Kini melakukan reservasi untuk traveling semudah membalikkan telapak tangan lewat bantuan ponsel. Malah hampir setengahnya online di Asia Pasifik.
Fakta itu pun dipaparkan dalam riset terbaru Amadeus, satu dari 10 besar perusahaan teknologi yang bergerak dalam sistem distribusi global (Global Distribution System). Di pasar Asia Pasifik misalnya, sudah hampir setengah reservasinya dilakukan online.
"44% Booking atau pemesanan di Asia Pasifik dilakukan online, di mana sekitar 56% dilakukan offline," tulis Amadeus dalam riset terbarunya.
Dari keseluruhan, pasar Korea Selatan memimpin pemesanan perjalanan online di Asia Pasifik sebanyak 46% dan disusul oleh China sebanyak 45%. Menurut data dari perusahaan penyedia data online travel PhoCusWright, tahun 2018 lalu pasar Asia Pasifik menyumbang sekitar USD 418 juta dari sektor pemesanan perjalanan online.
Data di atas membuktikan, bahwa dewasa ini pemesanan hampir setengahnya didominasi secara online. Ada kecenderungan bahwa pemesanan tradisional via telepon atau tatap muka dan bicara langsung mulai ditinggalkan di Asia Pasifik.
Adapun pemesanan perjalanan tak sepenuhnya didominasi online. Travel agent yang tradisional juga masih menggaet traveler, di mana punya pangsa pasarnya tersendiri.
"Pengeluaran di destinasi cukup terbagi dan tak dapat sepenuhnya diraih oleh saluran travel online. Tur lokal, tiket masuk tempat wisata, taksi, makanan dan minuman serta aneka transaksi di destinasi juga mencakup 80% pengeluaran dari traveler di Asia Tenggara," tulis Amadeus.
Oleh sebab itu, masih ada kesempatan bagi travel agent serta pelaku UMKM lokal untuk terus hidup dari sektor pariwisata yang telah mengglobal dan serba online.
Parahnya Pemanasan Global, Es Himalaya Pun Mencair
Peningkatan suhu Bumi alias pemanasan global sudah sangat berbahaya. Bahkan, es di Pegunungan Himalaya pun sudah mencair!
Dilansir dari BBC News, Senin (24/6/2019) tim penelitian dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Columbia University di AS menungkap fakta mencairnya es di Pegunungan Himalaya. Mereka memakai perbandingan citra satelit.
Pertama, mereka mengumpulkan citra satelit dari program pengintaian AS yang diberi nama Hexagon. Hexagon digunakan militer AS pada tahun 1970-an dan 1980-an, yang mana saat itu tugasnya untuk memotret Bumi dari ketinggian secara rahasia.
Tapi di tahun 2011, pihak pemerintah AS memberikan data-data dari Hexagon ke para peneliti melalui US Geological Survey. Tujuannya, tentu untuk ilmu pengetahuan.
Data dari Hexagon lantas dibandingkan dengan citra satelit NASA dan Japanese Space Agency (JAXA). Hasilnya adalah sejak tahun 2000, ketinggian gletser di Pegunungan Himalaya rata-rata telah menciut 0,5 meter setiap tahun.
"Dari kajian ini, kami benar-benar melihat gambaran jelas bagaimana gletser-gletser Himalaya telah berubah," kata Joshua Maurer, salah satu peneliti dari Columbia University.
Tim peneliti telah meninjau 650 gletser di Himalaya yang membentang sepanjang 2.000 km. Tercatat sepanjang tahun 1975 sampai 2000, rata-rata sebanyak empat miliar ton es menghilang setiap tahun!
Namun antara tahun 2000 hingga 2016, pencairan gletser hampir dua kali lebih cepat. Suatu hal yang sangat mengkhawatirkan.
"Gletser paling banyak kehilangan es pada bagian kemiringan rendah dan di situlah sebagian besar penipisan berpusat. Beberapa zona tersebut telah menipis lima meter per tahun," lanjutnya menjelaskan.
Apa penyebabnya?
Penyebab mencairnya gletser di Pegunungan Himalaya, dinilai karena pemanasan global. Dalam jangka pendek, es yang mencair dalam jumlah banyak dapat menimbulkan banjir. Sedangkan jangka panjang, jutaan orang di kawasan itu yang bergantung pada air lelehan gletser selama bertahun-tahun dapat mengalami kekeringan berkepanjangan.
Dr Hamish Pritchard dari British Antarctic Survey, berpendapat bahwa pemanasan global harus menjadi isu besar yang dihadapi bersama oleh tiap negara. Pemanasan global pun ujung-ujungnya bakal membuat manusia menderita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar