Jumat, 15 Mei 2020

90 Persen Kasus Corona Impor di Singapura Tak Terdeteksi Thermal Scanner

Sembilan dari 10 kasus COVID-19 yang terinfeksi virus corona di Singapura tidak menunjukkan gejala seperti, demam saat mereka melewati pos pemeriksaan perbatasan.
Akibatnya, mereka yang tidak menunjukkan gejala keesokannya terdeteksi, kata Kementerian Kesehatan Singapura. Dijelaskan, 90 persen dari kasus yang dilaporkan di Singapura terungkap saat mereka menemui dokter di rumah sakit atau klinik dokter.

"Mereka tidak menunjukkan gejala ketika di pos pemeriksaan," tambahnya, dikutip dari Straits Times.

Traveller yang datang ke Singapura pun harus melewati thermal scanner, yang bertujuan untuk membantu mengidentifikasi mereka yang demam. Jika mereka memiliki gejala pernapasan atau lainnya maka akan diminta untuk melakukan tes swab COVID-19.

Sementara itu, di Singapura memiliki 119 kasus secara keseluruhan dalam tiga hari, dengan 87 di antaranya merupakan imported cases, data dari Kementerian Kesehatan,saat dikutip dari Straits Times.

Ada kekhawatiran yang meningkat, bahwa orang dengan virus corona bisa saja tidak menunjukkan gejala, seperti demam, batuk kering dan sesak napas. South China Morning Post melaporkan, pada hari Minggu (22/3/2020), bahwa sebanyak sepertiga dari orang yang dites positif tidak menunjukkan ada gejala sama sekali.

Pemerintah pun juga memperketat perbatasan guna membantu menghentikan penyebaran virus corona, traveller yang memasuki Singapura, terlepas dari mana mereka berasal, telah diberi pemberitahuan untuk tinggal di rumah selama 14 hari. Itu diwajibkan bahkan bagi mereka yang sehat.

Kementerian juga mengatakan tindakan pencegahan lainnya adalah, bagi mereka yang melakukan kontak fisik dengan kasus yang terkonfirmasi saat melakukan penerbangan. Mereka akan diwajibkan melakukan karantina.

Langkah-langkah pengendalian lainnya adalah, di daerah perbatasan akan diintensifkan pada Senin (23/3), dalam upaya lebih lanjut untuk mengurangi risiko imported case virus corona. Dan semua pengunjung baik itu turis maupun melakukan transit akan dilarang.

Viral Dokter Pulang Kerja Disambut Tepuk Tangan dari Tetangga

Di tengah wabah virus corona COVID-19, ada tenaga medis yang mendapat diskriminasi dari lingkungan. Penyebabnya karena mereka dianggap berisiko menularkan penyakit sehingga ada yang dijauhi oleh para tetangga bahkan sampai diusir.
Seperti misalnya yang terjadi oleh salah satu perawat yang kini harus tinggal di RSUP Persahabatan. Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Harif Fadhilah mengatakan pihak manajemen rumah sakit berusaha mencarikan tempat tinggal untuk perawat yang jadi korban stigma tersebut.

"Kami mendapat laporan dari perawat itu bahwa ada teman-temannya tidak kos lagi di sana, di tempat kosnya. Karena setelah diketahui rumah sakit tempat bekerjanya tempat rujukan pasien COVID-19. Mereka sekarang, saya sudah tanya mereka, tinggalnya di rumah sakit dulu," kata Harif beberapa waktu lalu.

Tidak semua tenaga medis mendapat diskriminasi. Di beberapa tempat, tenaga medis tampak mendapat apresiasi oleh lingkungannya seperti ditunjukkan video viral yang dibagikan oleh Twitter Vala Afshar.

Dalam video tersebut tampak pria yang disebut seorang dokter sedang mengendarai motor saat menyadari masyarakat sekitar bertepuk tangan dan membunyikan lonceng. Sang pria sempat melihat ke atas memperhatikan balkon-balkon rumah sambil tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar