Kamis, 06 Februari 2020

Bali Jadi Destinasi Favorit Bagi Wisatawan Timur Tengah (2)

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran II Kemenpar Nia Niscaya bangga dengan penghargaan ini. Sebab, peminat pariwisata Bali bukan hanya turis Asia, Amerika, atau Eropa. tetapi juga dari Timur Tengah yang mayoritas Muslim.

Dijelaskan Nia, sebagai destinasi berkualitas dunia, Bali ramah untuk siapa saja. Termasuk wisatawan muslim.

"Memang ada wisata yang kita kenal sebagai wisata halal. Tapi yang harus kita semua pahami, wisata halal itu tidak melulu mengenai agama. Wisata halal adalah mengenai gaya hidup. Dan Bali sangat ramah buat siapa saja, termasuk wisatawan muslim. Siapa pun yang datang, akan merasakan kehangatan itu," katanya, Rabu (10/4).

Menurut Nia, sebuah destinasi wisata bisa dikatakan halal berkembang lebih baik jika memenuhi karakter 'family friendly'. Yang terpenting dalam karakter ini ada dua hal, yaitu makanan halal dan menyediakan fasilitas ibadah (shalat). Selebihnya adalah service of excellen atau pelayanan yang baik.

"Jadi sekali lagi, wisata halal adalah mengenai gaya hidup. Dan Bali mampu memenuhi semua kebutuhan itu," paparnya.

Penghargaan buat Bali sekaligus memperkuat posisi Indonesia yang semakin berjaya di sektor wisata halal. Tahun ini, Wonderful Indonesia bersanding ketat dengan Malaysia pada peringkat 1 Global Muslim Travel Index (GMTI).

Wisata halal telah menjadi tren global yang sangat menjanjikan saat ini dan masa depan. Sejak tahun 2000 hingga 2020, GMTI menghitung jumlah wisatawan muslim dunia terus tumbuh 27% per tahun.

Dan diprediksi akan mencapai 158 juta dengan total belanja 3.080 triliun. Angka pertumbuhan ini jauh melampaui pertumbuhan wisatawan dunia sebesar 6,4% per tahun versi WTTC (2018).

"Pesatnya pertumbuhan pariwisata halal global juga diraih Indonesia. Pertumbuhan pasar pariwisata halal Indonesia pada tahun 2018 mencapai 18%. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara muslim mencapai 2,8 juta dengan raihan devisa lebih dari Rp40 triliun," ungkapnya.

Menteri Pariwisata Arief Yahya menyatakan, wisata halal berbeda dengan wisata religi. Seorang Muslim bisa saja melakukan perjalanan wisata halal ke daerah yang basic-nya bukan Islam. Ini lebih ke arah gaya hidup.

"Kementerian Pariwisata akan terus mendorong berkembangnya destinasi pariwisata halal lainnya. Semakin banyak pilihan destinasi, akan memperkuat posisi daya saing pariwisata halal Indonesia," jelasnya.

Tahun ini, Kemenpar menargetkan pariwisata halal dapat menyumbang sedikitnya 5 juta wisatawan mancanegara. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya yang hanya ditarget sebanyak 2,6 juta wisman. Sedangkan target pertumbuhan pariwisata halal Indonesia yakni sebesar 42%, sejalan dengan tumbuhnya halal tourism dunia yang signifikan.

"Tahun ini merupakan tahun kedua penerapan standar global GMTI dalam menilai kinerja destinasi pariwisata halal unggulan Indonesia. Sebanyak 10 destinasi pariwisata unggulan Indonesia dinilai menggunakan standar ini. Yaitu Lombok, Aceh, Jakarta, Sumatera Barat, Yogyakarta, Jawa Barat, Riau, Kepulauan Riau, Malang Raya, Jawa Tengah, serta Makassar dan sekitarnya," pungkasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar