Minggu, 16 Februari 2020

Inilah Pulau di Ujung Selatan Indonesia

Pasti, nama pulau ini sudah banyak orang yang tahu. Pulau yang jadi ujung terdepan di Indonesia bagian selatan, inilah Rote.

Pulau Rote sudah menjadi surga bagi para surfer di seluruh dunia. Di awal tahun saya berkesempatan mengunjunginya dalam moment peresmian tower telekomunikasi di pulau terluar.

Berangkat dari Surabaya menuju Kupang, dengan waktu tempuh 2 jam lalu dilanjut dengan pesawat ATR 72-500 dari Kupang ke Rote membutuhkan waktu 30 menit. Kalau ditanya berapa jarak Surabaya Rote, jawabnya 2.400 km, atau setara dengan jarak Chicago ke Las Vegas.

Pulau Rote memiliki kabupaten yakni Rote Ndao, dan nama bandaranya DC Saudale. Di awal tahun 2018, Presiden Joko widodo mendarat di bandara ini dan dirinya mengklaim sebagai presiden pertama yang mengunjungi pulau Rote.

Dari Rote, kemudian saya menempuh perjalananan satu jam menuju Nembrala. Konon, di sinilah tempat indahnya Pulau Rote, yang sampai presiden pun berkunjung dan cuci muka di pantainya.

Tidak banyak yang bisa di explore di pulau ini, kecuali untuk surfing. Rote peringkat pertama. Bahkan majalah travel and leisure menobatkan Nembrala sebagai Most Popular Surfing Sport.

Beberapa tempat yang saya kunjungi di Rote adalah Pantai Tiang Bendera, Lifulada Beach dan Nembrala Beach, tempat Pak Jokowi cuci muka. Dari sisi budaya, ada yang menarik dari rote yakni sasando dan topi ti'i langga yang mirip dengan sombrero dari Meksico. Dua benda tersebut, hanya dapat dijumpai di Pulau Rote, dan satu lagi, kain tenun khas rote, kainnya bagus dan unik, ibu negara juga membeli kain tenun khas rote ketika kunjungan ke pulau ini.

Sepanjang perjalanan keliling Rote, jalanan relatif sangat sepi, jarang sekali berpapasan sama mobil. Saking sepinya, yang nyebrang jalan itu bukan lagi manusia, namun babi, sapi dan kambing. Pemandangan yang jarang kita temui di kota-kota di belahan jawa manapun. Kerbau dan babi pun berkeliaran mencari makan di padang rumput ilalang, pemandangan seperti inilah pemandangan yang bisa dibilang mahal, karena mengajak kita serasa di pinggiran Himalaya.

Ayo Visit Rote, pulau terdepan di ujung selatan Indonesia!

Saat Bekas Tambang di Bangka Disulap Jadi Tempat Wisata

Di Bangka ada kawasan eks lahan tambang timah yang disulap jadi destinasi mining tourism (pariwisata pertambangan). Cocok buat liburan nih!

Namanya kampung reklamasi Aik Jangkang berada di Dusun Sinar Rembulan, Desa Riding Panjang, Kecamatan Merawang, Kabupaten Bangka, Pulau Bangka. Untuk menuju kawasan lahan bekas tambang timah tersebut, wisatawan hanya memerlukan waktu 25 menit dari kota Pangkalpinang.

Lokasi yang memiliki luas 31 hektar ini dulunya bekas penambangan milik PT Timah Tbk. Kini disulap jadi taman rekreasi keluarga dan agrowisata dengan beragam fasilitas penunjang bagi wisatawan.

Meskipun kawasan wisata ini terbilang baru dibandingkan dengan tempat wisata yang ada di Bangka Belitung (Babel), kampung reklamasi eks tambang timah kini mulai banyak dikunjungi wisatawan, dilokasi ini wisatawan bisa melihat aneka jenias tanaman dan buah-buahan, seperti sayuran hidroponik, peternakan bioflok ikan lele dan beberapa penelitian tanaman.

Tak hanya itu, pengunjung juga bisa melihat beberapa habitat hewan langka dari bangka belitung yang dilestarikan dengan kandang, serta fasilitas istirahat dan tempat ibadah.

Salah satu pengunjung kampung reklamasi Aik Jangkang Dewi mengungkapan, tertarik untuk datang karena rasa penasaran ingin melihat lahan bekas tambang yang kini jadi tempat wisata.

"Tau dari media sosial, banyak yang menyebut kampung reklamasi air jangkang, penasaran jadi datang," jelas Dewi kepada detikTravel, Minggu (9/3/2019).

Menurutnya, kawasan eks tambang yang kini dijadikan tempat wisata cukup menarik, meskipun belum sepuhnya rampung tahap pembangunan.

"Ya baguslah, dijadikan tempat tujuan wisata bersama keluarga kedepannya," kata Dewi saat mengunjungi kampung reklamasi Aik Jangkang.

Terpisah, Direktur Utama PT. Timah Tbk Riza Pahlevi Tabrani mengatakan, awalnya di kawasana aik jangkang merupakan bekas tambang izin usaha pertambangan (IUP) mikik PT Timah dan kita lakukan reklamasi.

"Luasnya mencapai 31 hektare, ditanami buah-buahan, pelawan dan ketapang, sedangkan kolong (lubang bekas tambang) kita budaya ikan," jelas Riza.

Riza menjelaskan, kenapa dinamakan kampung reklamasi karena derah ini dijadikan tujuan tempat wisata nantinya jika sudah rampung pembangunannya. "Kedepan akan dijadikan tempat tujuan wisata baik wisatawan lokal maupun luar," ujarnya.

Ia menambahkan, selain untuk membudidaya ikan, kolong bekas tambang di kembangkan sebagai wisata air. "Pengunjung juga bisa berwisata air serta melihat habitat hewan langka dari bangka belitung yang dilakukan penangkaran," tambahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar