Senin, 09 Desember 2019

Malaysia dan Thailand Contoh RI Kembangkan Biodiesel

Pemerintah menyebut Indonesia menjadi contoh bagi negara lain dalam memanfaatkan biodiesel sebagai bahan bakar berbasis energi baru terbarukan (EBT). Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan, beberapa negara yang disebutnya meminta saran pemanfaatan biodiesel.

"Sebenarnya kami sudah generate pemanfaatan biodiesel di seluruh dunia. Ada beberapa negara produsen sawit yang mulai mencontoh apa yang bisa dilakukan Indonesia dan beberapa negara meminta advice," kata Musdhalifah di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019).

Ia menambahkan negara tetangga seperti Malaysia mau memanfaatkan B20. Negeri Jiran tersebut baru menerapkan B10 dan Thailand juga mau mulai B20.

"Malaysia itu berencana mengembangkan biodiesel 20% (B20), sekarang dia baru 10%, baru menerapkan B10. Thailand juga baru mau mulai B20," tambahnya.

Saat negara lain baru mulai mengembangkan B20, Indonesia dalam waktu dekat sudah akan menerapkan B30. Bahkan setelah B30, rencananya pemerintah bakal meneruskan ke B50 sampai B100. Rangkaian uji coba untuk B30 sendiri telah sukses dilaksanakan dan saat ini berlangsung uji coba distribusi.

Musdhalifah menyebut, keberhasilan Indonesia dalam mengembangkan dan memanfaatkan biodiesel tidak terlepas dari adanya kerja sama dari kementerian, sektor otomotif, produsen bahan bakar minyak (BBM), hingga badan usaha bahan bakar nabati (BBN).

"Jadi kami berkolaborasi seperti itu. Sampai sekarang tidak banyak permasalahan berarti," pungkasnya.

Sudah Diuji Coba, B30 Siap Diterapkan Januari 2020

Rangkaian uji coba bahan bakar jenis biodiesel 30% (B30) telah selesai dilakukan. Jika tidak ada halangan, penggunaan B30 diluncurkan 1 Januari 2020.

Demikian disampaikan oleh Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud dalam diskusi Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Senin (9/12/2019).

"Nanti awal Januari tahun depan sudah bisa kita luncurkan," kata Musdhalifah.

Di tempat yang sama, Direktur Bioenergi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna mengatakan, rangkaian uji coba B30 telah dimulai sejak 25 November 2019. Menurutnya, uji coba berjalan dengan baik.

"Dari sisi performa kendaraan, monitoring, dan evaluasi yang dikerjakan oleh tim teknis berjalan dengan baik," ucapnya.

Selama pelaksanaan program B30, diperlukan setidaknya 9,6 juta kiloliter Fatty Acid Methyl Ester (FAME) di 2020. Jumlah tersebut naik pesat dibanding kebutuhan FAME tahun 2019 sebesar 6,6 juta KL.

"Setidaknya 9,6 juta kiloliter FAME untuk mendukung B30 tahun 2020," pungkasnya.

Airlangga Yakin Penerapan Biodiesel 30% Bisa Hemat Devisa Rp 112 T

 Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto membeberkan jurus pemerintah untuk menekan defisit neraca perdagangan atas impor minyak dan gas (migas). Salah satunya yakni penerapan bahan bakar biodiesel campuran nabati biodiesel 30% (B30).

Menurut Airlangga, dengan penyerapan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) sebanyak 10 juta kiloliter (KL) untuk memenuhi kebutuhan B30, Indonesia bisa menghemat devisa dari impor migas hingga US$ 8 miliar atau sekitar Rp 112,8 triliun (kurs Rp 14.000).

"Jadi kalau sekarang dengan program B30 itu kebutuhan kelapa sawit terserap CPO itu 10 juta kiloliter. Berarti penghematan devisa itu bisa mencapai US$ 8 billion dan ini bisa efektif mengurangi defisit neraca dagang," kata Airlangga dalam acara Kompas100 CEO Forum, di Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (28/11/2019).

Program B30 tersebut merupakan road map pemerintah untuk mengurangi defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD).

"Ini sedang kita siapkan juga dengan berbagai kementerian, programnya adalah terkait dengan deifist neraca perdagangan dan pengurangan CAD. Beberapa program itu adalah mandatory B20, bahkan kita siapkan road map B50, B70, bahkan B100," papar dia.

Pemerintah menargetkan program biodiesel tersebut bisa diterapkan dalam dua tahun ke depan.

"Untuk CPO ini kita targetkan dalam dua tahun," ujar Airlangga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar