Kamis, 06 Februari 2020

82 Surfer Adu Ketangkasan di Parangtritis Surfing National Competition

Tidak diragukan lagi, pantai Indonesia kualitasnya mendunia. Salah satunya unuk surfing atau berselancar.

Sebanyak 82 surfer unjuk kebolehan di kompetisi surfing nasional pantai Parangtritis, Bantul. Kompetisi tersebut bertujuan mengenalkan Pantai Parangtritis sebagai salah satu spot surfing di Indonesia.

Ketua panitia acara Parangtritis Surfing National Competition, Budi Santoso mengatakan, kompetisi surfing yang diinisiasi Dolphin Parangtritis Surf Community dan Dinas Pariwisata (Dinpar) Kabupaten Bantul ini baru pertama kali digelar. Menurutnya, kompetisi berskala nasional ini diikuti puluhan surfer dari berbagai daerah di Indonesia.

"Total peserta yang ikut ada 82 orang, ada yang berasal dari Lampung, Padang, Banten hingga Banyuwangi. Sedangkan untuk kelas yang dilombakan ada 3, yaitu woman division, local division dan yang paling bergengsi yaitu open national division," ujarnya saat ditemui di pingir Pantai Parangtritis, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Kamis (11/4/2019).

Sambung Budi, dalam kompetisi tersebut pemenang akan dinilai dari berbagai aspek, salah satunya manuver-manuver yang dilakukan saat menaklukan ombak Pantai Parangtritis. Menurutnya, penilaian terkait manuver yang dilakukan surfer menjadi penilaian khusus.

"Penilaian tertinggi itu dari manuver yang keras tapi terkontrol, jadi mereka (peserta surfing) bukan dinilai pintar dalam ambil ombak panjang, tapi lebih ke manuvernya," katanya.

Lanjut Budi, pemilihan Pantai Parangtritis sebagai lokasi kompetisi surfing bukan tanpa alasan. Menurut Budi, hal itu karena Pantai Parangtritis memiliki ombak yang terbilang unik dibanding Pantai lainnya.

"Kenapa di Paris (Parangtritis)? Karena ombak di Parangtritis itu termasuk besar. Selain itu banyak keuntungan surfing di Parangtritis, karena ombak di sini bisa dipakai surfing dari pagi sampai sore, tidak seperti Pantai lainnya," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinpar Kabupaten Bantul, Kwintarto Heru Prabowo menjelaskan, bahwa Dinpar Kabupaten Bantul mendukung penuh terselenggaranya kompetisi tersebut. Menurut Kwintarto, dengan adanya kompetisi tersebut diharap menjadi daya tarik wisatawan untuk mengunjungi Pantai Parangtritis.

"Lomba ini merupakan dukungan kami terhadap olahraga surfing, karena ternyata di Pantai Parangtritis ini sudah sering digunakan untuk latihan para surfer sejak tahun 2012. Selain itu, ini juga untuk mengenalkan ke masyarakat kalau di Paris punya daya tarik lain yaitu bisa untuk surfing," ucapnya.

Kwintarto menambahkan, bahwa daya tarik surfing di Parangtritis diharap mampu mendongkrak jumlah kunjungan wisata di Pantai Parangtritis, khususnya wisatawan asing. Mengingat dengan banyaknya wisatawan akan berdampak pada perekonomian masyarakat yang tinggal di pesisir Pantai.

"Semoga event ini bisa jadi event tahunan, karena kalau ramai pengunjung kan bisa membantu pengembangan ekonomi masyarakat juga," pungkasnya.

Tari Wura Bongi Monca Sambut Wisatawan di Festival Pesona Tambora

Puncak Festival Pesona Tambora benar-benar luar biasa. Festival tersebut mampu membuat kawasan Doro Ncanga, Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB) berubah menjadi lautan manusia, Kamis (11/4).

Berbagai sajian budaya terbaik seolah menjadi magnet tersendiri bagi ribuan masyarakat dan wisatawan yang datang. Sebuah prosesi penyambutan dengan Tari Wura Bongi Monca memulai perhelatan tersebut. Gemulai para penari bersanding manis dengan alunan musik tradisional Mbojo, khas Dumpu.

"Ini luar biasa. Keren! Festival Pesona Tambora mampu menjadi etalase terbaik. Bukan saja mengangkat kemegahan Gunung Tambora, tetapi juga seni budaya yang begitu kaya yang dimiliki NTB," ujar Ketua Pelaksana Calendar of Event Kementerian Pariwisata Esthy Reko Astuty.

Hadirnya penyanyi ibukota Helena mampu membuat suasana semakin semarak. Jebolan salah satu ajang pencarian bakat itu tampil luar biasa. Suasana makin memanas saat Esthy Reko Astuty berduet bersama Helena menyanyikan lagu Dia milik penyanyi Anji.

Acara ini juga diwarnai penampilan Tari Kolosal Doro Mantika yang begitu apik dibawakan oleh 300 penari. Tarian yang menggambarkan kearifan lokal masyarakat Dompu itu, merupakan gambaran sejati bersandingnya masyarakat dengan Gunung Tambora.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar