Pantai Friwen di Raja Ampat kini mulai menjadi primadona. Punya pasir putih lembut dan laut yang cantik menjadi suguhan utama bagi wisatawan.
Seiring geliat pembangunan pariwisata yang digalakkan Pemda Raja Ampat, Friwen terus berkemas dan bersolek, dan kini ramai dikunjungi wisatawan. Pulau mungil yang terletak di Distrik Waigeo Selatan itu memang memiliki keindahan pada hamparan pasir putihnya pada sepanjang bibir pantai.
Pasir putih di sini sangat halus dan lembut. Ombaknya tenang tak segumuruh kawasan lainnya di Raja Ampat. Pada beberapa tepian dangkal dasar lautnya punya aneka terumbu karang dan berbagai jenis ikan sehingga menjadikan pulau ini surga wisata wisata laut yang diminati para wisatawan.
Selain itu, letaknya begitu strategis berada di jalur utama menuju Piayinemo, Arborek,dan Wayag. Serta diapit dua spot wisata populer yakni pasir timbul dan batu pensil.
Jarak tempuh dari ibukota Waisai relatif singkat sekitar 30 menit dengan menggunakan speedboat. Di sini juga telah dilengkapi jaringan Telkomsel.
Aktivitas yang bisa dilakukan di tempat ini yakni,Selfie atau berfoto dengan latar putih dan biru toska laut, diving, atau mengitari pulau dengan kano.
Para wisatawan juga tak perlu ragu atau takut tentang makanan karena di sini tersedia kedai kopi dan warung yang berjejer di sepanjang pesisir.
Pawai Budaya NTB dan Tradisi Pakai Sarung di Kepala
Tradisi budaya menjadi satu atraksi menarik suatu daerah. Di Dompu, NTB sedang diadakan pawai budaya yang masyarakatnya pakai sarung tapi di kepala.
Setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki ciri khas masing-masing sebagai penanda kekayaannya, salah satunya adalah busana budaya atau pakaian yang mewarisi suatu daerah itu.
Seperti di Daerah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di daerah dengan slogan Nggahi Rawi Pahu itu, memiliki busana budaya yang turun temurun bahkan hingga saat ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat nya. Mereka menyebutnya Busana Rimpu Tembe.
Seperti yang berlangsung pada Rabu (03/04/2019) pagi ini, seluruh elemen masyarakat Dompu mengikuti dan meramaikan acara pawai budaya. Hampir semua perempuan Dompu dari berbagai usia mengenakan pakai rimpu.
Rimpu Tembe dalam bahasa Indonesia berarti memakai sarung dengan cara dililit di kepala dan terurai hingga bagian kaki. Tradisi busana ini sudah ada sejak jaman sebelum masehi atau 5.000 tahun yang lalu.
Terdapat dua jenis cara rimpu tembe yang dikenal oleh masyarakat Dompu, diantaranya Rimpu Mpida dan Rimpu Colo. Dua jenis rimpu ini mengandung arti dibaliknya.
Pertama Rimpu mpida atau memakai sarung menutupi seluruh bagian kepala dan wajah hanya terlihat mata saja, adalah rimpu yang menandakan pemakainya itu wanita yang belum menikah atau masih perawan.
Kedua Rimpu Colo. Jenis ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan rimpu mpida, namun yang membedakannya adalah bagian muka dibiarkan terbuka atau kelihatan. Jenis ini menandakan pemakainya wanita yang sudah menikah atau pernah menikah.
Diketahui sudah adanya budaya ini sejak lama, dibuktikan dengan ditemukannya gerabah hasil pertukaran antara Pemerintah China dan warga pribumi Dompo (sebutan Dompu masa lampau) oleh Arkeolog Bali di Wilayah situs Nanga Doro, Kecamatan Hu'u, Kabupaten Dompu.
Setelah dilakukan penelitian, gerabah tersebut sudah berumur 5.000 tahun sebelum masehi. Saat ini, gerabah tersebut telah disimpan di museum arkeolog Denpasar Bali.
Sarung yang digunakan untuk Rimpu ini adalah sarung Nggoli sarung khas Dompu hasil tenunan asli dari bahan alam.
Pada awal-awal penggunaannya, busana rimpu hanya menggunakan satu sarung yang panjang atau ukurannya mengikuti ukuran tubuh pemakainya. Namun seiring dengan perkembangan jaman, atau masuk pada era revolusi industri pada abad ke 17, sarung tenun juga mengalami perubahan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar