Selasa, 03 Desember 2019

Liquid Vape Berbahan Herbal Tetap Bahaya, Bisa Sebabkan Penyakit Paru Kronis

Rokok elektronik saat ini memang menjadi tren tersendiri di kalangan masyarakat Indonesia. Tidak hanya menyajikan berbagai varian rasa yang ditawarkan, melainkan juga menghadirkan rokok elektronik berbasis herbal.

Namun apakah pengguna rokok elektronik yang menggunakan cairan herbal dapat terhindar dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)?

"Jadi kalau di dalam rokok elektronik itu komponennya adalah berupa cairan yang dipanaskan. Komponen ini berbahaya dilihat dari kandungannya, kalau yang tidak herbal kandungannya adalah satu nikotin, yang kedua adalah bahan toksik lainnya dan itu tidak semata-mata berasal dari kandungan bahannya. Melainkan bisa timbul dari proses pemanasan," kata spesialis paru Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) kepada detikcom saat dijumpai Selasa, (26/11/2019).

Merokok, baik yang konvensional ataupun elektrik disebut penyebab dari penyakit paru kronis. Ketika terjadi, pengidapnya akan sulit bernapas karena terhalang oleh lendir yang menumpuk di tenggorokan.

Sampai saat ini, menurut dr Agus, tidak ada cairan yang bersifat 'aman' jika disandingkan dengan penggunaan vape. Bahkan vape sendiri disebut mengandung bahan karsinogenik penyebab kanker dan bahan beracun lainnya.

"Apapun kandungannya dan itu dapat bersifat toksik dan merusak, artinya bahan yang disebut herbal tetap punya potensi berbahaya," pungkas dr Agus.

Hati-hati! Risiko Kerusakan Paru Membayangi Perokok dan Pengguna Vape  http://indomovie28.com/dirty-weekend/

Penyebab utama dalam terjangkitnya Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan menghirup asap dalam jumlah yang banyak dalam siklus yang sering. Seperti halnya menghirup asap kendaraan bermotor, polusi udara, bahkan hingga asap yang ditimbulkan dari kegiatan masak-memasak.

Namun, yang menjadi sorotan lebih mendalam dari Penyakit Paru Obstruktif Kronis ini adalah bagi perokok. Karena aktivitas merokok lebih sering dilakukan secara berulang-ulang tidak hanya dalam kurun waktu yang sebentar, bahkan hingga bertahun-tahun.

"Contohnya gini, orang kalau gak pakai sepatu lalu jalan terus, kakinya akan jadi seperti apa? Tebalkan, itu sama halnya seperti iritasi pada PPOK. Maka gak bisa dilihat dari setahun, dua tahun, karena merokok itu akan terus dilakukan hingga bertahun-tahun sampai 10 tahun, 20 tahun, hingga terdeteksi terjangkit PPOK," jelas Prof dr Faisal Yunus, PhD, SpP(K) saat konferensi pers peringatan hari Penyakit Paru Obstruktif Kronis, di kantor Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Jakarta Timur, Selasa (26/11/2019).

Tidak hanya perokok konvensional yang menjadi sorotan, melainkan juga perokok elektronik contohnya vape.

"Kalau rokok konvensional itu karena sudah lama dan sudah dipelajari maupun diteliti, serta sudah terbukti menjadi penyebab PPOK, sedangkan rokok elektronik masih dilakukan penelitian serta dipelajari, namun potensi itu tetap ada," ucap Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menambahkan.

Sama halnya dengan rokok, diketahui vape juga mengandung nikotin serta zat kimia yang dapat membahayakan kesehatan. Jika dilakukan secara berulang-ulang dalam kurun waktu yang lama, maka akan menjadi hal yang wajar vaping bisa menjadi salah satu penyebab PPOK.  http://indomovie28.com/broken-horses/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar