Selasa, 21 Januari 2020

Korsel Jadi Tempat Liburan Impian Siswi SMA Jepang

Ada sebuah tradisi di Jepang. Setelah kelulusan SMA, para siswinya akan merayakannya di Tokyo Disneyland. Namun sekarang tujuan mereka berganti Korsel.

Jepang punya tradisi kelulusan yang ngetren di kalangan para siswi. Mereka akan merayakan kelulusan mereka di Tokyo Disneyland, seperti yang diintip detikcom, Sabtu (16/6/2019).

Tradisi ini dilakukan sebagai pemberian hadiah kepada diri sendiri setelah sekolah. Intinya, liburan untuk melepaskan penat setelah lulus.

Situs jaringan online Koukousei Lab 47, melakukan penelitian terhadap tradisi tersebut. Melalui jajak pendapat dengan 513 siswi lulusan SMA dari seluruh Jepang, ada data menarik tentang tradisi ini.

Tokyo Disneyland yang terkenal sebagai tempat perayaan kelulusan ternyata sudah tidak lagi dipandang menarik. Mereka sudah punya destinasi baru untuk liburan kelulusan, Korea Selatan.

Ada kesimpulan menarik yang diberikan oleh situs tersebut. Korea Selatan dinilai menggiurkan untuk keperluan Media Sosial dan kekinian.

Berbagai atraksi dan parade di Tokyo Disneyland kalah pamor dengan makanan, produk kecantikan dan K-Pop.

Hasilnya, banyak siswi yang berlomba-lomba untuk merayakan kelulusannya dengan berlibur ke Korea Selatan. Dan tentu saja, pamer di Media Sosial.

Mengangkat Musik Tradisional di Toba Caldera World Music Festival

Gelaran Toba Caldera World Music Festival (TCWMF) 2019 terbukti efektif jadi promosi wisata. Event yang dibuka Jumat (14/6/2019), sangat menghibur. Bukan saja atraksinya, rangkaiannya pun cukup semarak. Salah satunya workshop dan diskusi musik yang dihadirkannya.

Menghadirkan musisi senior Djaduk Ferianto serta Irwansyah Harahap, diskusi ini mengangkat kekayaan musik asli Indonesia.

"Musik tradisi Indonesia merupakan kekuatan yang luar biasa bagi dunia. Keberagamanya menjadi aset besar. Anak-anak muda harus berani membuka diri dengan keberagaman ini, yang pada akhirnya semakin menguatkan musik Indonesia di peta dunia," papar Djaduk dalam keterangannya, Minggu (16/6/2019).

Bagi musisi senior ini, musik adalah jati diri, musik adalah sebuah eksistensi. Maka dari ini peran generasi muda sangat diperlukan untuk mempertegas jati diri bangsa.

Apalagi korelasi musik dan pariwisata yang saat ini tengah digiatkan begitu dekat. Karena kekuatan musik tradisi atau world musik Indonesia ini sangat luar biasa. Dan musik terbukti menjadi magnet tersendiri bagi wisatawan.

"Salah satunya lewat TCWMF 2019 ini. Ini adalah salah satu media kita mengabarkan dunia betapa kayanya musik yang kita miliki. Ini sangat luar biasa, apalagi perhelatan ini melibatkan banyak musisi dari luar," katanya.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani pun berada dibarisan yang sama. Baginya musik selalu menjadi endorser yang baik bagi pariwisata. Musik selalu menjadi magnet yang menjual dalam atraksi yang bisa mendatangkan banyak wisatawan.

"Ini merupakan pelengkap dari elemen 3A yang di canangkan Menpar Arief Yahya. Akses serta amenitas yang baik tentunya akan didukung dengan atraksi yang baik. Dan musik terbukti selalu menjadi atraksi yang baik dalam menjaring wisatawan. Contohnya perhelatan ini. Lihat saja penonton memadati lokasi acara," katanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar