Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara terkait adanya kabar perbankan nasional yang melebihi ketentuan batas minimum penyaluran kredit (BMPK). Bank yang dimaksud adalah PT Bank Mayapada Tbk.
Pelanggaran BMPK itu disinyalir lantaran Bank Mayapada memberikan kredit jumbo yang terfokus untuk beberapa kelompok saja. Kabarnya hal itu ditemukan OJK usai melakukan pemeriksaan khusus setelah munculnya temuan BPK atas pengawasan OJK terhadap 7 bank.
Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo meluruskan, pemeriksaan terkait temuan itu dilakukan jauh sebelum pemeriksaan OJK. Nah temuan terkait BMPK itu kemudian didapati oleh BPK.
"Enggak, kita memang melakukan pemeriksaan khusus sudah tahun lalu. Tapi itu sebenarnya sudah diselesaikan sebenarnya melalui action plan. Kemudian kita diperiksa oleh BPK, terus dokumen-dokumen itu memang jadi perhatian untuk melakukan pembinaan," terangnya kepada detikcom, Senin (13/7/2020).
Edy juga menegaskan, Tahir selaku pemilik Bank Mayapada sudah menuruti instruksi dari OJK untuk menyelesaikan masalah BMPK yakni dengan menambah modal.
"Tindak lanjutnya itu sudah kita lakukan, bank sudah menyampaikan action plan. Pak Tahir itu sportif, kapan saja saya dipanggil datang dia. Dia memberikan komitmen yang kuat, Pak ini kurang, asetnya serahkan, dia serahkan lagi asetnya. Dia sudah berikan aset pribadinya juga sudah, bahkan dia sudah serahkan duit juga sudah. Dia sangat tanggung jawablah untuk menyelesaikan bank ini, karena ini menyangkut masalah pride dia," terangnya.
Tahir memang sudah beberapa kali menambah modal ke Bank Mayapada. Pertama dia sudah menyuntik setoran modal Rp 3,75 triliun. Lalu belum lama ini perusahaan juga mengumumkan Tahir menempatkan dana setoran modal secara tunai sebesar Rp 1 triliun.
Tidak hanya itu, menurut Edy, Tahir juga sudah menyetorkan aset senilai Rp 17,9 triliun ke dalam modal Bank Mayapada. Aset itu berasal dari debitur yang kreditnya macet, termasuk dari kelompok tertentu yang disebut mendapatkan kredit melebihi BMPK.
"BMPK itu sudah diselesaikan dengan menyerahkan aset, sudah itu. Artinya tinggal memberikan kesempatan buat bank itu untuk menjual asetnya. Kan kreditnya sudah diambil aset-aset agunannya. Sebetulnya sekarang tinggal memberikan kesempatan bagi bank itu untuk menyelesaikan permasalahan supaya tidak terlalu banyak di aset AYDA (agunan yang diambil alih)," terangnya.
Menurut Edy, permasalahan BMPK ini sudah hampir diselesaikan oleh Bank Mayapada. Dia juga menilai pelanggaran BMPK itu menurutnya dilakukan karena ketidaktahuan bank tersebut.
"Mereka itu tidak sengaja untuk melakukan pelanggaran. Kalau bisa dikatakan mungkin pelampauan. Karena mereka tidak mengerti saja," tutupnya.
Inggris Desak Pebisnis Siap-siap Hadapi Transisi Brexit
Inggris mendesak para pebisnis dan perseorangan untuk mempersiapkan diri menghadapi periode transisi Brexit pada 31 Desember mendatang. Mematangkan rencana itu, Inggris akan meluncurkan kampanye bertajuk 'The UK's new start: let's get going'.
Untuk diketahui, Inggris sudah meninggalkan Uni Eropa sejak 31 Januari lalu, 3,5 tahun setelah referendum, namun sampai saat ini belum ada perubahan dari hubungan kedua kawasan tersebut. Apalagi pembicaraan mengenai proses transisi pun selalu buntu.
Menteri Kabinet Michael Gove mengatakan, kemajuan tersebut kini tengah disiapkan dan tengah dibicarakan tetapi masih ada perpecahan pendapat.
"Pada akhir tahun ini kami akan meninggalkan pasar tunggal Bea Cukai terlepas dari segala jenis perjanjian dengan Uni Eropa. Ini akan membawa perubahan dan peluang signifikan yang perlu kita semua siapkan," ujar Gove dikutip dari Reuters, Senin (13/7/2020).
Kampanye tersebut akan diluncurkan pada hari ini di berbagai platform mulai dari iklan di TV, radio, papan iklan dan online. Lalu, bagaimana dengan kesiapan para perusahaan di Inggris terkait Brexit?
Sebuah survei dari Institute of Directors (IoD) mengatakan hanya seperempat perusahaan yang sepenuhnya siap untuk akhir periode transisi nanti. Hampir setengah dari 978 direktur perusahaan yang disurvei pada Juni lalu mengatakan mereka belum siap, belum bisa mempersiapkan diri sekarang karena masih terkendala serangan COVID-19. Sedangkan, hampir seperti lainnya mengatakan mereka membutuhkan perincian perubahan yang jelas.
"Dengan begitu, banyak hal yang terjadi, banyak direktur merasa bahwa mempersiapkan Brexit dengan benar seperti mencoba mencapai target yang terus bergerak. Melompat ke apapun yang terjadi berikutnya akan menjadi mimpi buruk bagi banyak bisnis," ujar Direktur Jenderal IoD Jonathan Geldart dikutip dari Reuters, Senin (13/7/2020).
https://indomovie28.net/inazuma-eleven-episode-19-subtitle-indonesia/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar