Semut peluru adalah salah satu spesies semut terbesar di dunia. Bahkan disebut berbahaya, karena gigitannya bisa menimbulkan rasa sakit 24 jam!
Banyak binatang yang unik di dunia, seperti dari ukuran atau 'senjata-senjatanya' yang mematikan. Di hutan Amazon, Amerika Selatan bukan hanya ikan piranha yang terkenal sangar. Ada juga, si Paraponera clavata alias semut peluru.
Dilansir dari BBC Earth, Kamis (27/6/2019) seorang ahli entomologi (yang mempelajari tentang serangga) Dr Justin Schmidt dari Southwestern Biological Institute, AS pernah menggelompokan gigitan-gigitan serangga yang paling berbahaya. Semut peluru ada di level 4 sejajar dengan tawon pemangsa tarantula.
Di level 3 ada tawon kertas dan semut pemanen. Di level 2 yakni lebah madu dan tawon vespula, di level 1,5 ada semut 'bullhorn acacia' dan di level 1 ada semut api serta lebah keringat.
Apa bahayanya semut peluru?
"Gigitan semut peluru adalah suatu hal yang tidak ingin kamu tahu," kata Dr Justin Schmidt.
Justin menjelaskan, dinamakan semut peluru karena rasa sakit dari gigitannya seperti terkena tembakan peluru. Tapi menurutnya yang pernah terkena gigitan semut tersebut, rasa sakitnya lebih dari itu.
"Bayangkan jika Anda berjalan di atas arang yang panas dengan paku 3 cm yang tertancap di tumit. Ya seperti itu," terang Justin.
Bahkan, gigitan semut peluru dapat membuat manusia merasakan rasa sakit 12-24 jam. Tubuh akan menjadi lemas, panas dingin dan lain sebagainya. Bisa-bisa sampai pingsan!
"Rasa sakitnya begitu intens," tegas Justin.
Semut peluru ukurannya bisa mencapai 3 cm. Begitu besar ukurannya dan mudah mengenalinya di hutan Amazon.
Menariknya, Suku Mawe di hutan Amazon justru punya tradisi penanda kejantanan seorang pria melalui semut peluru. Jadi, mereka akan memasukan tangan ke dalam bungkusan daun yang dirajut membentuk seperti sarung tangan dan isinya adalah semut peluru!
Namun ada baiknya, kamu menghindari kawanan semut peluru kalau sedang menjelajahi hutan Amazon. Jangan sampai, merasakan gigitannya. Jangan!
Cerita Miris Bekas Karantina Haji Termewah Se-Indonesia
Dahulu, sudah lama, bangunan bercat putih itu adalah lokasi karantina haji paling mewah se-Indonesia. Sekarang kondisinya memprihatinkan.
Lokasinya berdiri kokoh di tengah hutan Pulau Rubiah, Sabang. Padahal, situs Karantina Haji ini termewah pada masa penjajahan Belanda dan hanya ada dua di Indonesia.
Situs Sejarah Karantina Haji hanya berjarak sekitar 100 meter dari dermaga Pulau Rubiah. Begitu turun dari kapal, perjalanan dapat ditempuh dengan berjalan kaki menyusuri jalanan terbuat dari semen.
Kiri-kanan jalan dipenuhi hutan. Tiba di lokasi, sebuah prasasti dibangun. Sekilas tentang sejarah bangunan termuat di sana. Persis di depannya, satu unit bangunan beraksitektur ardeko tampak berdiri kokoh.
Bangunan bergaya Belanda itu tampak lebih kecil dibandingkan gedung di belakangnya. Di halaman bangunan tampak lebih bersih. Di dalamnya, terdapat beberapa ruangan dalam kondisi kosong.
Atap dan lantai bangunan rusak. Catnya mulai pudar. Berjalan sekitar 20 meter dari sana, terdapat sebuah bangunan dengan delapan ruangan. Jarak kedua gedung dipisah ilalang setinggi pinggang orang dewasa.
Kondisi di dalam bangunan sama, kosong melompong, atap rusak dan lantai pecah-pecah ubinnya. Pada Senin (24/6/2019) kemarin, Direktur Pelayanan Haji Luar Negeri Sri Ilham Lubis serta rombongan Kemenag Aceh dan Sabang berkunjung ke lokasi.
"Ini bangunan masa Belanda yang dibangun tahun 1920 dan masih ada. Tapi kondisinya memprihatinkan," kata Sri di lokasi.
"Dulu fasilitas ini termewah. Cuma ada dua di Indonesia yaitu di Sabang (Aceh) dan Pulau Seribu (Jakarta)," terang Albina.
Menurut Sri, seharusnya situs sejarah ini dapat dipugar kembali sehingga masyarakat dan jemaah haji tahu sejarah haji pada masa dulu. Setelah direnovasi, keberadaan kedua bangunan tersebut dapat menjadi lokasi wisata religi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar