Senin, 20 Januari 2020

Melihat Jailangkung di Museum Kesehatan Surabaya (2)

Sasana Pendidikan dan Organisasi Kesehatan

Disini, kalian bisa melihat baju dokter modern yakni berwarna putih. Ada juga baju dokter Jawa jaman dahulu yang terdiri dari blangkon, beskap hitam, dan keris. Kalau kalian mau tau bagimana kartu berobat, resep, dan kartu kesehatan jaman dahulu, kalian bisa melihatnya di bingkai yang menempel di dinding.

Sasana Sejarah Instansi

Di bagian ini, terdapat berbagai macam foto tokoh Menteri Kesehatan RI di dinding mulai dari yang pertama kali yakni Dr. Boentaran Martoatmodjo sampai Dr. Nafsiah Mboi. Ada pula gambar-gambar ilustrasi mengenai pengobatan di negara barat.

Sasana Alat Non-Medis

Berbagai macam peralatan non-medis seperti semprotan pembasmi nyamuk malaria bisa dilihat disini. Ada pula motor jadul berwarna abu-abu yang menarik perhatian saya. Dulunya, sepeda motor ini digunakan oleh KOPEM (Komando Pemberantas Malaria).

Sejauh ini, saya menjelajah semuanya sendirian. Namun, tiba-tiba saya melihat kursi roda dan kursi kayu tua di lorong sempit. Hmm kaget, dong :').

Disini bulu kuduk saya langsung berdiri dengan indahnya. Dan detak jantung saya berdegup kencang. Saya memutuskan kembali ke tempat sebelumnya. Kelililing-keliling 2x ngga jelas. Terus saya ngelihatin kursi roda itu. Keliling lagi. Sampai akhirnya langkah kaki saya begitu berat mau ke tempat selanjutnya. Ruangan yang ber-AC dingin itupun mendadak membuat saya keringat dingin. Sampai akhirnya saya putuskan, "I can't go in there alone".

Beneran deh, itu kali pertama saya merasakan "energi" yang begitu berbeda :'). Saat saya menulis ini pun, saya masih ingat perasaan saya melihat kursi roda di pojokan itu...

Di luar, saya melihat bapak loket tadi yang sudah berganti memakai baju batik biru serta celana panjang kain warna hitam, dan tas slempang kecil. Ternyata eh ternyata, bapak tersebut juga pemandu museum. "Pak, di dalam ngga ada penjaganya ya?", begitu saya tanya. Bapaknya bilang, "Lho kenapa mbak?". Saya jawab, "Ruangan selanjutnya besar pak, saya takut nyasar (padahal dalem hati, ini kaki udah lemes kek jeli, bapak).

Dan petualangan baru pun dimulai bersama bapak pemandu (berat euy mau nulis nama aslinya, kalian kenalan sendiri aja ya). Pemandu ini telah bekerja sejak diresmikannya museum tahun 2004. Bapak yang sudah menjumpai "semuanya". Bapak yang sudah memasuki ruangan yang kini menjadi tempat terlarang. Bapak yang oleh Dr. Hariyadi sudah pernah "dibersihkan" dan menjadi saksi hidup Dr. Hariyadi pernah mati suri.

Sasana Alat Medis

Disini saya melihat kursi besar hitam dengan bak dibawahnya. Oh mungkin ini buat ibu hamil. Benar saja, di kursi tersebut ada informasinya untuk ibu hamil. Tapi saat saya melihat kotak kaca di dekat kursi tersebut, saya membaca "Alat Abortus". Sontak saya bertanya pada bapak, "Pak ini kursinya buat apa ya?". "Itu untuk aborsi atau kiret", kata bapak pemandu.

Pernah ngga tau rasanya minuman kaleng yang ditaruh di kulkas lama terus itu dikejutkan di tengkuk leher kita. Saya langsung semerinding itu. "Pak ini kursinya asli? Maksud saya memang ini digunakan untuk wanita yang aborsi jaman dulu?", saya memastikan. "Disini tidak ada replika mbak. Semua asli. Ya yang dulu digunakan, semua ada di museum ini. Ada beberapa wanita yang tidak selamat saat proses berlangsung".

Di sini saya juga melihat kursi untuk pasien dokter gigi dan ada Snellen Chart yakni poster untuk mengukur ketajaman visual kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar