Dunia penerbangan memang berkembang cepat. Tapi tahukah kamu, pesawat zaman sekarang ternyata terbang lebih lambat bila dibandingkan era 1990-an.
Dihimpun detikcom dari beberapa sumber, Kamis (27/6/2019), berdasarkan penelitian MIT School of Engineering, kecepatan pesawat komersial zaman sekarang berkisar antara 480 sampai 510 knots. Sementara itu, pada pesawat zaman dulu kecepatannya bisa mencapai 525 knots.
Karena kecepatannya lebih lambat, maka waktu tempuh pesawat zaman sekarang jadi sedikit lebih lama. Contohnya saja di era tahun 1995, penerbangan dari Madrid menuju ke Barcelona memakan waktu 55 menit saja. Namun sekarang, penerbangan dengan rute yang sama menempuh waktu 1 jam 15 menit.
Masih di tahun yang sama (1995), penerbangan dari London, Inggris menuju ke Edinburgh, Skotlandia memakan waktu 1 jam 15 menit. Sekarang, penerbangan rute tersebut waktu tempuhnya jadi 1 jam 25 menit.
Balik ke era tahun 1970-an, penerbangan dari New York menuju ke Houston, Texas memakan waktu 2 jam 37 menit. Sekarang, penerbangan dengan rute yang sama memakan waktu 3 jam 50 menit.
Ternyata ada alasan utama mengapa pesawat zaman sekarang terbang dengan kecepatan lebih lambat. Jawabannya hanya ada satu kata: uang.
Menurut Business Insider, dengan terbang lebih lambat pihak maskapai bisa menghemat uang operasional yang lebih banyak. Makin hemat operasional, maka margin keuntungan makin banyak pula.
Salah satu maskapai, Jet Blue mengakui bisa menghemat hingga 10 juta Poundsterling (setara Rp 179 Miliar) di tahun 2008 hanya dengan terbang 2 menit lebih lambat di setiap penerbangan.
Tapi beberapa maskapai menolak klaim tersebut, bahwa mereka terbang lebih lambat hanya demi menghemat bahan bakar. Banyak faktor yang terlibat, salah satunnya faktor alam berupa turbulensi yang bisa membuat pesawat melaju lebih lambat.
Potensi Transaksi Bali & Beyond Travel Fair 2019 Capai Rp 9,06 Triliun
Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2019 resmi dibuka di Garuda Wisnu Kencana (GWK), Jimbaran, Bali. Event ke-6 ini, akan berlangsung hingga 29 Juni, di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC), Kabupaten Badung, Bali. Tak tanggung-tanggung, potensi transaksi yang bisa digali dari BBTF 2019 sekitar Rp 9,06 triliun.
"BBTF menawarkan banyak peluang. Potensinya besar. Ada peningkatan peserta yang signifikan. Kami harap semua industri bisa memanfaatkan momentum ini," ungkap Ketua Panitia BBTF 2019, I Ketut Ardana dalam keterangan tertulis, Kamis (27/6/2019).
BBTF 2019 menampilkan 234 peserta yang terbagi dalam 10 zona. Zona paviliun Wonderful Indonesia 12 peserta, paviliun Asita 36 peserta, paviliun Sulawesi 12 peserta, paviliun Gianyar Regency 16 peserta, paviliun Sulawesi Selatan 7 peserta, Badan Otorita Danau Toba 5 peserta, paviliun 10 Destinasi full, Platinum Area 18 peserta, Silver Area 10 peserta, dan Gold Area 108 peserta.
"Antusiasme peserta luar biasa. Kami ucapkan selamat datang pada seluruh peserta BBTF di Bali. Bali itu pulau yang indah, sangat toleran, dan penuh cinta. Selain itu, Bali sangat unik dan eksotis. Kami selalu memiliki komitmen untuk memajukan pariwisata Bali dengan beragam infrastruktur," papar Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati.
Para peserta BBTF 2019 berasal dari berbagai latar belakang industri pariwisata. Komposisinya terdiri dari hotel & resort, travel agent, pemerintah, tour attraction, tourist destination, maskapai penerbangan, dan yang lainnya. Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya pun memberikan apresiasi bagi BBTF yang konsisten menggelar event.
"BBTF event yang besar. BBTF bukan hanya mempromosikan Bali, tapi juga pariwisata Indonesia. Event ini selalu memberikan impact positif bagi perekonomian. BBTF juga menawarkan potensi bisnis yang menggiurkan," ungkap Arief.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar