Rabu, 15 Januari 2020

Langkah Sawahlunto Setelah Dapat Status UNESCO

Sawahlunto di Sumbar telah berhasil mendapat pengakuan UNESCO di bidang budaya. Setelah ini, ada beberapa hal penting yang perlu dilakukan.

Dihubungi oleh detikcom via sambungan telepon, Senin (8/7/2019) Plt Kadis Pariwisata Sawahlunto, Ir H Radam menyampaikan kebahagiaannya usai Sawahlunto meraih status UNESCO.

Tak segera berpuas diri, Radam pun sudah memiliki sejumlah pemikiran untuk Sawahlunto usai meraih status prestisius tersebut. Yang pertama adalah dengan menjaga apa yang sudah Sawahlunto miliki.

"Pertama dari pariwisata kami pasti minta pengarahan dulu, tapi sementara dari pikiran saya sebagai kadis, menjaga apa yang sudah kita pertahankan," ujar Radam.

Ia pun menyatakan keinginannya untuk menjaga sejumlah bangunan cagar budaya dan peninggalan Belanda yang masih tersisa di Sawahlunto. Salah satunya terkait orang rantai yang dahulu bekerja di tambang-tambang di sana.

"Sampai kuburan Belanda itu kami lestarikan, apalagi cagar budaya yang gedung-gedung itu. Tempat mandi pekerja pun kami lestarikan dan renovasi dengan adanya pengakuan UNESCO itu," pungkas Radam.

Yang kedua, Radam juga ingin memetakan kembali sejumlah peninggalan bersejarah dan mendaftarkannya ke pihak terkait.

"Yang kedua kita masih menggali potensi-potensi yang dulu dibangun Belanda dan kita tambah lagi situs yang belum didaftarkan," tutup Radam.

Mitos Harta Karun Benteng Eksekusi Belanda di Bandung Barat

Belanda menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Indonesia. Di Bumi Pasundan ini terdapat sebuah benteng eksekusi Belanda yang punya mitos harta karun.

Benteng Legokjawa menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia melawan penjajah Kolonial Belanda di Kampung Nyalindung, Desa Cirawamekar, Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Bangunan yang diperkirakan dibangun pada tahun 1912-1918 ini masih berdiri kokoh meski bentuk bangunannya sudah tak utuh lagi. Benteng ini berhadapan dengan rel kereta api Bandung-Sukabumi yang berada di lembahnya.

Benteng ini merupakan salah satu benteng yang dibangun Belanda di Cirawamekar, selain Benteng Gedong Dalapan di perbukitan Ganasoli. Warna catnya kusam karena tak terawat dan termakan usia. Tanaman merambat dan menjalar di balik-balik celah bangunan.

Di dalam benteng terdapat delapan ruangan yang berderet ke samping. Tiap ruangan memiliki luas sekitar 2 m x 3,5 m. Semua ruangan itu saling terhubung satu sama lainnya.

Tampak luar tiap ruangan itu memiliki satu pintu yang diapit dua jendela. Terlihat baut besi bekas engsel pintu masih menancap di luar dindingnya. Sementara bagian atap benteng tertutupi tanah dan belukar.

Memang awalnya bangunan ini sengaja ditutup semak belukar sebagai bentuk kamuflase agar sulit ditemukan musuh. Konon, di sinilah tentara Belanda bersembunyi, menyimpan senjata dan mengeksekusi musuhnya.

Atap ruangan berbentuk cembung, di tiap dindingnya terdapat sebuah jendela sehingga bisa terlihat isi ruangan di sebelahnya. Ada beberapa lubang galian di dalam bunker tersebut.

"Warga penasaran karena katanya ada harta karun atau benda berharga di dalam bunker tersebut, tapi setelah dibongkar enggak ada apa-apa," ujar Ana Sunaryan(77), sesepuh di kampung tersebut, Senin (8/7/2019).

Selain itu, terdapat coretan vandalisme di bangunan tersebut. Baik di dalam maupun di dalam Benteng Legokjawa. Pasalnya, bangunan ini tak terpantau dan relatif jauh dari tempat aktivitas warga.

Bangunan bunker ini terletak di tengah perkebunan karet dan agak sulit ditemukan. Tak ada papan penunjuk untuk menuju lokasi ini, detikcom pun hanya mengandalkan petunjuk dari warga sekitar.

"Tempat itu mulai jarang dikunjungi, warga pun banyak menanam karet dan pisang di sana," ujar Ana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar