Selasa, 21 Januari 2020

Permudah Wisatawan, Kini Dieng Pakai Aplikasi Barcode

Ada yang baru di kawasan wisata Dieng. Wisatawan bisa mengakses informasi dengan mudah lewat aplikasi barcode.

Treveler yang ingin mengetahui seluk-beluk informasi tentang dataran tinggi Dieng tidak perlu ribet lagi. Kini semua informasi tentang obyek wisata dalam genggaman melalui teknologi barcode.

Wisatawan dapat memanfaatkan aplikasi di gadget melalui scanner untuk memindai barcode. Layanan ini, tersedia di semua obyek wisata di dataran tinggi Dieng.

Kepala UPT Pengelolaan Obyek Wisata Banjarnegara Aryadi Darwanto mengatakan, dengan layanan barcode akan mempermudah wisatawan untuk mengetahui perihal tentang obyek wisata di Dieng. Misalnya, obyek wisata Candi Arjuna, wisatawan akan mengetahui sejarah dari candi melalui barcode.

"Wisatawan dengan mudah mendapatkan informasi sejarah candi-candi, cerita beberapa dewa Hindu," ujarnya di obyek wisata Dieng, Minggu (16/6/2019).

Barcode ini ada di semua obyek wisata, termasuk arca-arca di museum Kaliasa. Selain itu, juga dipasang di Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, kantor Geo Dipa Energi serta obyek wisata lainnya.

"Harapannya, wisatawan dengan mudah mendapatkan informasi tentang budaya, legenda Dieng, vulkanalogi, geotermal, dan paket wisata. Sehingga, harapan Dieng menjadi destinasi wisata edukasi yang bermanfaat bagi dunia pendidikan bisa terwujud," harapnya.

Layanan ini, sudah bisa dinikmati wisatawan mulai pekan depan. Nantinya, barcode ini tidak hanya dipasang di obyek wisata yang secara geografis masuk wilayah Banjarnegara, namun di semua kawasan obyek wisata Dieng.

"Pada intinya, untuk memudahkan wisatawan. Jadi tidak hanya obyek wisata yang ada di Banjarnegara tetapi di semua kawasan," terangnya.

Sumbawa Pakai Barapan Kerbau Untuk Silaturahmi

Masyarakat Sumbawa punya tradisi balapan kerbau. Bukan sekadar balapan, tapi ada makna tersendiri.

Barapan Kebo sudah menjadi tradisi yang cukup diminati masyarakat Sumbawa, NTB. Atraksi budaya ini bukan hanya sekadar lomba, tetapi juga sebagai ajang silaturahmi dan transaksi ekonomi.

Masyarakat suku Sumbawa memiliki moto Sabalong Samalewa (Samawa). Filosofi hidup itu dalam pemahaman yang luas bisa diartikan sebagai suatu perjuangan yang seimbang dan dilakukan secara bersama-sama.

Salah satu pegiat pariwisata budaya Sumbawa, Ari Abdussalam (37) saat berbincang dengan detikcom, Minggu (16/6/2019) menjelaskan kaitan tentang semangat dan nilai silaturahmi di anggota komunitas penghobi barapan kebo.

Banyaknya peserta yang ikut barapan setiap pekan menandakan jika atraksi budaya ini sangat digemari. Peserta yang ikut berlomba datang dari dua kabupaten yang berbeda, yakni Kabupaten Sumbawa dan Kabuaten Sumbawa Barat.

Sebagai suatu ajang silaturahmi, Ari menuturkan bahwa peserta yang datang dari desa yang jaraknya cukup jauh biasanya sehari sebelum barapan mereka sudah berangkat ke lokasi arena.

Peserta yang saling mengenal juga akan saling menghubungi kerabatnya. Selain itu, panitia penyelenggara juga sudah bisa menyesuaikan lokasi tempat menginap kepada semua peserta tamu yang datang dari jauh.

Setiap barapan selalu ada transaksi jual beli. Harga kerbau yang dipakai barapan itu bergantung dari kecepatan lari dan besar kecilnya. Ada kerbau barapan yang dijual dengam harga Rp 10 juta sampai dengan Rp 25 juta per ekor.

"Tapi kalau orang mau beli biasanya satu ekor dulu. Nanti waktu ada kegiatan barapan di tes dulu kecepatan larinya sama yang kira-kira pas dengan kerbau pasangannya dan mana yang sepadan. Kalau cocok dibayar," tuturnya Ari.

Kerbau yang dipakai barapan biasanya dipersiapkan sejak umur di bawah satu tahun dan sudah mulai diajarkan barapan. Untuk kerbau yang akan dipakai barapan hanya kerbau jantan saja dan biasanya diajari berlari sedari masih kecil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar