Kementerian Kesehatan RI melalui Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan mengeluarkan Surat Edaran No HK 02.02/I/2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi. Di surat edaran itu batasan tertinggi pemeriksaan rapid test antibodi sebesar Rp 150 ribu.
Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan di Sleman masih ada rumah sakit yang mematok RDT (Rapid Diagnostic Test) tidak sesuai edaran Kemenkes. Menurutnya rumah sakit perlu waktu untuk menyesuaikan tarif.
"Menurut saya mungkin mereka (rumah sakit) perlu waktu untuk menyesuaikan (tarif). Tidak bisa semerta-merta," kata Joko melalui pesan singkat, Selasa (14/7/2020).
Joko mencontohkan di RSUD Sleman, misalnya. Untuk sementara waktu menyetop pelayanan rapid test hingga Senin mendatang. Di RSUD Sleman tarif untuk RDT adalah Rp 210 ribu.
"Sedang dalam proses menyesuaikan (harga) SE Dirjen Yankes (untuk harga). Sementara tidak melayani dulu. Senin depan mudah-mudahan sudah sesuai dengan tarif sesuai SE tersebut. Kalau saat ini RDT di RSUD Sleman Rp 210 ribu," kata Joko yang juga merupakan Plt Direktur RSUD Sleman.
RSUD sedang proses beli alat utk rapid test metode Eclia. Investasinya, kata dia, memang mahal, namun harga per tes bisa murah bahkan di bawah harga SE. Selain itu, hasilnya lebih akurat.
"Kalau masih pakai RDT kit yang beredar di pasaran lokal tidak cukup (tes) dengan Rp 150 ribu tersebut. Karena harga RDT termurah Rp 130 ribu, belum ditambah bahan medis habis pakai, APD dan sebagainya," ujarnya.
"Sebetulnya lebih akurat karena pembacaan pakai alat yang terkalibrasi," lanjutnya.
Pemkab Sleman, kata dia, juga tengah menyusun SK Bupati untuk penyesuaian harga rapid test. Namun SK itu hanya untuk fasilitas kesehatan milik Pemkab Sleman.
"Kalau rumah sakit swasta maupun RS vertikal sebetulnya langsung terikat dengan SE tersebut (Kemenkes). SK bupati nanti akan mengarahkan yang RS milik Pemda (pemkab), puskesmas dan labkesda," tutupnya.
Peringatan WHO Soal Pandemi Corona yang Tak Kunjung Reda
Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengingatkan pandemi Corona kini semakin buruk dan tidak terkendali. Banyak negara yang dinilai WHO salah mengambil langkah dalam penanganan wabah Corona.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengingatkan kembali negara-negara yang mulai melonggarkan lockdown atau pembatasan. Penerapan kebijakan yang dilakukan beberapa negara tersebut menurut Tedros tidak akan membuat kondisi pandemi membaik dan kembali ke kebiasaan normal sebelum pandemi Corona.
"Biarkan saya berterus-terang, terlalu banyak negara menuju ke arah yang salah. Virus masih tetap menjadi musuh publik nomor satu, tapi tindakan dari banyak pemerintah dan orang-orang tidak mencerminkan ini," tegas Tedros dalam konferensi pers virtual dari markas WHO di Jenewa, Swiss.
"Saya ingin terus terang, kita tidak akan kembali pada 'old normal' di masa mendatang," jelas Tedros.
Belakangan, WHO juga telah mengirim tim ke China untuk meneliti lebih lanjut terkait asal muasal virus Corona COVID-19. Virus Corona COVID-19 sendiri pertama kali dilaporkan muncul di Wuhan, China.
"Anggota tim dari WHO dikarantina terlebih dahulu sebelum mereka mulai bekerja dengan para ilmuwan China," kata kepala darurat WHO Mike Ryan.
Sebelumnya, muncul dugaan virus Corona COVID-19 berasal dari kelelawar, tetapi hingga saat ini belum ada bukti yang menunjukkan kebenaran tersebut. Laboraturium Wuhan juga berulang kali dituduh telah menciptakan virus Corona di lab mereka yang diatur sedemikian rupa sehingga menyebabkan pandemi. Berulang kali pula peneliti dari lab Wuhan membantah tuduhan tersebut.
https://kamumovie28.com/director/nicholas-gyeney/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar