Pihak berwenang di Kazakhstan membantah laporan yang diterbitkan pejabat China mengenai 'pneumonia misterius' yang berpotensi lebih mematikan daripada virus Corona COVID-19. Dalam sebuah pernyataan pada Jumat (10/7), Kementerian Kesehatan Kazakhstan mengakui adanya kasus pneumonia tetapi membantah bahwa wabah itu tidak diketahui asalnya.
"Menanggapi laporan ini, Kesehatan Republik Kazakhstan secara resmi menyatakan bahwa informasi ini tidak sesuai dengan kenyataan," demikian bunyi pernyataan itu dikutip dari AFP.
Otoritas Kazakhstan memang membenarkan adanya penyebaran pneumonia bukan COVID-19 di tiga kota yakni Atyarau, Aktobe, dan Shymkent. Namun pihak kementerian disebut telah mengklasifikasi wabah ini memiliki gejala yang serupa dengan Corona, seperti demam.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Program Kedaruratan Kesehatan WHO, Dr Michael Ryan, menyebut kasus pneumonia di Kazakhstan kemungkinan adalah COVID-19 dan "hanya belum didiagnosis dengan benar."
Ryan mengatakan WHO sedang bekerja dengan otoritas Kazakh untuk meninjau X-ray pasien dan melihat pola kasus pneumonia untuk melihat apakah mereka konsisten dengan COVID-19.
Diminta untuk menanggapi bantahan Kazakhstan, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian menahan diri dari komentar, dengan mengatakan bahwa Beijing berharap untuk menerima lebih banyak informasi.
"China berharap untuk melanjutkan kerja sama dengan Kazakhstan untuk bersama-sama memerangi epidemi dan menjaga kesehatan masyarakat di kedua negara," katanya.
WHO Sebut Penularan Lewat Droplet Lebih Dominan daripada Aerosol
Maria Van Kerkhove, ketua teknis penanggulangan pandemi COVID-19 di Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa transmisi Corona di udara selalu menjadi perhatian tetapi penularan lewat droplet merupakan rute infeksi yang paling dominan.
"Penularan secara aerosol adalah salah satu mode transmisi yang kami perhatikan sejak awal, terutama dalam layanan kesehatan di mana kami tahu aerosol dapat bertahan lebih lama di udara," katanya dikutip dari Reuters.
Kerkhove juga menyebut adanya beberapa tempat yang berisiko menularkan Corona melalui udara, khususnya di area tertutup seperti klub malam, fitness, atau tempat di mana sirkulasi udara tidak cukup baik. Namun di area tersebut risiko transmisi COVID-19 melalui droplet juga tidak boleh dikesampingkan.
"Rute penyebaran (COVID-19) yang paling dominan di seluruh tempat masih didominasi droplet," tambahnya.
WHO juga baru-baru ini merilis pedoman baru tentang jalur transmisi virus Corona yang berisikan tentang penularan melalui udara. Dalam pedoman tersebut WHO menjelaskan secara teori seseorang bisa menghirup aerosol dan kemudian terinfeksi, tapi masih butuh penelitian lebih lanjut.
Selain itu WHO memasukkan area yang rentan terjadi penyebaran virus Corona seperti restoran, klub malam, tempat ibadah, tempat kerja yang banyak orang, tempat latihan paduan suara, dan kelas kebugaran. Tetapi, penularan ini masih bisa dicegah dengan protokol kesehatan yang sudah dipublikasi sebelumnya, seperti penggunaan masker dan jaga jarak.
https://indomovie28.net/maju-kena-mundur-kena/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar