Senin, 20 Januari 2020

Melihat Jailangkung di Museum Kesehatan Surabaya (4)

Saat itu saya sempat menatap mata kedua Jailangkung dan Nini Towok (ini kok jadi tatap-tatapan sih) dan saya melihat mereka mengenakan baju seperti piyama berlengan panjang. Jujur lagi nih, saya merasa "mereka" menatap balik saya. Dan bapak pemandu pernah mencuci baju kedua boneka tersebut yang berlumuran darah. Apa yang terjadi selanjutnya masih diingat oleh bapak secara detail dan sekarang...saya mengingatnya juga.

Disini kalian juga akan lihat satu kurungan ayam yang berisikan boneka bayi dan rumah adat Timor-Timor berselimuti bulu-bulu ijuk berwarna hitam. Itu adalah rumah bagi orang yang sakit. Sedangkan boneka bayi yang agak seram di dalam kurungan bayi itu adalah metode penyembuhan penyakit seorang bayi yang didoakan oleh sang dukun bayi. Tapi bayinya mukanya serem banget :(

Setelah itu ada ruangan lagi yang memuat informasi mengenai Dr. Hariyadi mulai dari silsilah keluarga beliau dan prestasi yang telah dicapai oleh beliau. Kedua anak beliau, bu Kartika dan Karmila, adalah seorang dokter pula.

Tips Mengunjungi Museum dengan Aman:

1. Niatkan pada niat yang bermanfaat dan jelas. Jangan untuk menantang atau uji nyali gitu ya. Kesannya kok kalian nyari susah terhadap diri sendiri.

2. Fokus dan jangan kosong. Jangan pernah pikiran kalian kosong. Kalau yang muslim, bisa istighfar atau menyebut nama Allah terus menerus.

3. Ucapkan salam dan "permisi". Meskipun museum serasa milik sendiri saya selalu mengucapkan itu pelan sekali. Ngga ada salahnya dilakukan.

4. Bawa minum sendiri. Museumnya gede banget dengan ruangan yang berbeda-beda. Kantinnya kadang tutup juga.

5. Tanyakan hal dengan bahasa yang sopan. Kalo pake pemandu, biasakan bertanya dengan gaya bahasa yang sopan. Sebisa mungkin hindari frasa, "ah masa?", "ngga percaya saya", "itu paling pikiran...saja", "itu bisa dijelaskan dengan ilmiah", "dalam agama saya, hal seperti itu tidak ada" dll.

6. Jangan sombong. Jangan merasa kalian tahu segalanya dan museum itu tidak akan membuat kalian takut sedikitpun. Jangan. Saya mendengar sendiri kesaksian bapak apa yang terjadi dengan pengunjung dengan tipe seperti ini. Percayalah, jangan muncul rasa sombong.

7. Ganti baju, mandi, dan berdoa selesai pulang dari museum. Untuk muslim, sangat disarankan untuk mandi besar, ganti semua baju termasuk pakaian dalam, dan selesai shalat rukyah diri sendiri. Rukyah saya kemarin adalah saat setelah selesai shalat, saya membaca Al Fatihah, Ayat Kursi, An Nas (3x), Al Falaq (3x), dan Al Ikhlas (3x) lalu saya usapkan ke ubun-ubun sampai badan saya.

8. Percayalah Tuhan agama kalian masing-masing adalah sebaik-baik pelindung. Namun, jangan menolak kenyataan bahwa kalian hidup berdampingan dengan "mereka" yang tak kasat mata. Hormati "mereka". Dan jangan sampai rasa takut overpowering pikiran kalian. Ingat kan bapak pemandu bilang apa soal ciri-ciri orang yang senang 'mereka' dekati?

9. No children or baby, please. Sebetulnya ini ngga ada larangan tertulis. Tapi asli ges, please lah ngga usah bawa anak kecil atau bayi kesini. Orang Jawa bilang bisa ketempelan karena anak kecil dan bayi masih sangat suci dan polos. Dan mohon diingat baik-baik sejarah museum ini. Ajak ke Jatim Park aja lah mereka! :)

Tiket masuk
Rp. 1500 (sudah termasuk tiket, brosur, dan poster buah dan khasiatnya)

Cara ke Museum Kesehatan

1. Terminal Bungurasih
- Naik Damri jurusan Tanjung Perak, turun di Jl Indrapura.

2. Terminal Joyoboyo
- Naik angkutan M, turun di Jl Indrapura.

3. Terminal Bratang
- Naik angkutan N, turun di Jl Indrapura.

Alamat Museum Kesehatan
Jl. Indrapura 17 Surabaya 60176
Telp: (031) 3528 748, ext. 105, 133
Fax. (031) 3528 749

Buka setiap hari kecuali hari besar nasional mulai dari pukul 08.00-15.00 WIB.

Kesimpulan

Jadi kesimpulannya, museum ini bagaimana? Kalau saya ada 2 kata yang tepat; menarik (dari segi ilmu dan budaya Indonesia dalam mengobati penyakit belum lagi sejarah museum, dan of course segudang pengalaman bapak pemandu yang saya dapatkan) dan seram. Yap, saya akui saya takut. Namun, saya menyikapinya sebagai pengalaman yang tak terlupakan dengan banyaknya ilmu medis dan budaya Indonesia dalam mengobati penyakit yang saya dapatkan. Apakah kalian berani ke sini?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar