Kementerian PUPR memaparkan sejumlah infrastruktur dasar yang akan dibangun di ibu kota baru negara Republik Indonesia yang rencananya dibangun di Kalimantan Timur. Infrastruktur tersebut di mencakup kebutuhan air dasar, jalan, jembatan, jalur kereta hingga jalur sepeda dan pemukiman.
Dari data yang diterima detikcom, untuk sektor jalan dan jembatan akan dibangun jalan tol lingkar sepanjang 57 km untuk sekitar 4.000 Ha wilayah ibu kota. Kemudian ada pula jalan non tol nasional 71 km di kawasan inti pusat pemerintahan, 629 km jalan di kawasan ibu kota negara, dan 198 km jalan di perbatasan ibu kota atau perluasan ibu kota.
Untuk kebutuhan air dasar dengan asumsi jumlah penduduk 2 juta orang, diperlukan ketersediaan air baku dengan kapasitas 6,9 m3/detik untuk mencukupi kebutuhan 300 liter/hari/orang. Kemudian diperlukan juga manajemen banjir, drainase, serta infrastruktur energi seperti PLTA dan gas.
"Untuk di PUPR, maka nanti yang akan awal ditawarkan adalah proyek infrastruktur sumber daya air atau water resources terkait dengan kebutuhan air bersih (basic water need), kemudian pengendalian banjir atau flood management, drainase dan infrastruktur energi yang berbasis bendungan atau dam," kata Dirjen Pembiayaan Infrastruktur Kementerian PUPR Eko D Heripoerwanto saat ditemui di sela acara Indonesia Infrastructure Week di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu (6/11/2019).
Selain itu, ada jalur sepeda yang akan dibangun sepanjang 70 km di kawasan pusat pemerintahan, 200 km di wilayah ibu kota, dan 198 km di wilayah perluasan ibu kota. Tak ketinggalan, ada juga jalur kereta sepanjang 77 km di wilayah ibu kota. Namun belum diketahui, apa tepatnya bentuk kereta yang akan melintasi jalur tersebut.
Sedangkan di sektor perumahan akan dibangun 307.879 unit rumah untuk 1,5 juta orang.
"Terkait dengan perumahan atau hunian yang kita berharap di tahap pertama ini atau diperkirakan akan ada satu setengah juta orang yang tinggal di sana baik itu ASN, keluarganya dan sistem pendukung," jelasnya.
Adapun total kebutuhan pembiayaan membangun seluruh infrastruktur dasar tersebut mencapai Rp 466 triliun. Kebutuhan pembiayaan pembangunan infrastruktur yang bersumber dari non APBN ditaksir mencapai 80% atau sekitar Rp 376,6 triliun, sedangkan yang bisa dibiayai oleh APBN hanya Rp 89,4 triliun.
Investor Wait and See Malah Bikin Pengembang Senang, Kok Bisa?
Di tengah perlambatan ekonomi global membuat para investor wait and see dalam menyuntikkan modalnya. Begitu pula dalam industri properti yang juga ditopang dengan dana investor.
Meski begitu, menurut Country Manager Rumah123.com, Maria Herawati Manik sikap investor yang 'puasa' sementara ini justru dapat memberikan angin segar terhadap industri properti.
Maria mengatakan, dengan sikap investor tersebut, developer properti bisa memfokuskan diri kepada masyarakat yang belum pernah membeli hunian sebelumnya (first time home buyer). Pasalnya, first time home buyer punya andil yang lebih besar yang dapat mendongkrak pendapatan sang developer ketimbang dana dari investor.
"Kalau kita lihat secara pie pasti yang paling besar itu bukan investor, tapi opportunities untuk developer yang masih banyak ditangkap itu first time home buyer. Itu adalah pie yang paling besar sebenarnya. Jadi ini sebenarnya opportunity yang bagus untuk orang yang belum punya rumah. Kalau investor menahan, sudah pasti developer harus mencari alternatif dengan menggaet first time home buyer," kata Maria dalam Festival Properti Indonesia di Mal Kota Kasablanka, Jakarta, Rabu (6/11/2019).
Bahkan, ia menuturkan jika seorang developer mendapatkan suntikkan dana terlalu banyak dari investor akan berbahaya. Pasalnya, suatu hari sang investor bisa mengatur harga penjualan properti dan itu bisa merugikan pembeli.
"Investor kalau terus-terusan investasi itu bahaya. Karena pada suatu waktu mereka akan menentukan harga untuk properti. Ini akan bahaya karena ini sudah terjadi di Hong Kong. Yang nge-drive harga itu adalah investor. Dan pada saat mereka mendominasi properti, bagi yang belum punya rumah itu lebih bahaya lagi," terang Maria.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar