Kamis, 06 Februari 2020

Masalah Penumpang Pesawat di China: Lempar Koin ke Landasan Pacu

Baru-baru ini, seorang penumpang pesawat di China ditahan karena melempar koin ke landasan pacu sebelum masuk pesawat. Hal itu sudah sering terjadi.

Dirangkum dari media internasional, Senin (8/4/2019) suatu penerbangan pesawat yang sedianya terbang dari Wuhan ke Urumqi di China harus delay. Gara-garanya, seorang penumpang pesawat pria diketahui dari rekaman CCTV, melempar koin ke landasan pacu saat mau masuk pesawat.

Akhirnya, pesawat delay sampai 40 menit demi keselamatan. Petugas bandara mencari dan menemukan tiga koin pecahan 1 Yuan di sekitar pesawat. Pria itu pun akhirnya ditahan 10 hari.

Hal seperti itu rupanya bukan kali pertama terjadi. Di bulan Februari 2019 kemarin, penerbangan domestik China, Lucky Air juga mengalami delay hingga 2 jam di Bandara Anqing. Dua penumpang pria melempar koin 1 Yuan ke landasan pacu sebelum masuk ke pesawat.

Pihak maskapai mengaku rugi sebesar 140 ribu Yuan atau setara Rp 295 juta akibat insiden tersebut. Dua penumpang itu pun dikenai denda sebesar angka yang sama!

Melempar koin ke landasan pacu sebelum naik pesawat, dinilai masyarakat China sebagai ritual untuk mendapat keberuntungan dan keselamatan. Akan tetapi, hal tersebut dinilai dapat membahayakan penerbangan pesawat. Tentu, landasan pacu pesawat harus bersih dari apapun.

Pemerintah China kabarnya akan menerapkan aturan baru mengenai perihal tersebut. Denda yang tinggi akan diberlakukan, supaya tidak lagi kejadian serupa terulang di masa mendatang.

Terkait LGBT, Publik Australia Ramai-ramai Boikot Maskapai Brunei

Selain selebriti dunia, publik Australia ikut serukan penolakan pada Brunei terkait kebijakan hukuman mati bagi kaum LGBT. Yakni lewat boikot maskapai Brunei.

Sebelumnya, Kerajaan Brunei Darussalam menuai kecaman karena memberlakukan hukum syariah Islam rajam hingga tewas terhadap kaum homoseksual. Kebijakan ini pun menuai protes hingga berdampak pada pariwisata.

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Senin (8/4/2019), media News Australia pun ramai memberitakan penolakan publik Australia terkait kebijakan baru Kerajaan Brunei Darussalam pada kaum LGBT tersebut.

Bentuk penolakan itu hadir dalam bentuk petisi online, yang berbunyi seruan boikot pada pesawat maskapai Royal Brunei untuk tidak mendarat di Australia. Faktanya, Australia adalah salah satu negara yang melindungi hak kaum LGBT.

Petisi itu hadir dengan judul 'Mengapa Negara yang Memberlakukan Hukuman Mati Bagi Kaum Gay Diizinkan Beroperasi di Sini?.' Diketahui, sudah ada sekitar 14 ribu tanda tangan yang mendukung petisi itu sejak diluncurkan pekan lalu.

Serangan pada Brunei juga dilancarkan oleh kelompok advokat grup LGBTI, Thorne Harbour. Ia mengimbau agar dua Online Travel Agency (OTA) Australia yang bernama Flight Centre dan Student Flights Australia berhenti menjual tiket pesawat maskapai Royal Brunei pada masyarakat Negeri Kanguru.

"Permintaan kami adalah agar Pemerintah menarik izin maskapai Royal Brunei Airlines untuk terbang ke Australia," ujar Chief Executive Thorne Harbour, Simon Ruth.

Maskapai lain yang kontra kebijakan Kerajaan Brunei seperti Virgin Australia juga membatalkan sejumlah urusannya dengan maskapai tersebut seperti diberitakan media The Thaiger.

Selain Virgin Australia, maskapai lain yang memiliki kerjasama code-share dengan Royal Brunei Airlines juga tengah mempertimbangkan kembali hubungan mereka di masa mendatang terkait kebijakan baru yang anti LGBT itu.

Penolakan itu pun menyusul aksi para selebriti dunia seperti George Clooney dan Ellen DeGeneres yang ramai-ramai memboikot sejumlah hotel milikSultanBruneiHassanalBolkiah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar