Rabu, 15 Januari 2020

Bule Ini Kecewa dengan Foto di Candi Lempuyang, Bali

Seorang bule kecewa dengan foto di Candi Lempuyang, Bali yang ternyata hanya tipuan optik. Dia menyalahkan para influencer dan curhat di Twitter.

Membagikan ragam foto cantik, epik dan menarik saat traveling telah menjadi tuntutan para selebgram. Karena kekuatan edit dan angle yang bagus, orang-orang pun tertarik berkunjung ke destinasi tersebut.

Namun baru-baru ini, seorang turis yang juga seorang jurnalis asal Amerika Serikat kecewa karena apa yang ditemukannya di Candi Lempuyangan ternyata tidak seepik di Instagram.

Dirangkum detikcom, Senin (8/7/2019) Polina Marinova, mencurahkan isi hatinya di Twitter setelah berkunjung ke Candi Lempuyang di Bali. Dia kecewa karena ternyata foto epik di instagram hanya ilusi visual.

Dalam cuitannya dia mengatakan bahwa para selebgram telah mengacaukan semuanya. Harapannya hancur karena dia berfikir akan menemun 'air' di Gates of Heaven yang sebenanrnya itu hanyalah pantulan dari cermin di bawah iPhone.

Candi Lempuyang begitu populer di kalangan turis, terutama gerbangnya. Sakung indahnya gerbangnya dijuluki 'Gate of Heaven' dan sangat populer sebagai spot instagramable.

Cuitannya ini mendapatkan banyak respon. Poline berpikir bawah pantulan yang ada di foto-foto di gerbang Candi Lempunyagnan berasal dari genangan air atau danau yang ada di dekat gerbang. Namun ternyata ini hanya permainan optik saja!

Ternyata tidak hanya Poline yang merasa 'ditipu' teknik pengambilan foto ini. Beberapa turis yang juga berkomentar dicuitannya mengutarakan hal yang sama. Mereka berfikir juga ada danau di gerbang candi.

Walau banyak turis yang merasa 'dijebak' oleh foto-foto Instagram, Candi Lempuyang sejatinya tetaplah indah. Kamu bisa menikmati pemandangan megahnya Gunung Agung dan hamparan pemandangannya.

Dan satu lagi, banyak destinasi indah yang bisa dikunjungi di Bali tanpa perlu diedit dengan ragam filter. Mulai dari pantai, air terjun, ragam pura, dan atraksi lainnya.

Langkah Sawahlunto Setelah Dapat Status UNESCO

Sawahlunto di Sumbar telah berhasil mendapat pengakuan UNESCO di bidang budaya. Setelah ini, ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan.

Dihubungi oleh detikcom via sambungan telepon, Senin (8/7/2019) Plt Kadis Pariwisata Sawahlunto, Ir H Radam menyampaikan kebahagiaannya usai Sawahlunto meraih status UNESCO.

Tak segera berpuas diri, Radam pun sudah memiliki sejumlah pemikiran untuk Sawahlunto usai meraih status prestisius tersebut. Yang pertama adalah dengan menjaga apa yang sudah Sawahlunto miliki.

"Pertama dari pariwisata kami pasti minta pengarahan dulu, tapi sementara dari pikiran saya sebagai kadis, menjaga apa yang sudah kita pertahankan," ujar Radam.

Ia pun menyatakan keinginannya untuk menjaga sejumlah bangunan cagar budaya dan peninggalan Belanda yang masih tersisa di Sawahlunto. Salah satunya terkait orang rantai yang dahulu bekerja di tambang-tambang di sana.

"Sampai kuburan Belanda itu kami lestarikan, apalagi cagar budaya yang gedung-gedung itu. Tempat mandi pekerja pun kami lestarikan dan renovasi dengan adanya pengakuan UNESCO itu," pungkas Radam.

Yang kedua, Radam juga ingin memetakan kembali sejumlah peninggalan bersejarah dan mendaftarkannya ke pihak terkait.

"Yang kedua kita masih menggali potensi-potensi yang dulu dibangun Belanda dan kita tambah lagi situs yang belum didaftarkan," tutup Radam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar