Kontroversi vape atau rokok elektrik berlanjut. Baru-baru ini, komunitas pengguna rokok elektrik alias vaper ramai-ramai memamerkan foto rontgen dada atau thorax untuk membuktikan bahwa paru-paru mereka baik-baik saja.
"Dan menangkis isu-isu yang beredar di masyarakat umum. Rontgen sendiri dilakukan oleh vapers di seluruh Indonesia khususnya di Jatim ingin membuktikan bahwa paru-paru kami bersih walau kita vape selama beberapa tahun kebelakang sampai sekarang," kata Paijo, vaper dari Pentolan Vape Jawa Timur (PVJT).
Oleh pendukungnya, gerakan yang meluas ke berbagai kota di Indonesia ini ingin menyerukan bahwa vape bisa menjadi alternatif yang lebih aman dibanding rokok konvensional. Ini terkait pula dengan rencana Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) melarang vape.
"Pertama supaya hak untuk ngevape ini tetap ada, karena ini hak untuk memilih pilihan yang lebih sehat. Kedua menunjukkan ke orang-orang terdekat atau masyarakat awam bahwa dengan vaping itu kami sehat-sehat saja. Range kami vaping itu ada yang dari hitungan bulan sampai paling lama lebih dari lima tahun," kata Andika Widhi, vaper dari komunitas Hexohm Indonesia.
Sementara itu, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Dr dr Agus Dwi Susanto, SpP(K) menyebut foto rontgen dada sebenarnya tidak membuktikan apapun. Selain karena dampak buruk baru muncul dalam jangka panjang, rontgen dada juga tidak detail mengungkap kondisi kesehatan. http://indomovie28.com/girl-asleep/
"Kalau mau deteksi dini pada pengguna awal itu tidak hanya bisa dengan foto thoraks. Kita harus periksa lebih detail mulai dari fungsi paru, fungsi jantung, imaging yang lebih canggih seperti CT scan, bahkan pemeriksaan tingkat seluler. Karena perubahan tingkat sel di saluran napas itu pada fase awal tidak bisa dideteksi dengan foto thoraks," terang dr Agus.
Perusahaan Ini Beri Libur Ekstra 6 Hari untuk Karyawan yang Tak Merokok
Sebuah perusahaan di Jepang memberikan penghargaan untuk karyawannya yang tidak merokok. Dikutip dari CNBC, kebijakan yang diterapkan perusahaan marketing berbasis di Tokyo ini didasari setelah seorang karyawan mengeluh bahwa rokok dapat memengaruhi produktivitas kerja.
Perusahaan tersebut adalah Piala Inc yang kantornya berada di lantai 29, Kota Tokyo. Karyawan yang ingin merokok disebut harus pergi ke basement dan membutuhkan waktu sekitar 15 menit sehingga banyak waktu terbuang membuat produktivitas menurun, membuat non-perokok iri.
"Salah satu staf kami yang tidak merokok menaruh pesan di kotak saran perusahaan awal tahun ini dengan mengatakan bahwa merokok menyebabkan masalah," ungkap juru bicara Piala Inc, Hirotaka Matsushima.
Setelah mendengar keluhan tersebut, CEO Piala Inc, Takao Asuka pun memutuskan untuk memberikan kompensasi jatah libur kerja, cuti enam hari per tahun bagi karyawan yang tidak merokok sebagai waktu istirahat.
"Saya berharap dapat mendorong karyawan untuk berhenti merokok melalui insentif daripada hukuman atau paksaan," ujarnya.
Kini semakin banyak perusahaan di Jepang yang tengah meningkatkan upaya untuk menghentikan kebiasaan merokok karyawannya. Tahun lalu, pemerintah Kota Tokyo juga mengeluarkan peraturan larangan merokok yang cukup ketat menjelang Olimpiade 2020. http://indomovie28.com/all-i-need/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar