Senin, 13 Januari 2020

Cerita Kuatnya Gempa di Nusa Dua yang Terasa Sampai Denpasar

 Gempa dengan magnitudo 6 terjadi di Nusa Dua, Bali pagi ini. Getaran gempanya pun berasa kuat sampai ke Denpasar.

Gempa tersebut terjadi pukul 08.18 WITa. Lokasi gempa ada di koordinat 9,11 Lintang Selatan dan 114,54 Bujur Timur.

Pusat gempa ada di 83 km arah barat daya Nusa Dua. Episenter gempa ada di kedalaman 68 km. Gempa ini dilaporkan tak berpotensi tsunami.

Citra Rinjani, wanita yang tinggal di kawasan Pemogan, Denpasar bagian selatan sampai merasakan kuatnya gempa tersebut. Sampai-sampai kaca dan lemari bergetar.

"Durasinya sekitar 5 detik tapi terasa banget. Kaca tuh sampai bergetar dan bunyi 'drugg...drugg...drugg'," terangnya kepada detikcom, Selasa (16/7/2019).

"Pintu lemari juga goyang, benar-benar kuat getarannya dan bikin panik" lanjutnya.

Meski begitu, tidak ada bangunan retak atau rusak di sekitar Denpasar. Beberapa warga memang panik berlarian keluar rumah, tapi kemudian aktivitas berjalan normal.

Namun, wanita yang akrab disapa Arin itu menjelaskan, baru-baru ini juga terasa gempa di Bali. Sekitar Jumat (12/7) pekan lalu, dia merasakan gempa saat malam hari.

"Iya Jumat kemarin juga berasa gempa saat malam, sekitar 3 detik. Tapi saat itu, ada orang yang sadar gempa dan ada juga yang nggak sadar," terang Arin.

Arin pun terus meng-update informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dia pun mengikuti beberapa langkah-langkah yang dianjurkan, seperti menjauhi bangunan-bangunan yang retak.

"Katanya sih ada gempa susulan, tapi kita harus update terus juga. Selain itu juga ada arahan-arahan kan, misal menghindari bangunan yang retak dan sebagainya," tutupnya.

Balada Kota Thailand yang Tenggelam

Kota Sangkhaburi di Thailand dibagi oleh bendungan besar dan dihubungkan dengan jembatan kayu terpanjang kedua di dunia. Inilah balada kota yang tenggelam.

Di sana dua suku yang sangat berbeda telah belajar untuk hidup berdampingan, seperti dilansir BBC, Selasa (16/7/2019). Kota Sangkhlaburi amat terpencil dan berlanskap perbukitan di Thailand Barat.

Bendungan PLTA pertama Thailand dibangun di sana, selesai pada tahun 1982 untuk memenuhi kebutuhan listrik dan irigasi di Provinsi Kanchanaburi.

Ketika bendungan selesai, terciptalah Waduk Be Khao Laem seluas 120.000 km2 yang merendam kota kecil di lembah Sangkhlaburi. Warga memindahkan rumah ke tempat yang lebih tinggi di seberang Desa Wang Ka yang ditinggali Suku Mon, perantau yang melarikan diri dari konflik di Myanmar.

Dua kota menjadi satu

Mereka yang pindah menamai pemukiman baru ini Sangkhlaburi. Kedua suku itu secara kolektif disebut Sangkhlaburi dan hidup di titik di mana Sungai Sangkalia mengalir ke bendungan.

Di satu sisi, penduduk berbicara Bahasa Mon, Karen dan Burma dengan jalan-jalan kecil kampungnya dilapisi bambu tradisional dan rumah-rumahnya pun adalah kayu. Di tepi sungai yang berlawanan didominasi oleh warga asli Thailand yang memiliki wisma dan hotel juga pertokoan.

Beberapa keluarga dari keduanya tinggal di rumah terapung dan mencari nafkah dengan memancing dan budidaya ikan. Seperti pengembara yang mengambang, mereka memindahkan rumah mereka di sekitar waduk saat permukaan air berubah sepanjang tahun.

Menyoal Jembatan Mon, seluruhnya dibangun pada tahun 1986 dengan tangan berbahan kayu jati untuk interaksi bagi kedua komunitas. Tetap tegak tanpa struktur pendukung tambahan, jembatan ini adalah jembatan kayu terpanjang di Thailand dan terpanjang kedua di dunia.

Inilah jalan penghubung antar para pedagang, anak sekolah dan wisatawan untuk menyeberang dari satu sisi kota ke sisi lainnya dengan berjalan kaki.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar