Warga Tolandona, Buton Tengah, Sulawesi Tenggara memiliki tradisi unik Kande Tompa. Inilah ajang cari jodoh untuk yang masih jomblo.
Para gadis memberi suapan makan tamu pria yang datang, dan duduk saling berhadapan sembari bercerita saling kenal. Begitulah suasana dari tradisi unik ini.
Tradisi Kande Tompa ini merupakan tradisi turun temurun yang dilakukan oleh warga setempat. Sahrun, salah seorang tokoh masyarakat Tolandona, Kabupaten Buton Tengah mengatakan bahwa tradisi tersebut dipercaya warga sebagai salah satu ajang cari jodoh.
"Biasanya acara ini diikuti oleh muda-mudi yang belum memiliki pasangan sehingga nanti dilakukan perkenalan singkat yang dirangkaikan dengan acara makan," terangnya, Kamis (20/6/2019)
Sesi saling kenal berlangsung cepat, sejalan dengan berakhirnya alunan lagu tradisional. Pada akhir perjamuan, pria wajib memberi uang kepada gadis sebagai bentuk rasa terima kasih telah dijamu. Jamuan dilakukan berulang-ulang dan acara selesai hingga larut malam.
Reny Anguita, Peserta Kande Tompa menuturkan jika ia merasa bangga ikut sebagai salah satu peserta dalam tradisi adat tersebut. Diakuinya jika pengalaman ini menjadi pengalaman pertama baginya.
"Senang karena bisa ikut, ini pengalaman pertama buat saya," ujarnya.
Para gadis didandani dan memakai gaun tradisonal, untuk terlihat anggun. Pihak keluarga wajib menyiapkan senampan makanan dan kudapan khas lokal sebagai menu jamuan tamu pria.
Kande Tompa merupakan tradisi warisan turun temurun berusia ratusan tahun. Digelar setelah perayaan Lebaran, berselang 10 hari setelah hari raya Idul Fitri.
Travel Agent Masih Bisa Survive di Masa Depan, Asal..
Kemajuan teknologi yang serba online menjadi ancaman bagi para biro perjalanan atau travel agent konvensional. Ada hal penting yang perlu dibenahi.
Hadirnya ponsel canggih menawarkan perubahan dalam banyak aspek, tak terkecuali di bidang wisata atau travel. Malah tak sedikit pelaku wisata atau travel agent tradisional yang harus karam di tengah hadirnya online travel agency di Indonesia.
Keberlangsungan biro perjalanan konvensional atau retail serta korelasinya itu pun turut dibahas dalam riset terbaru Amadeus, satu dari 10 besar perusahaan teknologi yang bergerak dalam sistem distribusi global (Global Distribution System).
Menurut GM Amadeus untuk Indonesia, Andy Yeow, ia memahami hilangnya sejumlah pelaku retail yang menjadi korban saing dari OTA yang kian marak. Adapun, Andy menyebut kalau para pelaku wisata offline masih punya harapan untuk bersaing di masa depan.
"Retail masih hidup sekarang, tapi tak sedikit yang hilang. Beberapa masih bertahan dari insentif (perjalanan perusahaan-red), tapi itu tak selalu menjanjikan. Mereka harus berubah sekarang," ujar Andy.
Hadirnya teknologi online yang mulai merambah pasar wisata dan dunia travel tak seharusnya selalu dianggap sebagai ancaman. Pelaku jasa wisata konvensional pun dituntut untuk bebenah diri dan mengikuti kemajuan teknologi.
"Sekaranglah waktunya bagi retail (travel agent). Para milenial akan lebih banyak traveling dan terhubung dengan internet. Carilah cara bagaimana menghubungkan teknologi dan retail secara berbarengan," ujar Andy.
Andy melihat, bahwa pelaku wisata tradisional masih banyak yang belum terhubung dengan teknologi dalam pendekatannya. Di satu sisi, penyedia jasa wisata tradisional masih punya peluang untuk bertahan menghadapi para online travel agent atau OTA.
Penyedia jasa wisata harus bisa mengadopsi teknologi serta melatih pemandu wisata dan pengguna untuk menciptakan sentuhan yang lebih personal. Termasuk juga menggandeng penyedia teknologi yang tepat.
"Penyedia jasa wisata tak akan hilang, tapi penyedia jasa wisata yang membosankan iya," tutup Andy.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar