Selasa, 02 Maret 2021

Kenapa Banyak Orang Lebih Memilih Pengobatan Sendiri?

  Jumlah masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan karena keterbatasan layanan disebut tak kunjung menurun. Namun kini seiring pandemi, jumlah akses masyarakat justru makin menurun karena takut akan risiko tertular COVID-19 di rumah sakit atau puskesmas.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih, SH. MH menjelaskan bahwa menurut data, jumlah masyarakat berobat di fasilitas layanan kesehatan yang tersedia memang berkurang.


Akan tetapi, hal tersebut bukan disebabkan tingkat kesehatan yang membaik, melainkan semakin banyak masyarakat yang memutuskan untuk 'berobat sendiri' di rumah. Menurutnya, hal ini disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan kesehatan.


"Dari Sabang sampai Merauke, masih ada kesulitan akses (pelayanan kesehatan). Ada data, saya juga kaget, bahwa pemilihan layanan kesehatan oleh masyarakat Indonesia masih banyak yang pilihannya melakukan pengobatan sendiri. Akses terhadap layanan kesehatan (menurun) di samping disparitas, ternyata pilihan layanan kesehatan masih sangat rendah," terangnya dalam diskusi online, Senin (1/3/2021).


Menurutnya, jelas peningkatan layanan kesehatan adalah solusi utama. Melihat sulitnya akses ke layanan kesehatan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota, akses layanan kesehatan perlu diperbaharui agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.


Teknologi sebenarnya mampu mengatasi masalah tersebut. Namun persoalannya, belum semua dokter memahami fungsi dan urgensi layanan kesehatan online.


"Konsultasi dan bertanya pada dokter seputar masalah kesehatan. Sekarang mulai terbiasa. Masih ada dokter yang secara teknologi belum tersentuh. Tapi alhamdulillah sekarang mulai banyak," imbuh dr Daeng.

https://indomovie28.net/movies/the-bodyguard-2/


Kilas Balik Setahun Corona: Cerita Masker Langka, Harganya Sampai Jutaan


Pada 2 Maret 2020, tepat setahun lalu, presiden Jokowi resmi mengumumkan pasien positif COVID-19 pertama di Indonesia. Baik masyarakat di Indonesia maupun dunia saat itu, belum benar-benar siap mengalami virus corona.

Tak lama dari munculnya kasus positif di Indonesia, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pengumuman itu diungkap Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus Kepala World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020.


Ketidaksiapan menghadapi pandemi ini ditandai dengan berbagai kabar yang simpang siur, khususnya mengenai penggunaan masker.


Masker pada saat itu menjadi perbincangan yang pelik, apakah perlu digunakan atau tidak? Sempat dianjurkan tak pakai masker, begini kilas balik penggunaan masker.


Masker awalnya untuk pasien sakit

Di awal pandemi COVID-19 masuk Indonesia, hingga kasus pertama diumumkan, penggunaan masker selain oleh pasien dan tenaga kesehatan memang tidak disarankan.


Kebijakan ini mengikuti saran WHO yang memang memprioritaskan penggunaan masker bagi yang berisiko.


"Karena itu saya menekankan dari WHO mengatakan yang pakai (masker) itu yang sakit, yang kedua yang bekerja di tempat risiko tinggi RS dengan penyakit infeksi, di ICU pun kalau bukan penyakit menular nggak pakai mereka. Sama saja mereka hanya cuci tangan, atau di kamar operasi. Jadi semua di tempat-tempat yang berisiko pakai masker," sebut Menteri Kesehatan saat itu, Terawan Agus Putranto, Senin (17/2/2020).


"Yang tidak berisiko, masyarakat sehat tidak perlu pakai masker," tegasnya saat itu.

https://indomovie28.net/movies/saints-and-soldiers-airborne-creed/

Sudah Setahun COVID-19 di Indonesia, Waspadai 9 Titik Lengah Penularan

  Setahun sejak kasus pertama virus Corona COVID-19 ditemukan di Indonesia, penularannya masih sulit dikendalikan. Ada beberapa titik lengah yang menjadi celah penularan.

Vaksinasi COVID-19 yang tengah diupayakan adalah untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Akan tetapi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut, langkah pertama untuk mencegah penularan COVID-19 bukanlah vaksinasi, melainkan 5M.


Ketua Dewan Pakar PB IDI Prof Dr dr Menaldi Rasmin, SpP(K) menyebut, vaksinasi adalah 'langkah etis' dalam penanganan pandemi COVID-19.


"Vaksinasi adalah cara paling etis untuk mendapatkan kekebalan masyarakat. Kalau cara nggak etis, biarin saja. Siapa yang tahan, tahan. Nggak tahan, ya nggak tahan," ujarnya dalam jumpa pers virtual oleh Tim Mitigasi IDI, Senin (1/3/2021).


Ia sebutkan, bukan vaksin yang paling diperlukan untuk mengatasi pandemi. Jika tujuannya adalah herd immunity, hal tersebut baru tercapai jika vaksinasi sudah dilakukan ke 70 persen masyarakat Indonesia.


"Kok lama? Sebetulnya kalau orang sudah mulai dengan pencegahan dengan 5M, ketakutan seperti itu (vaksinasi lama) tidak perlu, karena vaksinasi adalah pencegahan tahap kedua," imbuhnya.


Sebelum vaksinasi, langkah pertama yang diperlu diupayakan adalah 5M mencakup:


memakai masker

mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir

menjaga jarak

menjauhi kerumunan

membatasi mobilitas dan interaksi.

Selain itu, Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi, SpOT memaparkan 9 titik lengah yang kerap menjadi 'celah' penyebaran COVID-19 di luar kesadaran masyarakat:


Saat bersama keluarga karena anggota keluarga bisa menjadi sumber pajanan

Ketika makan bersama sejawat di tempat kerja dan acara tertentu

Saat melepas penat, mencopot masker tanpa menjaga jarak aman

Rapat bersama teman sejawat karena tidak bisa menjamin orang lain benar-benar sehat

Saat bekerja dalam tim, orang yang saling berhadapan belum tentu bebas dari pajanan

Saat tidak menjaga jarak fisik

Saat di rumah ibadah

Saat dalam komunitas olahraga

Saat menghadiri pesta

https://indomovie28.net/movies/merry-matrimony/


Kenapa Banyak Orang Lebih Memilih Pengobatan Sendiri?


 Jumlah masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan karena keterbatasan layanan disebut tak kunjung menurun. Namun kini seiring pandemi, jumlah akses masyarakat justru makin menurun karena takut akan risiko tertular COVID-19 di rumah sakit atau puskesmas.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih, SH. MH menjelaskan bahwa menurut data, jumlah masyarakat berobat di fasilitas layanan kesehatan yang tersedia memang berkurang.


Akan tetapi, hal tersebut bukan disebabkan tingkat kesehatan yang membaik, melainkan semakin banyak masyarakat yang memutuskan untuk 'berobat sendiri' di rumah. Menurutnya, hal ini disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan kesehatan.


"Dari Sabang sampai Merauke, masih ada kesulitan akses (pelayanan kesehatan). Ada data, saya juga kaget, bahwa pemilihan layanan kesehatan oleh masyarakat Indonesia masih banyak yang pilihannya melakukan pengobatan sendiri. Akses terhadap layanan kesehatan (menurun) di samping disparitas, ternyata pilihan layanan kesehatan masih sangat rendah," terangnya dalam diskusi online, Senin (1/3/2021).


Menurutnya, jelas peningkatan layanan kesehatan adalah solusi utama. Melihat sulitnya akses ke layanan kesehatan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota, akses layanan kesehatan perlu diperbaharui agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.


Teknologi sebenarnya mampu mengatasi masalah tersebut. Namun persoalannya, belum semua dokter memahami fungsi dan urgensi layanan kesehatan online.


"Konsultasi dan bertanya pada dokter seputar masalah kesehatan. Sekarang mulai terbiasa. Masih ada dokter yang secara teknologi belum tersentuh. Tapi alhamdulillah sekarang mulai banyak," imbuh dr Daeng.

https://indomovie28.net/movies/bridesmaids/