Ada kabar gembira bagi yang berencana menghabiskan akhir pekan di Festival Gondang Naposo. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) akan menghadirkan band Naff untuk menghibur wisatawan. Kehadiran band ini akan memberikan nuansa romantis lewat lagu-lagu bertemakan cinta. Festival Gondang Naposo akan digelar pada 31 Mei-1 Juni di Pantai Tandarabun, Samosir.
"Festival Gondang Naposo akan makin romantis dengan kehadiran Naff dan tentunya akan semakin membuat festival ini kaya warna. Pokoknya ini menjadi festival yang wajib dikunjungi oleh generasi milenial," ujar Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, Rizki Handayani, dalam keterangan tertulis Kamis (30/5/2019).
Naff banyak menelurkan lagu hits bertemakan cinta yang sesuai dengan Festival Gondang Naposo. Festival ini merupakan sebuah festival ajang mencari jodoh muda-mudi Samosir. Selain itu, salah satu lagu hits Naff yang berjudul 'Akhirnya Ku Menemukanmu' menjadi tema utama festival tahun ini.
"Festival ini merupakan salah satu keunikan tradisi yang masih terus dipertahankan di Samosir. Generasi muda di sana masih memegang teguh tradisinya. Ini menjadi sebuah atraksi wisata yang sangat bagus. Makanya Kemenpar pun aktif mendukungnya," jelasnya.
Selain Naff, Kemenpar turut menyiapkan ragam acara menarik lainnya. Mulai perlombaan, galeri kuliner rakyat, romatic dinner by order, mardemban booth, hingga jagung bakar party. "Pokoknya generasi milenial wajib datang. Dijamin menyesal kalau sampai tidak menghadiri Festival Gondang Naposo 2019," kata Rizki.
Sementara itu, Asdep Bidang Pengembangan Pemasaran I Regional I Kemenpar Dessy Ruhati mengatakan sudah sepatutnya kekayaan budaya seperti ini terus dipertahankan. Menurutnya, festival ini semakin memupuk kecintaan generasi muda terhadap budaya itu sendiri.
"Kalau Pak Menpar Arief Yahya bilang, budaya itu semakin dilestarikan semakin menyejahterakan karena memang laku dijual ke wisatawan mancanegara," ucapnya.
Menteri Pariwisata, Arief Yahya, turut menyambut baik digelarnya Festival Gondang Naposo. Baginya, festival ini semakin memperkaya atraksi wisata di Samosir. Ia pun tak pernah ragu soal destinasi serta seni budaya di Danau Toba, khususnya di Samosir. Begitu juga dengan aksebilitas serta amenitasnya yang sangat mumpuni.
"Sudah tidak perlu diragukan lagi. Silakan datang dan nikmati Danau Toba, mumpung ada event seru Festival Gondang Naposo. Dijamin liburan makin berwarna di sana," ujarnya.
Terpesona Keindahan Gurun Pasir Telaga Biru di Pulau Bintan
Pemandangan padang pasir ala Timur Tengah bisa ditemui di Pulau Bintan, Kepulauan Riau. Bedanya ada sebuah telaga yang punya warna kebiruan. Spot ini cocok jadi untuk menjadi objek berfoto-foto karena pemandangannya yang indah.
Peserta Familiarization Trip (Famtrip) asal China bahkan dibuat terpesona. Famtrip yang digelar Rabu (29/5/2019) ini diikuti delapan travel agent asal Negeri Tirai Bambu.
"Gurun Pasir Telaga Biru di Bintan sangat istimewa. Di sini kita bisa lihat danau dengan air berwana hijau. Bisa juga lihat panorama padang pasir yang keren, sangat mirip dengan Timur Tengah. Saya sangat suka," ujar travel agent Xiaoyao, Yao Bingliang.
Uniknya, wisatawan seakan-akan dibuat tak berada di Indonesia yang terkenal akan negara tropis. Di Gurun Pasir Telaga Biru, wisatawan dimanjakan hamparan pasir putih yang memanjakan mata. Begitu pula dengan telaga air berwarna biru bak oase.
Gurun Pasir Telaga Biru terletak Dusun Busung, Kecamatan Tanjung Uban, Kabupaten Bintan. Letaknya sekitar 45 menit perjalanan darat dari Bandara RHF Tanjung Pinang atau Pelabuhan Tanjung Pinang. Jika dari pelabuhan Tanjung Uban, hanya dibutuhkan waktu 15 menit.
"Sangat keren. Saya tidak menyangka jika gurun pasir ini sebelumnya adalah area penambangan pasir bauksit. Sekarang pasirnya sudah mengeras seperti karang. Ini jarang saya temui di tempat lain," kata travel agent Yangtzhe Holiday, Liu Chunyan.
Puluhan tahun hanya terbengkalai, cekungan-cekungan bekas galian terisi air hujan lama kelamaan berubah menjadi telaga air berwarna biru. Panoramanya tak kalah dari Ijen di Banyuwangi.
"Dulu di sini penambangan pasir yang diekspor ke Singapura. Sekitar tahun 1980-an dihentikan. Puluhan tahun dibiarkan tak terurus. Sekarang mulai dikelola jadi tempat wisata," jelas Asdep Pengembangan Pemasaran II Regional I Kemenpar, Vinsensius Jemadus.
Setelah dibuka untuk wisata, gurun ini ramai dikunjungi wisatawan. Sebagian besar wisatawan takjub dengan hamparan pasir seluas 6.000 hektare. Menariknya, wisatawan lokal tidak perlu membayar tiket masuk, tapi hanya dikenakan tarif parkir kendaraan Rp 2.000 untuk motor dan Rp 5.000 untuk mobil. Sementara untuk wisatawan mancanegara hanya dikenakan Rp 10.000 per orang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar