Beberapa orang yang terinfeksi COVID-19 mungkin hanya mengeluhkan gejala Corona ringan, tetapi tak sedikit di antaranya yang berakhir fatal. Kebanyakan dari mereka yang meninggal karena Corona memiliki komorbid hingga usia lanjut.
Ketua Bidang Data Dan Teknologi Informasi Satgas Covid-19 dr Dewi Nur Aisyah juga mengungkap dari data statistik, laki-laki ternyata 1,4 kali lebih berisiko meninggal karena COVID-19 dibandingkan perempuan.
dr Dewi mewanti-wanti seseorang yang memiliki penyakit komorbid. Pasalnya, satu penyakit komorbid saja sudah meningkatkan risiko meninggal 6,5 kali lebih tinggi dibanding mereka yang sehat saat terpapar Corona.
Risiko meninggal karena Corona akan terus meningkat saat memiliki dua atau lebih banyak lagi komorbid, penyakit penyerta.
"Mempunyai dua komorbid misalnya diabetes, ada hipertensi, resiko kematiannya naik menjadi 15 kali lipat. Ketika punya lebih sama dari tiga, ini kan terutama biasanya dialami pada orang-orang usia lanjut, risiko kematiannya naik sampai 29 kali," ungkap dr Dewi dalam konferensi pers BNPB Rabu (10/3/2021).
Lebih detail, berikut kriteria orang yang berisiko fatal karena COVID-19.
Usia
31-45 tahun: 2,4 kali lipat
36-59 tahun: 8,5 kali lipat
60 tahun ke atas: 19,5 kali lipat
Penyakit
Penyakit ginjal: 13,7 kali lipat
Penyakit jantung: 9 kali lipat
Diabetes melitus: 8,3 kali
Hipertensi: 6 kali lipat
Kanker: 5,9 kali lipat
Penyakit hati: 4,8 kali lipat
Penyakit paru obstruktif kronis (PPOK): 4 kali lipat
Gangguan napas lain: 3,5 kali lipat
TBC: 3,3 kali lipat
https://cinemamovie28.com/movies/matthias-maxime/
Metabolisme Tiap Orang Berbeda, Hati-hati Meniru Diet Para Seleb!
Baru-baru ini, ramai buku diet yang berisi perjalanan diet selebriti Tya Ariestya yang menjadi sorotan. Hal itu disebabkan oleh Tya yang mengaku sukses menurunkan berat badan hingga 25 kilogram (kg) hanya dalam waktu empat bulan.
Dalam program dietnya tersebut, Tya turut mengatakan bahwa ia menjalani dietnya dengan metode tertentu, salah satunya yang sukses mencuri perhatian para netizen dan ahli gizi adalah lantaran ia menghindari konsumsi sayur-sayuran.
Padahal, mengikuti diet orang lain tanpa mengetahui kebutuhan tubuh sendiri justru malah dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Sebab, menurut dokter gizi klinis dr Diana F Suganda, M.Kes, SpGK, pengaturan pola makan setiap orang akan berbeda-beda.
"Sebenernya diet atau pengaturan pola makan itu bener-bener customized. Mau kembar pun orangnya itu nggak akan sama. Karena kan tergantung kebutuhan masing-masing, ya. Kita gak bisa menyamaratakan, diet si A, si B, si C, nggak bisa sama. Jadi, bener-bener per orang itu akan berbeda," kata dokter Diana dalam program e-Life detikcom.
Dijelaskan oleh dokter Diana, pengaturan pola makan seseorang, mulai dari kebutuhan kalori hingga kebutuhan protein, harus disesuaikan dengan tinggi badan, usia, aktivitas fisik, penyakit yang mendasari. Sehingga, dapat dikatakan bahwa diet merupakan sesuatu yang personalized. Artinya, setiap orang memiliki pola yang berbeda-beda.
Oleh sebab itu, penting bagi orang-orang yang ingin diet untuk mengenali kondisi tubuhnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menjalani program diet. Pasalnya, efek diet akan berbeda-beda pada setiap orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar