Senin, 09 Desember 2019

Karyawan TVRI Angkat Bicara soal Kisruh Helmy Yahya-Dewas

Keputusan Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik (LPP) TVRI memberhentikan Direktur Utamanya Helmy Yahya menjadi polemik. Helmy sendiri pun melawan keputusan tersebut.

Tak lama setelah penolakan Helmy, beredarlah sebuah pesan berantai di group chat Whatsapp. Pembelaan Helmy ditolak oleh isu yang diklaim sebagai alasan dari Dewas memecat Helmy, dan juga keluhan-keluhan dari karyawan. Adapun poin yang menjadi sorotan yakni mengenai honor yang ditunggak sejak bulan April 2019. Untuk mengkonfirmasi kebenaran tersebut, detikcom menghubungi dua karyawan TVRI secara terpisah.

Menurut karyawan TVRI yang dihubungi pertama kali oleh detikcom, isu honor sudah lama bergulir. Penunggakan memang benar ada, namun hal itu disebabkan oleh proses pembenahan sistem keuangan oleh Direktur Keuangan TVRI, Isnan Rahmanto. Lalu, saat ini pun honor karyawan tengah dibayarkan secara berkala. Lagi pula, menurut sumber tersebut, hanya 30% pegawai TVRI yang menerima honor (honor di luar gaji pokok).

"Isu honor itu sebenarnya isu lama yang bergulir terus, dan itu tengah dibayarkan. Kalau pun dibayarkan itu merupakan efek domino dari tunggakan lama, tunggakan lama itu karena proses pembenahan sistem keuangan oleh Direktur Keuangan. Lagi pula yang menerima honor dari seluruh karyawan TVRI hanya 30%. Tapi intinya semua akan terbayar dan karyawan tetap bekerja sebagaimana biasanya," kata sumber yang tak bisa disebutkan namanya tersebut kepada detikcom, Senin (9/12/2019).

Secara tegas ia menyatakan bahwa gaji pokok bulanan karyawan TVRI tak pernah menunggak dalam pencairannya.

"Untuk gaji bulanan sama sekali nggak pernah menunggak," tegasnya.

Dihubungi secara terpisah, karyawan lain dari TVRI juga mengatakan hal serupa.

"Tidak ada gaji yang telat. Seluruh gaji untuk pegawai, baik PNS maupun PBPNS (Pegawai Bukan PNS) dibayarkan tepat waktu, sebagaimana diatur dalam Perundang-Undangan," tuturnya yang minta identitasnya dirahasiakan.

Ia pun menjelaskan bahwa honor yang ramai dibicarakan merupakan honor Satuan Kerabat Kerja (SKK). Dalam pemberian honor SKK tersebut, ia menilai bahwa perusahaan di bawah Helmy justru melakukan pembenahan dibandingkan kepemimpinan sebelumnya.

"Ada berbagai kategori honor dalam penggunaan anggaran negara. Jika yang dimaksudkan adalah SKK atau Honor Satuan Kerabat Kerja, maka sesungguhnya direksi telah banyak melakukan perbaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dalam hal pembayaran. Bahkan untuk honor produksi bulan berjalan saja sudah dibayarkan kepada Kerabat Kerja yang berdinas," terang sumber tersebut.

Kembali kepada sumber pertama, ia mengatakan bahwa dirinya sudah bekerja selama 12 tahun di TVRI. Ia merasa, dalam kepemimpinan Helmy ini justru perusahaan mulai bangkit dari keterpurukan.

"Saya sudah lebih dari 12 tahun kerja di TVRI, baru kali ini merasakan pola kerja mulai profesional. Intinya yang saya amati sebagai pekerja, arah direksi yang sekarang di jalur yang relatif benar. Ini bisa masyarakat rasakan perbedaan dengan siaran kita sekarang dibandingkan beberapa tahun ke belakang," imbuh dia.

Beberapa program baru TVRI dinilainya sebagai gebrakan yang membuat TVRI kembali dilirik masyarakat. Contohnya tayangan Liga Premier Inggris.

"Kalau saya lihat kenyataannya saja. Saya bertahun-tahun di TVRI, baru kali ini punya kebanggaan tersendiri karena kita berani menyiarkan acara-acara top. Apalagi ada hampir semua pertandingan olahraga, hak siarnya ada di TVRI," jelas dia.

Sumber pertama tersebut menilai bahwa pesan berantai yang beredar maupun komentar-komentar yang memicu konflik lainnya merupakan ulah kelompok yang kehilangan 'lapaknya' ketika Helmy menjabat dan mulai melakukan pembenahan di televisi nasional tersebut. Bahkan, ia menyebutkan bahwa hubungan antara karyawan dengan Helmy baik-baik saja.

"Dan di internal kami di antara karyawan dan bos juga relatif berjalan baik. Untuk isu miring ini hanya suara segelintir orang yang kehilangan eksistensi akibat ulah mereka sendiri. Ini adalah kelompok-kelompok yang zona nyamannya terusik oleh kepemimpinan Helmy Yahya. Helmy memang menyingkirkan orang-orang yang tidak mau bekerja dan menjadi benalu sejak konflik TVRI ada yaitu tahun 2007, dan pihak inilah selalu jadi pemain dalam setiap konflik TVRI," ungkap sumber pertama tersebut.

Lalu, terkait keputusan Dewas TVRI, ia menuturkan bahwa karyawan TVRI tidak tahu-menahu atau pun diberikan informasi sebelumnya. Menurutnya, karyawan TVRI mengetahui kapar Dewas memecat Helmy dari pemberitaan di media.

"Saya sebagai karyawan nggak pernah tahu kalau Dewas memutuskan sesuatu. Tahunya tiba-tiba beredar luas di media," pungkas sumber pertama itu sebagai pernyataan terakhirnya kepada detikcom.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar