Menjadi seorang pilot, pasti memiliki tantangan. Apa hal terburuk yang bisa menimpa pilot saat sedang menerbangkan pesawat?
Dilansir dari USA Today dengan rubrik 'Ask the Captain', dilihat detikcom, Rabu (3/4/2019) John Cox seorang mantan kapten pilot US Airways dan konsultan keselamatan penerbangannya Safety Operating Systems menjawab berbagai pertanyaan dari netizen.
Salah satu pertanyannya adalah apa hal terburuk yang dapat menimpa pilot saat di pesawat?
"Hal terburuk bagi saya adalah jika ada api di dalam pesawat saat terbang dan tidak bisa dikendalikan," kata John Cox.
Menurut Cox, api di dalam pesawat adalah salah satu situasi paling serius yang dihadapi seorang pilot. Setelah mengenakan masker oksigen, seorang pilot akan mengumumkan keadaan darurat dan mendarat di bandara terdekat.
"Saya sarankan untuk membaca 'Royal Aeronautical Society's Specialist Document Smoke and Fire in Transport Aircraft 2013'. Di situ diulas lebih lengkap, ada kok di internet," paparnya.
Selain api di dalam pesawat, hal terburuk lainnya yang masuk kategori paling bahaya adalah kehilangan kendali pesawat. Hal itu yang banyak menyebabkan kecelakaan jatuhnya pesawat.
"Jika Anda melihat kecelakaan yang bukan saat kondisi lepas landas atau mendarat, maka kategori kecelakaan terbesar adalah kehilangan kendali. Ada banyak penyebabnya, tetapi industri penerbangan terus membuat kemajuan yang baik untuk menanggulangi hal tersebut," tutup Cox.
Batu Payung di Lombok Ambruk, Bisa Terbentuk Jutaan Tahun Lagi
Batu Payung yang ambruk di Mandalika, Lombok terbentuk 10 juta tahun dari proses geologi. Kalau pun terbentuk lagi, maka juga butuh waktu jutaan tahun.
Analis geologi di Dinas ESDM Provinsi NTB, Kusnadi memaparkan tentang salah satu fenomena alam dari proses geologi yang bersifat destruktif akibat adanya pelapukan, erosi dan abrasi oleh cuaca dan air yang membentuk destinasi wisata ikonik di semenanjung Pantai Tanjung Aan. Salah satunya adalah Batu Payung.
Proses destruktif yang berlangsung setelah daratan Lombok terangkat ke permukaan sekitar 10 jutaan tahun yang lalu oleh ombak, membentuk tebing dan pilar-pilar yang indah. Bentuk batu hasil dari proses abrasi yang menyerupai payung dan berada di pantai yang indah itu menjadi tujuan swafoto yang tidak tertandingi.
Para turis rela merogoh kocek ratusan ribu rupiah hanya untuk mengabadikan momen diri ke lokasi tempat Batu Payung ini menggunakan perahu.
Sayangnya, proses abrasi yang masih terus berjalan membuat fenomena Batu Payung saat ini tinggal kenangan. Beberapa hari lalu dikabarkan batu indah ini runtuh dan hanya meninggalkan puing-puing.
Tentunya bentukan alami seperti itu sulit untuk didapatkan lagi karena proses pengikisan yang membutuhkan waktu ratusan, ribuan bahkan jutaan tahun tidak selalu membentuk pahatan alam yang indah.
"Tidak ada gempa yang signifikan, jadi kemungkinan besar akibat proses alami oleh abrasi ombak," tutur Kusnadi kepada detikcom, Rabu (3/4/2019).
"Sayang juga sih sebenarnya, ke depan kalau ada situs seperti itu minimal harus dibuatkan penahan ombak. Ya, kadang kita selalu berfikir semua keunikan itu tidak akan hilang sehingga tidak berusaha untuk menjaganya," lanjutnya.
Kusnadi yang juga sebagai Ketua Ikatan Analis Geologi Indonesia Nusa Tenggara ini mengatakan bentuk batu meyerupai payung itu bisa saja terjadi lagi tapi butuh waktu ratusan atau ribuan tahun karena pengikisan ombak itu terjadi sangat pelan.
"Kalau ada yang jago rekonstruksi ulang Batu Payung dari material yang masih ada malah itu lebih mungkin daripada menunggu terbentuk secara alami," katanya berseloroh.
Banyak traveler yang merasa kehilangan. Ungkapan empati itu bertebaran di media sosial, terutama komentar-komentar di yang ada di Instagram.
"Ya seharusnya kita paham bahwa bentukan itu diakibatkan oleh pengikisan ombak. Tentunya proses itu masih terus terjadi sampai sekarang sehingga perlu diantisipasi dengan membuat penahan abrasi. Tapi kita sering terlena," ujar Kusnadi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar