Setahun sejak kasus pertama virus Corona COVID-19 ditemukan di Indonesia, penularannya masih sulit dikendalikan. Ada beberapa titik lengah yang menjadi celah penularan.
Vaksinasi COVID-19 yang tengah diupayakan adalah untuk membentuk kekebalan kelompok atau herd immunity. Akan tetapi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menyebut, langkah pertama untuk mencegah penularan COVID-19 bukanlah vaksinasi, melainkan 5M.
Ketua Dewan Pakar PB IDI Prof Dr dr Menaldi Rasmin, SpP(K) menyebut, vaksinasi adalah 'langkah etis' dalam penanganan pandemi COVID-19.
"Vaksinasi adalah cara paling etis untuk mendapatkan kekebalan masyarakat. Kalau cara nggak etis, biarin saja. Siapa yang tahan, tahan. Nggak tahan, ya nggak tahan," ujarnya dalam jumpa pers virtual oleh Tim Mitigasi IDI, Senin (1/3/2021).
Ia sebutkan, bukan vaksin yang paling diperlukan untuk mengatasi pandemi. Jika tujuannya adalah herd immunity, hal tersebut baru tercapai jika vaksinasi sudah dilakukan ke 70 persen masyarakat Indonesia.
"Kok lama? Sebetulnya kalau orang sudah mulai dengan pencegahan dengan 5M, ketakutan seperti itu (vaksinasi lama) tidak perlu, karena vaksinasi adalah pencegahan tahap kedua," imbuhnya.
Sebelum vaksinasi, langkah pertama yang diperlu diupayakan adalah 5M mencakup:
memakai masker
mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir
menjaga jarak
menjauhi kerumunan
membatasi mobilitas dan interaksi.
Selain itu, Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi, SpOT memaparkan 9 titik lengah yang kerap menjadi 'celah' penyebaran COVID-19 di luar kesadaran masyarakat:
Saat bersama keluarga karena anggota keluarga bisa menjadi sumber pajanan
Ketika makan bersama sejawat di tempat kerja dan acara tertentu
Saat melepas penat, mencopot masker tanpa menjaga jarak aman
Rapat bersama teman sejawat karena tidak bisa menjamin orang lain benar-benar sehat
Saat bekerja dalam tim, orang yang saling berhadapan belum tentu bebas dari pajanan
Saat tidak menjaga jarak fisik
Saat di rumah ibadah
Saat dalam komunitas olahraga
Saat menghadiri pesta
https://indomovie28.net/movies/merry-matrimony/
Kenapa Banyak Orang Lebih Memilih Pengobatan Sendiri?
Jumlah masyarakat yang sulit mengakses fasilitas kesehatan karena keterbatasan layanan disebut tak kunjung menurun. Namun kini seiring pandemi, jumlah akses masyarakat justru makin menurun karena takut akan risiko tertular COVID-19 di rumah sakit atau puskesmas.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Daeng M Faqih, SH. MH menjelaskan bahwa menurut data, jumlah masyarakat berobat di fasilitas layanan kesehatan yang tersedia memang berkurang.
Akan tetapi, hal tersebut bukan disebabkan tingkat kesehatan yang membaik, melainkan semakin banyak masyarakat yang memutuskan untuk 'berobat sendiri' di rumah. Menurutnya, hal ini disebabkan rendahnya kesadaran masyarakat tentang pentingnya layanan kesehatan.
"Dari Sabang sampai Merauke, masih ada kesulitan akses (pelayanan kesehatan). Ada data, saya juga kaget, bahwa pemilihan layanan kesehatan oleh masyarakat Indonesia masih banyak yang pilihannya melakukan pengobatan sendiri. Akses terhadap layanan kesehatan (menurun) di samping disparitas, ternyata pilihan layanan kesehatan masih sangat rendah," terangnya dalam diskusi online, Senin (1/3/2021).
Menurutnya, jelas peningkatan layanan kesehatan adalah solusi utama. Melihat sulitnya akses ke layanan kesehatan di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota, akses layanan kesehatan perlu diperbaharui agar lebih mudah dijangkau oleh masyarakat.
Teknologi sebenarnya mampu mengatasi masalah tersebut. Namun persoalannya, belum semua dokter memahami fungsi dan urgensi layanan kesehatan online.
"Konsultasi dan bertanya pada dokter seputar masalah kesehatan. Sekarang mulai terbiasa. Masih ada dokter yang secara teknologi belum tersentuh. Tapi alhamdulillah sekarang mulai banyak," imbuh dr Daeng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar