Banyuwangi kembali menggelar event sports tourism bagi pelajar. Mereka akan berlari menyusuri kawasan Gombengsari yang terkenal dengan perkebunan kopinya.
Lokasinya berhawa sejuk di area lereng Gunung Ijen, Banyuwangi. Bertajuk Gombengsari Plantation Run, akan dilaksanakan pada Minggu 23 Juni 2019 besok.
Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, Banyuwangi telah menggelar berbagai kompetisi olahraga lari seperti Ijen Green Run, Banyuwangi Half Marathon, Chocolate Glenmore Run dan lainnya. Di setiap kompetisi tersebut, animo peserta dari kalangan pelajar baik dari dalam maupun luar daerah sangat besar.
"Bahkan pelajar Banyuwangi tercatat beberapa kali keluar jadi juara pertama di berbagai lomba tersebut. Makanya kami ingin memfasilitasi sekaligus menjaring anak-anak berbakat daerah lewat lomba lari Gombengsari Plantation run ini," kata Bupati Anas, Selasa (18/6/2019)
"Sekaligus kami ingin mencari bibit-bibit pelari muda Banyuwangi. Lewat berbagai event yang konsisten kami gelar, akan terlihat siapa yang bertalenta untuk selanjutnya dilatih lebih serius," imbuhnya.
Lomba pun sengaja digelar di wilayah perkebunan Desa Gombengsari yang hawanya terkenal sejuk. Desa tersebut kaya akan potensi perkebunan dan hutan, seperti kopi, coklat, cengkeh dan aneka buah, berbagai tanaman kayu hingga potensi peternakan kambing etawa.
Desa ini juga memiliki destinasi wisata hutan pinus yang berhawa sejuk dengan pemandangan indah yang dikenal dengan Puncak Asmoro. Puncak Asmoro menawarkan keindahan pemandangan tiga gunung yang ada di Banyuwangi yakni Ijen, Raung dan Meranti hingga perairan Selat Bali.
"Gombengsari merupakan sentra perkebunan kopi rakyat di Banyuwangi yang sekarang berkembang menjadi salah satu destinasi pariwisata. Lewat even ini pelajar dikenalkan beragam potensi tersebut. Ini akan memperkaya wawasan mereka tentang daerah," ujarnya.
Ditambahkan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, Wawan Yadmadi Gombengsari Plantation Run akan diikuti oleh 750 pelajar yang terbagi atas tiga kategori, yakni kategori SD, SMP dan SMA. "Nantinya peserta akan memperebutkan juara I, II dan III dengan tiap kategori terbagi atas juara putra dan putri," ujarnya.
Peserta akan mengambil start di wana wisata bumi perkemahan Sumber Manis, Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi tepat pukul 07.00 pagi, hingga finis kembali di tempat yang sama.
Seluruh peserta, akan melintasi rute yang sama dengan jarak tempuh sejauh 5 kilometer. Lintasan yang dilalui peserta terdiri atas jalanan pedesaan, areal perkebunan hingga tanah berbukit.
"Selain perkebunan kopi peserta juga akan menikmati hawa sejuk hutan pinus dan mahoni," pungkasnya.
Libur Panjang, Pengamen Kreatif Dieng Panen Penghasilan
Suhu dingin di Batu Ratapan Angin Dieng Plateau terasa hangat oleh alunan calung. Musik tradisional ini jadi berkah bagi tiga remaja ini.
Mereka mampu menghadirkan hiburan tersendiri bagi pengunjung. Seperangkat angklung atau calung, drum lengkap dengan simbal dan drum plastik bekas ditutup ban sebagai bongo mampu memainkan lagu-lagu yang hits saat ini.
Aransemen musik yang kental nuansa kearifan lokal Wonosobo menjadikan permainan calung ini jadi pusat perhatian pengunjung. Apalagi, mereka tepat mengambil posisinya, yakni berada di sebelah kanan tangga utama menuju Bukit Ratapan Angin.
Sebuah kotak kardus diletakkan di atas kursi kayu untuk tempat donasi dari para pengunjung. Tak heran, kardus untuk tempat donasi terisi banyak uang. Apalagi saat libur panjang. Iqbal, sang ketua mengaku jika musim liburan kardus itu bisa terisi donasi Rp 900 ribu.
"Kalau musim liburan, banyak pengunjung seperti ini, sehari bisa dapat Rp 900 ribu," kata Iqbal membuka cerita pada detikcom, Selasa (16/6/2019).
Namun jika pada hari biasa, Iqbal bersama lima anak lainnya hanya mendapat donasi sekitar Rp 200 ribu. Untuk menyiasati agar pembagian merata, Iqbal biasanya mengatur secara bergantian personil yang memainkan calung.
"Saya paling tua. Yang lima itu, tiga diantaranya masih sekolah SMP. Jadi saya atur jadwal yang main di sini. Biar adil dapat rezekinya dan yang sekolah nggak keganggu," jelas warga Jajakan, Wonosobo itu.
Iqbal memang pandai membaca situasi dan peluang kerja. Enam bulan lalu, saat dia pulang ke kampungnya, sempat berkeliling kawasan Dieng Plateau. Lajang 32 tahun itu kemudian bermain gitar untuk memecah suasana dingin dan bisu di kawasan Bukit Ratapan Angin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar