Minggu, 10 Januari 2021

Sempat Mereda, Corona China Kini Melonjak Hampir Dua Kali Lipat!

 Jumlah kasus COVID-19 baru di China meningkat hampir dua kali lipat. Pasien yang dikonfirmasi terkena virus kebanyakan dari Hebei, provinsi di sekitar Beijing yang kini mulai membatasi perjalanan setelah mendeteksi 20 kasus awal pekan ini.

Mengutip Al Jazeera, Hebei menyumbang 51 dari 52 kasus baru Corona yang ditularkan secara lokal dan dilaporkan oleh Komisi Kesehatan Nasional pada hari Kamis (7/01/2021). Media pemerintah melaporkan bahwa 50 dari kasus tersebut terjadi di ibu kota provinsi Hebei, Shijiazhuang, sebuah kota berpenduduk 11 juta orang sekitar 300 kilometer (200 mil) selatan Beijing.


Pihak berwenang di provinsi itu telah melakukan sejumlah hal untuk mengurangi penyebaran virus, seperti menutup sekolah, melarang kerumunan, dan menghentikan sementara layanan bus dan kereta. Menurut surat kabar milik pemerintah, China Daily, sejauh ini sekitar dua juta sampel telah dikumpulkan dari penduduk dan 600.000 telah diuji.


Total kasus COVID-19 baru di seluruh China mencapai 63 kasus, dibandingkan dengan 32 kasus yang menjadi jumlah tertinggi dalam satu hari sejak bulan Juli. Jumlah pasien Corona tanpa gejala juga naik menjadi 79 dari total 64 pasien.


Jalan raya utama menuju Shijiazhuang telah ditutup dan perjalanan bus antar kota dihentikan dalam upaya untuk mencegah penyebaran virus ke luar kota. Surat kabar Global Times yang dikelola pemerintah melaporkan bahwa tiket kereta api dari Hebei ke Beijing tidak lagi dijual.


China telah mengambil tindakan agresif untuk membasmi setiap kelompok kasus baru dan mencegah gelombang kedua wabah, di mana Corona pertama kali dimulai di pusat kota Wuhan akhir tahun lalu. Pihak berwenang akhirnya menutup kota dan provinsi sekitarnya karena bahaya virus yang semakin meningkat.


Hingga saat ini, jumlah keseluruhan kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di daratan China mencapai 87.278, sementara jumlah kematian tetap tidak berubah di angka 4.634.

https://nonton08.com/movies/love-camp-7/


Adik Said Didu Meninggal Akibat Corona, Ini 4 Hal yang Memicu Kondisi Fatal


Kabar duka datang dari mantan Sekretaris Menteri BUMN, Muhammad Said Didu. Adik kandung dari Said Didu meninggal dunia akibat terinfeksi virus Corona COVID-19 pada Sabtu (9/10/2020) kemarin.

Said Didu mengatakan adiknya meninggal karena terpapar virus Corona. Said Didu meminta doa untuk adiknya yang telah berpulang itu.


"Karena COVID-19. Mohon dimaafkan kesalahan almarhum, baik disengaja atau tidak. Selamat jalan adikku," kata Said Didu.


Ada empat kondisi kesehatan yang paling sering memicu kematian pada pasien virus Corona COVID-19.


1. Diabetes


Pada diabetes, sistem imun atau daya tahan tubuh relatif melemah sehingga sulit memerangi infeksi. Selain itu, diabetes juga meningkatkan risiko radang yang bisa memperburuk kondisi.


"Jika Anda punya infeksi virus, ini bisa lebih mudah memicu pneumonia, karena diabetes sendiri adalah penyakit inflammatory atau radang," jelas Maria Pena, direktur layanan endokrin di Mount Sinai Doctors Forest Hills.


2. Penyakit jantung dan pembuluh darah


Sebuah studi menyebut, riwayat penyakit jantung dan pembuluh darah mendominasi kematian pada pasien virus corona COVID-19. Infeksi yang menyerang pernapasan, disebut memperberat kerja jantung sehingga memicu dampak fatal.


"Lebih tepatnya dari kasus COVID-19 yang meninggal, 80 persen usia 60 tahun ke atas dan 75 persen sudah memiliki penyakit jantung dan pembuluh darah beserta stroke atau tumor," kata dr Vito A Damay, SpJP, dokter jantung dari RS Siloam Karawaci.


Depresi juga memicu dampak fatal virus Corona. Selengkapnya klik halaman berikutnya.


3. Depresi


Bukan hanya kondisi fisik yang bisa memicu dampak fatal virus Corona COVID-19 . Kondisi kesehatan mental juga besar pengaruhnya, seperti pada depresi dan kegelisahan. Bahkan saat tidak terpapar virus sekalipun.


"Ketakutan pada virus dan berbagai perubahan yang terjadi akan membuat level kegelisahan meningkat pada semua orang. Tetapi pada orang yang punya gangguan kegelisahan, dampaknya lebih buruk," jelas Gail Saltz, profesor psikiatri di NY Presbyterian Hospital.


4. Penyakit pernapasan kronis


Chronic respiratory diseases atau penyakit pernapasan kronis, termasuk asma dan hipertensi paru, bisa memicu dampak yang lebih serius pada infeksi virus COVID-19 terkait komplikasi pneumonia. Hal yang sama juga terjadi pada penyakit paru obstruksi kronis (PPOK).


"Pneumonia membebani jantung, yang menyuplai oksigen ke seluruh tubuh. Pada pasien yang sudah punya penyakit pernapasan kronis, ini bisa mematikan," kata Dr William Li, seorang dokter yang juga peneliti.

https://nonton08.com/movies/the-incredibly-true-adventure-of-two-girls-in-love/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar