Studi baru-baru ini mengungkap golongan darah mana yang risikonya paling tinggi terkena COVID-19 dan mana yang paling rendah. Dikatakan pemilik golongan darah O adalah mereka yang berisiko rendah terinfeksi parah Sars-CoV-2, sementara golongan darah A merupakan yang paling berisiko.
Meski begitu, temuan ini banyak dikritisi ilmuwan lain sebagaimana dilansir NBC News, Kamis (9/7/2020).
"Saya pikir sesuatu seperti ini memiliki lebih banyak daya tarik ketimbang nilai praktis yang nyata," kata Dr Aaron Glatt, Chair of Medicine and Chief of Infectious Diseases di Mount Sinai South Nassau, New York.
Setiap kemungkinan pengaruh golongan darah pada COVID-19 juga disebut-sebut terlalu kecil dibandingkan dengan dampak substansial dari faktor-faktor risiko yang diketahui, seperti usia tua dan kondisi kesehatan yang mendasar. Demikian dijelaskan oleh Glatt yang adalah juru bicara Infectious Diseases Society of America.
"Pada setiap pasien, jika mereka memiliki faktor risiko atau mereka tidak memiliki faktor risiko, itu jauh lebih penting," tuturnya. Dengan kata lain, orang tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa mereka lebih aman atau tidak karena golongan darahnya.
Nah studi yang disebut-sebut dari tadi ialah studi di Eropa yang diterbitkan bulan lalu di New England Journal of Medicine. Mereka menemukan bahwa orang dengan darah tipe A 45% lebih mungkin untuk mengembangkan COVID-19 parah yang membutuhkan pasokan oksigen atau ventilator daripada orang dengan golongan darah lain.
Disebutkan juga, mereka yang memiliki darah tipe O 35% lebih kecil kemungkinannya. Studi ini melibatkan 1.610 pasien dengan COVID-19 dan 2.205 subyek kontrol. Namun penelitian ini juga mengatakan ada kemungkinan orang-orang dengan goldar O mengalami sakit parah.
"Mereka memiliki risiko yang lebih rendah untuk terinfeksi dan mengembangkan penyakit parah. Tapi ini hanya pengurangan risiko relatif, yaitu tidak ada perlindungan penuh. Di antara pasien kami yang meninggal ada juga banyak dengan golongan darah O," jelas penulis studi Andre Franke, seorang profesor kedokteran molekuler di University of Kiel, Jerman, dalam sebuah email.
Nenek Moyang Dinosaurus yang Mungil Ditemukan di Madagaskar
Mendengar kata dinosaurus yang terbersit di pikiran adalah hewan yang besar dan mengerikan. Tapi siapa sangka pendahulu mereka ada juga yang berukuran mungil dan imut-imut.
Nenek moyang dinosaurus tersebut bernama Kongonaphon kely yang memiliki panjang 40 cm dan tinggi 10 cm. Dalam posisi berdiri, Kongonaphon mungkin terlihat lebih kecil dari ponsel yang beredar saat ini.
Dikutip detikINET dari The Guardian, Kamis (9/7/2020) hewan ini merupakan reptil kecil pemakan serangga yang hidup Madagaskar di zaman Triassic sekitar 237 juta tahun yang lalu. Kongonaphon merupakan predator dengan kaki panjang yang berjalan dengan dua kaki.
Dari bentuk giginya yang kecil, mengerucut dan tidak bergerigi, Kongonaphon sepertinya memakan serangga atau binatang invertebrata berukuran kecil. Makanan utamanya ini yang menginspirasi namanya yang jika diartikan berarti pembantai serangga kecil.
Kongonaphon merupakan bagian dari grup bernama Ornithodira yang mencakup garis keturunan evolusi yang berujung pada kelahiran dinosaurus dan pterosaurus.
"Berdasarkan analisis statistik dari ukuran tubuh, kami berargumen bahwa dinosaurus dan pterosaurus berevolusi dari nenek moyang berukuran miniatur," kata ahli paleontologi dari Museum of Natural Sciences Christian Kammerer.
"Evolusi gigantisme dari nenek moyang berukuran kecil tidak jarang dalam sejarah fosil," tambah ahli paleontologi dari American Museum of Natural History John Flynn.
Dinosaurus dan pterosaurus pertama kali muncul sekitar 230 juta tahun yang lalu. Dinosarus generasi awal adalah Herrerasaurus yang berukuran 6 meter, sedangkan pterosaurus generasi awal adalah Eudimorphodon yang seukuran burung merpati.
https://indomovie28.net/astro-boy-tetsuwan-atom-episode-32/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar