Gunung Bromo sempat erupsi pekan lalu. Tapi, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) tetap mengizinkan upacara kemerdekaan 17 Agustus mendatang.
Kepala Seksi Wilayah 1 BBTNBS, Sarmin mengatakan, upacara di sekitar Bromo tetap diizinkan, asalkan berada di zona aman. Ini artinya diluar radius 1 kilometer, kawah aktif Gunung Bromo.
Menurut Sarmin, biasanya upacara kemerdekaan digelar di sekitar Pasir Berbisik, atau areal kaldera lautan pasir Gunung Bromo. Namun demikian, untuk pengibaran atau pembentangan di bibir kawah Gunung Bromo tidak diperbolehkan.
"Untuk di zona aman masih diperbolehkan menggelar upacara kemerdekaan RI, tapi kalau pengibaran atau pembentangan bendera di bibir kawah itu yang dilarang. Namun lebih lanjut, kita sesuaikan dengan kondisi aktivitas Gunung Bromo," jelas Rabu (24/7/2019).
Sarmin mengatakan, meski hari kemerdekaan Republik Indonesia tinggal beberapa pekan lagi. Namun sampai saat ini, masih belum ada instansi atau komunitas yang mengajukan izin, akan melaksanakan upacara di Bromo.
Sementara disebutkan Sarmin, pasca erupsi Bromo pekan lalu, tingkat kunjungan wisatawan mengalami penurunan hingga 50 persen. Biasanya dalam sehari pengunjung bisa mencapai lebih dari seribu orang, saat ini hanya sekitar 800-an orang saja yang berkunjung ke Bromo.
Usainya momen liburan sekolah, diduga juga menjadi faktor penyebab menurunnya tingkat kunjungan wisatawan ke Bromo menurut Sarmin.
"Sekarang menurun tingkat kunjungan wisatawan ke Bromo dan cenderung landai, namun Agustus mendatang diprediksi akan meningkat kembali," jelasnya.
Mitos Petilasan Raja Brawijaya di Jalur Baru Gunung Lawu
Menjelang bulan Agustus peringatan HUT RI banyak traveler yang pendakian ke puncak gunung. Salah satu gunung yang menjadi tujuan para pendaki yakni Gunung Lawu.
Dari wilayah Magetan, selain melalui Cemoro Sewu, untuk menuju puncak Gunung lawu yang berada antara kabupaten Magetan dan Karanganyar dan Ngawi, memiliki jalur pendakian baru yakni jalur via Singolangu. Jalur Singolangu ini diyakini sebagai jalur klasik atau kuno, petilasan raja Brawijaya.
"Jalur klasik Singolangu ini konon petilasan raja Brawijaya. Jadi merupakan jalur klasik atau kuno yang baru di buka kembali," ujarnya.
Nedi menuturkan, jalur Singolangu menyuguhkan pemandangan yang lebih indah. Karena pendaki bisa langsung melihat keindahan Telaga Sarangan dan hamparan Kota Magetan dari sisi timur.
Pendaki juga bisa melihat beberapa petilasan sepert batu lapak yang dipercaya sebaga petilasan Raja Brawijaya, serta ada beberapa peninggalan Belanda yang berkaitan dengan jalur pendakian di Singolangu.
"Pendaki bisa melihat pemandangan indahnya telaga sarangan dan hamparan kota Magetan. Beberapa petilasan raja Brawijaya serta peninggalan Belanda juga ada. Dari pos satu kita disuguhi camping ground dengan hutan yang masih alami. Setelah itu di pos dua ada batu lapak. Kita juga akan disuguhi sunrise yang indah," paparnya.
Data yang dihimpun detikcom, Rabu (24/7/2019) jalur via Singolangu ini merupakan terbaru dari lima jalur menuju puncak gunung Lawu yang memiliki ketinggian 3170 mdpl. Untuk jalur lama di wilayah Magetan yakni via Cemoro Sewu perbatasan dengan jalur Cemoro Kandang di wilayah Karanganyar Jawa Tengah. Di Karanganyar juga ada jalur via Candi Cetho dan terakhir melalui jalur Jogorogo, Ngawi.
Selama ini, jalur Singolangu dikelola dengan anggaran bersumber dari swadaya pemuda Dusun Singolangu. Harapannya jalur tersebut mampu menumbuhkan perekonomian dan mengurangi pengangguran dengan potensi wisata baru di sepanjang jalur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar