Ada berkah di balik pandemi COVID-19, salah satunya adalah aplikasi Canva yang sukses besar dan semakin populer penggunaannya. Hasilnya pendiri dan juga CEO Melanie Perkins telah dinobatkan sebagai wanita terkaya ranking tiga di Australia.
Tak hanya itu, Perkins juga jadi miliarder (dalam dolar AS) termuda di Negeri Kanguru. Startup Canva yang ia kendalikan saat ini bernilai USD 8,77 miliar usai mendapatkan pendanaan terkini senilai USD 87 juta dari beberapa investor termasuk Blackbird Ventures dan Sequoia Capital.
Pada bulan Oktober 2019, kekayaan Perkins diestimasi USD 1,3 miliar. Nah saat ini, hartanya diestimasi melonjak sampai USD 2,5 miliar atau di kisaran Rp 35 triliun.
Dihimpun detikINET dari berbagai sumber, Sabtu (6/3/2021) Perkins memulai Canva pada tahun 2013 dengan misi membuat platform desain tersedia bagi semua. Baik itu desain kartu nama, presentasi ataupun logo. Ia mendirikannya bersama sang tunangan, Cliff Obrecht.
Perkins masih remaja 19 tahun ketika ide platform desain terbersit di benaknya, kala ia dan Cliff mahasiswa di Perth. Waktu itu, ia merasa program desain dari Microsoft atau Adobe susah digunakan.
"Orang harus menghabiskan seluruh semester mempelajari di mana tombol-tombolnya dan hal itu rasanya sungguh konyol," kata Perkins, dikutip detikINET dari CNBC.
"Saya pikir di masa depan, semua itu akan menjadi online dan kolaboratif serta jauh lebih sederhana ketimbang tool yang berat itu," tambah dia.
Tahun 2010, Perkins diundang ke San Francisco oleh investor Bill Tai untuk mempresentasikan idenya tentang Canva. Bill puas dan menghubungkannya dengan beberapa orang penting.
Pasangan muda itu berhasil memukau investor dengan ide Canva dan sudah punya tim sendiri. Tahun 2012, jajaran pimpinan ditambah oleh satu co founder lain, Cameron Adams.
Pada pendanaan tahap perdana, perusahaan menerima USD 1,5 juta. Pada tahun 2013, meluncurlah Canva untuk publik. Seiring berjalannya waktu, Canva berhasil menarik minat banyak pengguna karena mudah dipakai dan berkualitas, sampai sekarang.
Apakah detikers juga pengguna Canva?
https://trimay98.com/movies/paris-holiday/
Gaya hidup halal
Gaya hidup halal atau yang sering disebut halal lifestyle saat ini tengah menjadi tren global, termasuk di Indonesia. Hal tersebut semakin membuka peluang pengembangan industri halal di Indonesia, termasuk marketplace halal.
Chief Technology Officer Halalpedia, Muhammad Aditia Rahman mengatakan sebagai negara dengan populasi umat muslim terbanyak di dunia, Indonesia punya potensi menjadi pusat industri halal dunia. Terlebih mengingat semakin banyaknya merek lokal yang berfokus pada penyediaan produk-produk halal bagi masyarakat.
"Dengan meramaikan pasar halal dan menjadikan Indonesia sebagai kiblat pusat perkembangan halal lifestyle, maka hal ini dapat membangkitkan perekonomian dan Industri halal di Indonesia. Hal ini didukung dengan banyaknya brand lokal yang memang fokus untuk menghasilkan produk-produk yang dapat diterima oleh pasar halal," ujar Adit saat menghadiri acara peluncuran Halalpedia di Jakarta, Sabtu (6/3/2021).
Melihat peluang tersebut Adit menjelaskan, Halalpedia hadir sebagai marketplace yang bisa menjadi wadah bagi para pelaku UMKM industri halal dalam menjalankan bisnisnya. Selain itu, Halalpedia juga menjadi sarana untuk mempermudah masyarakat mencari dan memenuhi beragam kebutuhan akan produk halal secara tenang, aman, dan nyaman.
"Halalpedia hadir sebagai solusi untuk mendorong industri halal di Indonesia agar berkembang pesat, dengan memberikan rasa tenang kepada konsumen melalui sebuah platform digital yang akan menjadi jendela baru bagi para pelaku industri halal untuk dapat menjalankan kegiatan perekonomian dalam berbelanja dan berbisnis dengan rasa tenang, aman, dan nyaman," jelasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar