas dugaan penyalahgunaan narkoba. Saat digeledah, polisi menemukan barang bukti ekstasi padanya.

"Saat kita lakukan penggeledahan terhadap MR alias RR ada barang bukti narkotika jenis ekstasi sebanyak 3 butir," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Yusri Yunus, di Mako Polres Pelabuhan Tanjung Priok, Jalan Pelabuhan Nusantara II, Jakarta Utara, Senin (8/2/2021).


Ekstasi atau methylenedioxymethamphetamine (MDMA) merupakan salah satu jenis narkoba yang memiliki bentuk tablet berwarna-warni dengan logo bermacam-macam.


"Kebanyakan tablet makenya ditelan, biasa digigit-gigit dulu sih. Ada juga yang serbuk, tapi banyakan mah tablet. Orang biasa pake sedikit-sedikit dulu misal 1/4 tablet dulu atau 1/2 tablet, tapi buat yang udah biasa sekali neken (nelen) ada yang sampai 2 tablet," kata dr Hari Nugroho peneliti dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN) beberapa waktu lalu.


Efek yang bisa dirasakan langsung ketika mengonsumsi ekstasi adalah perubahan suasana hati menjadi bahagia dan berenergi. Namun, efek tersebut hanya bersifat semu.


Pasalnya, ketika efeknya berakhir, ekstasi bisa menyebabkan berbagai efek samping yang berbahaya.


Efek ekstasi jangka pendek

Efek ekstasi biasanya bisa dirasakan 20 menit hingga satu jam setelah pemakaian dan bertahan hingga sekitar 6 jam. Pengaruhnya dapat hilang dalam satu sampai dua hari atau seminggu tergantung kondisi tubuh dan dosis pemakaian.


Berikut sederet efek jangka pendek mengonsumsi ekstasi, seperti dikutip dari Drug Free World.


Penglihatan kabur

Mual

Menggigil

Sakit kepala

Otot menegang

Cemas

Mudah tersinggung

Gangguan tidur.

Efek ekstasi jangka panjang

Dalam penggunaan jangka panjang, ekstasi dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti sebagai berikut.


Kerusakan jangka panjang pada otak yang mempengaruhi pikiran dan memoriDepresi

Gagal ginjal

Pendarahan

Psikosis (gangguan jiwa)

Kejang-kejang

Kematian.

https://tendabiru21.net/movies/the-lake-vampire/


Pasien COVID-19 Dipenjara Gegara Nekat Kabur dari RS, Ini Cerita di Baliknya


Aksi nekat seorang pria berujung fatal. Pasien Corona ini kabur dari rumah sakit saat menjalani isolasi dan terpaksa dikenakan hukuman.

Pria berusia 63 tahun dijatuhi hukuman penjara selama enam bulan. Ia disebut-sebut kabur karena takut jarum suntik.


Adalah Li Wan Keung, pria asal Hong Kong yang akhirnya meminta hakim untuk mengubah keputusan dirinya harus dipenjara. Ia memohon untuk dikenakan sanksi denda saja.


Namun, hakim menolak permintaannya lantaran Li dinilai membahayakan nyawa orang banyak hingga mengabaikan keselamatan orang lain. Li berhasil kabur dan butuh waktu hingga 54 jam lamanya sampai berhasil ditemukan.


Belum ada laporan kasus COVID-19 yang dicatat usai contact tracing dijalankan. Li diketahui meninggalkan RS pada Desember lalu.


"Kasus positif awal yang ditemukan di Yau Ma Tei sebenarnya adalah pasien COVID-19 yang sudah pulih," jelas Direktur Penyakit Menular Pusat Perlindungan Kesehatan Dr Chuang Shuk-kwan mengonfirmasi pada hari Jumat.


Hingga akhirnya Li dikembalikan lagi ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Hasil tes Li menunjukkan dirinya memiliki antibodi pada COVID-19.


Berdasarkan laporan Worldometers, total ada lebih dari 10 ribu kasus yang dicatat di Hong Kong dengan total kematian 186 kasus. Hong Kong diketahui cukup ketat dalam menjalani pencegahan kasus COVID-19 semakin meluas.

https://tendabiru21.net/movies/lake-of-dracula/

Sabtu, 06 Februari 2021

Kata Pakar soal 'Lockdown Akhir Pekan': Memangnya Virus Tidur di Hari Kerja?

 Opsi kebijakan 'lockdown akhir pekan' belakangan ramai jadi sorotan dan menuai pro kontra. Pakar kesehatan masyarakat dan ahli epidemiologi Universitas Airlangga (Unair) Windhu Purnomo menanggapi kebijakan ini tak akan efektif.

"Apalagi itu lockdown akhir pekan, mainan saja, kalau memang betul-betul mau dibatasi ya batasi minimal dua minggu," tegas Windhu saat dihubungi detikcom.


Pasalnya, menurut Windhu mobilitas perlu dibatasi dalam dua pekan untuk benar-benar melihat efek pada tren kasus COVID-19 yang sedang meningkat. Jika hanya dilakukan di akhir pekan, ia mempertanyakan peningkatan mobilitas di hari biasa yang bisa terus mencatatkan penambahan kasus COVID-19.


"Kalau belum berhasil tambah dua minggu lagi, bukan kemudian akhir pekan, apa itu, efeknya itu apa kalau lockdown akhir pekan, tapi di luar akhir pekan itu orang bergerak," bebernya.


"Ini kan main-mainan saja, sepertinya seakan-akan virus itu bergeraknya di akhir pekan sehingga dikasih lockdown, kalau di hari kerja virusnya tidur jadi tidak dilockdown, kan itu," tanyanya.


Begitu pula dengan pembatasan jam malam di kebijakan PPKM, Windhu menilai hal ini malah membuat mobilitas tetap meningkat sebelum sampai batas jam malam. Opsi kebijakan yang mencuat belakangan dianggapnya tidak serius dalam penanganan pandemi COVID-19.


"Misalnya nih jam malam, seakan-akan virus itu bergeraknya malam hari, di jam malam, sudah siang virusnya tidur, jadi boleh pergi asal tidak lebih dari jam 7 malam karena mungkin jam 7 malam dianggap virusnya baru bangun, gitu, itu lucu kita ini aneh-aneh," kata Windhu.


"Sebetulnya kita ini mau pandemi ini berakhir atau tidak, itu saya nggak ngerti, terus terang saja saya bingung dengan semua kebijakan yang aneh-aneh," pungkasnya.

https://indomovie28.net/movies/sacrifice-7/


DKI Jakarta Lockdown Total 12-15 Februari Dipastikan Hoax, Ini Faktanya


Belakangan heboh disinformasi soal lockdown yang akan diterapkan di DKI Jakarta mulai 12 hingga 15 Februari. Pada tanggal tersebut, warga diminta tak keluar rumah dan menutup seluruh pertokoan.

Sementara mereka yang kedapatan melanggar, langsung ditangkap, diswab, hingga dikenakan denda. Faktanya, Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza menjelaskan Jakarta tak bisa menerapkan lockdown akhir pekan karena Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) masih berlaku.


Begitu pula dengan keterangan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan baru-baru ini. Ia memastikan tak ada opsi pemberlakuan kebijakan lockdown.


"Tidak ada rencana lockdown di akhir pekan di DKI Jakarta. Mari jaga diri, jaga lingkungan kita, insyaallah kita semua selalu dilindungi," ujar Anies dalam siaran di YouTube Pemprov DKI Jumat (5/2/2021).


Kementerian Kesehatan RI juga ikut menanggapi viral hoax lockdown total di pesan berantai WhatsApp. Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kementerian Kesehatan, pemerintah hingga saat ini tidak berencana menerapkan kebijakan lockdown.


"Pemerintah belum mengeluarkan kebijakan lockdown total baik di Jakarta maupun daerah lainnya. Kami meminta masyarakat agar menghentikan pesan hoax tersebut," kata Nadia dalam konferensi pers daring yang diadakan Kemenkes, Jumat (5/2/2021).

https://indomovie28.net/movies/sacrifice-6/