Minggu, 01 Desember 2019

Bisa Jadi Gejala Endometriosis, Jangan Anggap Remeh Nyeri Perut Saat Haid

Tak sedikit wanita yang menganggap nyeri haid merupakan sesuatu yang normal. Padahal, jika itu terjadi tiap kali datang bulan tiba, bisa saja merupakan gejala endometriosis.

Salah satu gejala umum yang kerap dialami wanita dengan endomteriosis adalah nyeri haid yang juga disebut dengan dysmenorrhea dan kadang disertai kram. Sayangnya, kondisi itu kerap dianggap normal sehingga wanita tidak memeriksakan diri ke dokter.

"Kram biasanya terasa di bagian rahim sementara rasa sakit dan nyeri lebih terasa di area peritoneum (membran yang melapisi perut-red) dan ligamen. Nyeri akibat endometriosis pun tidak hilang dalam satu hari, durasinya bisa lebih dari dua hari bahkan setelah haid selesai," tutur dr Tamer Seckin, co-founder sekaligus direktur medis Endometriosis Foundation of America (EFA).

Dikutip dari situsnya, drseckin.com, ia menambahkan bahwa nyeri akibat endomteriosis juga tidak akan membaik meski diberi analgesik atau bahkan pil KB. dr Seckin mengungkapkan, sekitar tiga dari empat wanita dengan endometriosis memiliki riwayat nyeri haid yang menyakitkan disertai kram sejak haid di masa remaja.

Beberapa waktu lalu, Prof. Dr. dr. Ali Baziad, SpOG(K), dari Divisi Endokrinologi Reproduksi, Departemen Ilmu Kebidanan dan Kandungan FKUI/RSCM mengatakan jika perut sakit saat haid, jangan anggap enteng dan menunda untuk diperiksa. Sebab, perlu dipastikan apakah nyeri tersebut akibat endometriosis atau bukan.

"Paling banyak terjadi pada remaja. Apa tandanya? Saat menstruasi hari pertama sakit perut parah, guling-guling, mual muntah, sakit kepala. Tapi pada hari kedua ketiga dan keempat sudah hilang," ujar Prof Ali.  http://indomovie28.com/ordinary-world-2016/

Endometriosis merupakan penyakit kronik di mana jaringan endometrium yang terdapat di dalam rahim (uterus) ditemukan tumbuh di tempat lain dalam tubuh. Jaringan ini membentuk lesi endometrium yang sangat sering ditemukan pada indung telur dan semua organ di dalam panggul wanita.

Hati-hati, Endometriosis Tingkatkan Risiko Keguguran

Meskipun mempengaruhi kualitas organ reproduksi wanita, bukan berarti pasien endometriosis bakal susah memiliki anak. Hanya saja sebuah studi terbaru mengungkapkan, wanita dengan endometriosis berisiko tinggi mengalami keguguran saat berbadan dua.

Peneliti dari Aberdeen Royal Infirmary menemukan fakta ini setelah melakukan penelitian terhadap 5.375 wanita dengan endometriosis dan 8.280 wanita sehat yang tengah mengandung.

Selama masa kehamilan, kandungan wanita dengan endometriosis tampak baik-baik saja. Akan tetapi saat persalinan cenderung terjadi komplikasi. Di antaranya kehamilan ektopik, di mana janin berkembang di luar rahim, sebesar 1,6 persen. Padahal pada wanita tanpa endometriosis, kemungkinan terjadinya kehamilan ektopik hanya sebesar 0,6 persen.

Begitu juga dengan risiko keguguran yang mencapai 76 persen, kelahiran prematur 26 persen dan kebutuhan untuk operasi caesar mencapai 40 persen. Peneliti menduga endometriosis telah menyebabkan perubahan fungsi rahim, termasuk mendorong terjadinya inflamasi di rahim yang bisa berakibat pada kerusakan kandungan.

"Tapi bila kita mendiagnosisnya sejak dini, kita dapat melakukan tindakan pencegahan, bahkan mungkin memperbaiki keadaan," tandas salah satu peneliti, Dr Lucky Saraswat seperti dikutip dari BBC, Selasa (16/6/2015).

Apalagi endometriosis tergolong sulit diidentifikasi, meskipun terjadi pada 2-10 persen wanita. Selama ini endometriosis hanya diketahui dari gejalanya, seperti nyeri haid yang luar biasa atau terus-menerus.

Untuk itu, lanjut Dr Saraswat, wanita dengan endometriosis perlu mendapatkan pengawasan ekstra, seperti lebih sering menjalani scan ultrasound selama masa kehamilan.

Sebelumnya Prof Dr dr Ali Baziad, SpOG(K) dari Fakultas Kedokteran UI/RSCM mengatakan, "30-50 persen wanita yang menderita endometriosis mengalami gangguan kesuburan." Akan tetapi bukan berarti wanita dengan endometriosis pasti tidak bisa punya anak, bahkan pada saat hamil, nyeri yang disebabkan oleh gangguan ini cenderung berkurang, kendati tidak menyembuhkan.

Untuk memastikan apakah seorang wanita terkena endometriosis atau tidak, Prof Ali menjelaskan perbedaan antara nyeri haid biasa dengan gejala endometriosis. "Kalau sedang menstruasi terasa sangat sakit sampai nggak bisa ngapa-ngapain, lalu hilang setelah minum obat nyeri, itu bisa dicurigai endometriosis," katanya kepada detikHealth beberapa waktu lalu.

Namun tak semua nyeri haid dapat dicurigai sebagai gejala endometriosis. Berikut gejala yang perlu diwaspadai menurut Prof Ali:
1. Nyeri haid yang terasa mendalam, biasanya sehari sebelum menstruasi atau puncaknya pada hari pertama/kedua menstruasi
2. Nyeri haid yang sangat menyakitkan dan tak hilang meski sudah diberi obat pereda nyeri
3. Darah haid yang keluar sangat banyak dengan masa haid yang lebih panjang  http://indomovie28.com/special-female-force-2016/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar