Sabtu, 11 Januari 2020

Misteri Mata Air yang Tidak Pernah Kering di Bantul

 Tempat wisata di Bantul tak cuma soal keindahan alam saja. Main ke sebuah dusun, ada mata air yang tak pernah kering, Sendang Bengkung. Kok bisa?

Kecamatan Dlingo menyimpan beraneka jenis tempat wisata, salah satunya adalah tempat wisata minat khusus bernama Sendang Bengkung. Konon, terbentuknya Sendang Bengkung karena Sultan Agung menancapkan tongkat di tebing batu hingga munculah sumber air dari tebing tersebut.

Selain itu, hingga saat ini sumber air itu terus mengeluarkan air dan tidak pernah kering meski saat ini memasuki musim kemarau.

Berada di Dusun Cempluk, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Sendang Bengkung dapat dicapai dengan melakukan perjalanan darat sejauh 20 kilometer dari jantung Kota Yogyakarta. Untuk rutenya sendiri terbilang mudah, pengunjung hanya perlu mengikuti jalur menuju ke Puncak Becici.

Nantinya, sebelum Kantor Koperasi Noto Wono atau bangunan joglo yang berada di pinggir jalan pengunjung harap berbelok kiri menuju jalan cor blok. Namun, jalur yang dilalui cukup terjal dengan kontur naik turun.

Menyusuri jalan tersebut, pengunjung akan mendapati anak tangga yang menjulang ke atas di kanan jalan. Di samping anak tangga itu terdapat pula papan bertuliskan 'Pertapaan Petilasan Sultan Agung'.

Setelah memarkirkan kendaraan di sekitar jalan itu, pengunjung harus menapaki puluhan anak tangga hingga sampai di sebuah pelataran yang terdapat dua pendopo, satu berukuran kecil dan satu lagi berbentuk memanjang.

Perjalanan belum usai, pengunjung masih harus berjalan menyusuri hutan lindung sejauh ratusan meter. Meski sedikit menguras tenaga, namun mata pengunjung akan dimanjakan dengan banyaknya pepohonan dan tumbuhan di pinggir jalan setapak.

Berjalan kaki sekitar 10 menit, wisatawan akan mendapati sebuah bangunan yang berada di bawah tebing batu yang dikelilingi pagar besi. Di balik pagar terdengar gemericik air yang ternyata berasal dari dalam sebuah pintu pada bangunan tersebut.

Beruntung, detikcom diperbolehkan untuk masuk ke dalam pintu tersebut oleh juru kunci Sendang Bengkung. Di balik pintu itu ternyata terdapat sumber mata air yang berasal dari sela bebatuan. Selain itu, tersedia pula sebuah gayung untuk mengambil air jernih yang berasal dari mata air tersebut.

Juru kunci Sendang Bengkung, Suratman (54) menjelaskan, bahwa terbentuknya sumber mata air itu berhubungan dengan berdirinya makam raja-raja Imogiri, Bantul. Di mana saat itu Sultan Agung tengah mencari sumber air untuk dialirkan ke makam raja-raja Imogiri.

"Jadi Sultan Agung dulu memiliki permintaan untuk dimakamkan di Mekkah. Akhirnya Sultan Agung ke Mekkah untuk meminta izin, tapi keinginannya tidak diizinkan Raja (di Mekkah)," katanya saat ditemui detikcom di depan Sendang Bengkung, Dusun Cempluk, Desa Mangunan, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Jumat (19/7/2019) sore.

"Akhirnya Raja (di Mekkah) membungkuskan tanah atau siti arum, tanah itu dilempar dan Sultan Agung diminta untuk mencari di mana lokasi tanah itu jatuh, lokasi jatuhnya tanah itu adalah penanda lokasi tempat pemakaman Sultan Agung," imbuh Suratman.

Lanjutnya, dengan menggunakan mata hatinya Sultan Agung menemukan keberadaan siti arum di Imogiri. Setelah menemukan siti arum, Sultan Agung berkeliling ke sekitar lokasi penemuan bersama abdinya.

"Sampai di sini (Sendang Bengkung) Sultan Agung mau wudhu, dan karena tidak ada air, Sultan Agung lalu menancapkan tongkat miliknya di bawah batu. Akhirnya dari bawah batu itu keluar air," ucapnya.

Lebih lanjut, air yang keluar dari bawah batu itu akhirnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan air di makam raja-raja Imogiri. Mengingat saat itu tidak ada sumber air di sekitar makam-makam raja Imogiri.

"Jadi air itu yang digunakan untuk (memenuhi kebutuhan air di) makam raja-raja di Imogiri dengan cara dialirkan dari sini (Sendang Bengkung)," katanya.

Sedangkan nama Bengkung sendiri, menurut Suratman berasal dari kata Jawa yakni ambeg dan manekung, yakni posisi seseorang saat memanjatkan doa kepada Tuhan. Mengingat banyak orang termasuk para pendahulu yang bertapa dan berdoa di tempat tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar