Studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari Johns Hopkins University dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menemukan obesitas sebagai faktor pendorong terbesar kematian karena COVID-19. Tingkat kematian COVID-19 disebut bisa 10 kali lebih tinggi di negara yang sekitar 50 persen populasinya obesitas.
Laporan studi yang melihat hubungan 'dramatis' ini lebih lanjut menemukan sekitar 90 persen atau 2,2 juta dari 2,5 juta kematian COVID-19 dunia terjadi di negara dengan tingkat obesitas tertinggi.
Amerika Serikat (AS) dan Inggris jadi contoh negara dengan masalah obesitas yang melaporkan banyak kematian COVID-19. Inggris disebut studi memiliki 184 kematian COVID-19 per 100 ribu penduduk dan 63,7 persen populasinya obesitas, sementara AS memiliki 152,49 kematian COVID-19 per 100 ribu penduduk dan 67,9 persen populasinya obesitas.
"Lihat Jepang dan Korea Selatan, mereka memiliki tingkat kematian COVID-19 yang rendah, begitu juga dengan obesitasnya," kata salah satu peneliti, Profesor Tim Lobstein, seperti dikutip dari Reuters pada Jumat (5/3/2021).
Presiden World Obesity Federation, John Wilding, berkomentar kemungkinan para penyandang lansia bisa dianggap sebagai kelompok yang mendapat prioritas mendapat vaksin COVID-19. Tujuannya untuk bisa segera mengurangi kasus-kasus kematian.
"Sangat penting agar kita mengenali bahwa obesitas... meningkatkan risiko," ungkap John.
https://kamumovie28.com/movies/underwater/
Fakta-fakta B.1.1.317, Varian Terbaru Corona Rusia yang Gemparkan Australia
Berbagai varian baru virus Corona bermunculan. Terbaru, Australia melaporkan temuan kasus terkait varian terbaru asal Rusia, B.1.1.317.
Sedikitnya ada dua kasus yang dilaporkan terkait varian tersebut. Keduanya ditemukan di Queensland, di sebuah hotel yang menjadi tempat karantina warga Australia yang baru pulang dari luar negeri.
Apa itu varian Rusia?
Dikutip dari ABC.net.au, saat ini belum banyak yang diketahui tentang varian baru ini. Namun diketahui, varian ini bersirkulasi di Inggris, Thailand, dan Swiss sejak awal Desember tahun lalu.
Nama resminya adalah B.1.1.317.
Kenapa disebut varian Rusia?
Prof Peter Collignon dari ANU Medical School menjelaskan, nama varian baru biasanya diambil dari wilayah tempat varian tersebut pertama kali ditemukan. Sementara itu Dr Kirsty Short dari University of Queensland mengatakan, varian Rusia yang ditemukan pertama di Rusia belum tentu muncul pertama kali di wilayah tersebut.
Apakah lebih menular?
Profesor kesehatan masyarakat dari Queensland University of Technology (QUT), Gerry Fitzgerald, menjelaskan bahwa varian baru umumnya memang lebih menular. Namun tidak serta merta bisa diartikan lebih berbahaya.
Vaksin masih manjur?
Belum bisa dipastikan karena belum banyak yang diketahui tentang varian baru ini. Namun menurut Prof Fitzgerald, bukti-bukti yang ada saat ini menunjukkan vaksin masih bekerja. Tapi tetap harus wait and see.
"Sampai kita menemukan varian yang tidak merespons vaksin, itu baru jadi masalah," katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar