Jumlah masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan karena keterbatasan layanan disebut tak kunjung menurun. Namun kini seiring pandemi, jumlah akses masyarakat justru makin menurun karena takut akan risiko tertular COVID-19 di rumah sakit atau puskesmas.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih, SH. MH menjelaskan bahwa menurut data, jumlah masyarakat berobat di fasilitas layanan kesehatan yang tersedia memang berkurang.
Akan tetapi, hal tersebut bukan disebabkan tingkat kesehatan yang membaik, melainkan semakin banyak masyarakat yang memutuskan untuk 'berobat sendiri' di rumah. Menurutnya, hal ini disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan kesehatan.
"Dari Sabang sampai Merauke, masih ada kesulitan akses (pelayanan kesehatan). Ada data, saya juga kaget, bahwa pemilihan layanan kesehatan oleh masyarakat Indonesia masih banyak yang pilihannya melakukan pengobatan sendiri. Akses terhadap layanan kesehatan (menurun) di samping disparitas, ternyata pilihan layanan kesehatan masih sangat rendah," terangnya dalam diskusi online, Senin (1/3/2021).
Menurutnya, jelas peningkatan layanan kesehatan adalah solusi utama. Melihat sulitnya akses ke layanan kesehatan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota, akses layanan kesehatan perlu diperbaharui agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
Teknologi sebenarnya mampu mengatasi masalah tersebut. Namun persoalannya, belum semua dokter memahami fungsi dan urgensi layanan kesehatan online.
"Konsultasi dan bertanya pada dokter seputar masalah kesehatan. Sekarang mulai terbiasa. Masih ada dokter yang secara teknologi belum tersentuh. Tapi alhamdulillah sekarang mulai banyak," imbuh dr Daeng.
https://indomovie28.net/movies/the-bodyguard-2/
Kilas Balik Setahun Corona: Cerita Masker Langka, Harganya Sampai Jutaan
Pada 2 Maret 2020, tepat setahun lalu, presiden Jokowi resmi mengumumkan pasien positif COVID-19 pertama di Indonesia. Baik masyarakat di Indonesia maupun dunia saat itu, belum benar-benar siap mengalami virus corona.
Tak lama dari munculnya kasus positif di Indonesia, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemi. Pengumuman itu diungkap Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus Kepala World Health Organization (WHO) pada 11 Maret 2020.
Ketidaksiapan menghadapi pandemi ini ditandai dengan berbagai kabar yang simpang siur, khususnya mengenai penggunaan masker.
Masker pada saat itu menjadi perbincangan yang pelik, apakah perlu digunakan atau tidak? Sempat dianjurkan tak pakai masker, begini kilas balik penggunaan masker.
Masker awalnya untuk pasien sakit
Di awal pandemi COVID-19 masuk Indonesia, hingga kasus pertama diumumkan, penggunaan masker selain oleh pasien dan tenaga kesehatan memang tidak disarankan.
Kebijakan ini mengikuti saran WHO yang memang memprioritaskan penggunaan masker bagi yang berisiko.
"Karena itu saya menekankan dari WHO mengatakan yang pakai (masker) itu yang sakit, yang kedua yang bekerja di tempat risiko tinggi RS dengan penyakit infeksi, di ICU pun kalau bukan penyakit menular nggak pakai mereka. Sama saja mereka hanya cuci tangan, atau di kamar operasi. Jadi semua di tempat-tempat yang berisiko pakai masker," sebut Menteri Kesehatan saat itu, Terawan Agus Putranto, Senin (17/2/2020).
"Yang tidak berisiko, masyarakat sehat tidak perlu pakai masker," tegasnya saat itu.
https://indomovie28.net/movies/saints-and-soldiers-airborne-creed/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar