Kamis, 23 Januari 2020

Lebaran, Perantau Asal Banyuwangi Diajak Majukan Daerah

Lebaran nanti, putra daerah Banyuwangi yang sedang ada di perantauan (diaspora) akan berkumpul. Kegiatan tahunan yang telah dimulai sejak 2013 ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus bertukar pikiran untuk memajukan Banyuwangi. Rencananya, diaspora akan berkumpul di Pendopo Sabha Swagata, Blambangan, pada Sabtu (8/6/2019) pukul 08.00 WIB.

"Kegiatan ini biasanya dilakukan pada Lebaran ketiga. Namun tahun ini acara akan dilaksanakan pada tanggal 4 syawal, di mana tahun ini jatuh pada tanggal 8 Juni 2019," ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/6/2019).

Kegiatan yang digagas oleh Azwar Anas dan dilakukan oleh Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Banyuwangi ini akan mempertemukan masyarakat perantau asli Banyuwangi, baik di berbagai daerah di seluruh Indonesia maupun luar negeri.

"Mereka diundang melalui komunitas-komunitas masyarakat Banyuwangi luar daerah, seperti Ikawangi. Nantinya, tamu undangan disuguhi jajanan lebaran khas Banyuwangi dan makanan-makanan tradisional lain serta berbagai hiburan dari kesenian lokal," katanya.

Sementara itu, Kabid Pemasaran Area I Jawa Wawan Gunawan mengungkapkan diaspora juga dijadikan ajang untuk berdiskusi atau tukar pikiran tentang kemajuan daerah. Apalagi masyarakat perantau telah berada di daerah lain sehingga diyakini memiliki aspirasi membangun Banyuwangi agar lebih baik lagi.

"Melihat manfaat dan peminat yang begitu besar, bupati Banyuwangi sepakat untuk menjadikan diaspora sebagai salah satu event atau festival yang wajib dilakukan setiap tahun," ucap Wawan.

Pada kesempatan yang berbeda, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku tak pernah melewatkan satu kalipun acara yang telah digelar sejak 2013 ini. Baginya, acara ini adalah reuni akbar serta membangkitkan spirit memajukan Banyuwangi.

"People to people connection itu jauh lebih kuat dan dahsyat dibandingkan business relation. Silaturahmi diaspora setahun sekali dan bertepatan dengan momentum halal bi halal ini sarana yang baik untuk memperkuat jalinan hubungan personal atau people to people connection untuk memajukan daerah," katanya.

Jokowi Terapkan Open Sky, Ini Kata Perhimpunan Hotel & Restoran

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) mendukung kebijakan Presiden Joko Widodo yang akan menerapkan sistem open sky. Sistem ini adalah mengundang maskapai asing masuk ke Indonesia. Dengan demikian, semakin banyak maskapai, harga tiket pesawat akan semakin bersaing.

Ketua Umum PHRI Hariyadi Sukamdani menduga, tingginya harga tiket disebabkan kurangnya persaingan maskapai di Indonesia. Dirinya pun pernah mengusulkan kepada pemerintah untuk membuka kerja sama dengan maskapai asing agar melebarkan ekspansi ke Indonesia.

"Kami pernah mengusulkan ke pemerintah agar membuka pintu masuk regional airline ke Indonesia untuk menambah rute domestik. Bisa saja itu Jetstar, AirAsia dan lainnya. Jadi ini tentu saja kabar yang sangat menggembirakan," ujar Hariyadi dalam keterangan tertulis, Sabtu (1/6/2019).

Hariyadi mengatakan, hingga saat ini harga tiket pesawat masih terlalu mahal. Menurutnya, mahalnya tiket ini mempengaruhi pelaku usaha, terutama untuk jasa travel dan penginapan.

"Dengan tingginya harga tiket pesawat ini sudah tentu ada pengaruhnya buat industri perhotelan. Yang jelas menyebabkan okupansinya turun," kata Hariyadi.

Pria yang juga Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) ini mengatakan, dengan hanya dua raja maskapai penerbangan di Indonesia, kurang ada persaingan yang sehat. Dia juga mengeluhkan turunnya angka keterisian kamar setelah harga tiket pesawat naik.

Menurutnya, kondisi pasar duopoli memunculkan kerentanan persaingan harga yang tidak sehat dalam suatu industri. Sebab, ketika pemain A melakukan kenaikan harga, maka pemain B tidak serta merta akan mempertahankan harga.

"Justru, pemain B bisa saja melakukan kenaikan harga juga, meski tidak setinggi pemain A. Hal ini lantaran pemain B melihat ada peluang untuk tetap mendapat keuntungan dalam persaingan yang pasarnya dikuasai oleh dua pemain saja. Masyarakat tidak ada pilihan," tuturnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar