Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Jawa Barat ikut serta berpartisipasi aktif dalam membantu uji klinis vaksin virus Corona COVID-19. Saat ini, beberapa anggota IDI bersama dengan relawan lainnya sudah mendapatkan penyuntikkan vaksin di lima tempat uji klinis.
Ketua IDI Jabar Eka Mulyana mengatakan, ajakan menjadi relawan sudah dilakukan sejak bulan Juli 2020 lalu. Adapun tujuannya mengajak dokter-dokter menjadi relawan agar proses pencapaian dan uji klinis vaksin dapat berjalan cepat.
"Motivasi kami sebetulnya ingin membantu dalam peranan yang tidak besar untuk ikut berperan aktif penanggulangan pandemi ini. Salah satunya sebagai relawan uji vaksin. Dari 1.620 relawan yang diuji di Bandung ini untuk kepentingan 200 jutaan penduduk di Indonesia," kata Eka saat dihubungi detikcom, Jumat (14/8/2020).
Eka yang biasa turun langsung dalam penanganan pasien COVID-19 di Rumah Sakit Umum Subang juga ikut mendaftar sebagai relawan. Dia mengaku, setelah penyuntikkan vaksin hari ini di Puskesmas Ciumbuleuit, dirinya bersama relawan lain tidak mengalami efek samping.
"Alhamdulillah saya pribadi mengikuti tidak terjadi efek samping. Kalau saya kebetulan di Puskesmas Ciumbuleuit hari ini visit ke-1 suntik vaksin. Sama sekali tidak ada kekhawatiran untuk itu (suntik vaksin) karena kita dapat beraktifitas seperti biasa," ujarnya.
Adapun mengenai jaminan kesehatan, Eka menilai hal tersebut untuk berjaga-jaga jika ada hal-hal yang mungkin terjadi. "Contohnya saja terjadi kemungkinan reaksi tapi sejauh ini baik tenaga medis tidak terjadi," kata Eka.
Dia menceritakan, untuk menjadi relawan uji klinis harus melewati pemeriksaan yang sangat ketat secara administrasi dan kesehatan. Relawan yang ikut serta harus melalui proses screening awal dengan pemeriksaan fisik dan rapid test atau swab test.
Hingga saat ini, pihaknya masih mengajak dokter-dokter lain baik yang membuka praktek sendiri atau berada di rumah sakit untuk mendaftarkan diri sebagai relawan uji klinis vaksin Sinovac.
"Yang ikut relawan kurang lebih ada 10 dokter baik pengurus dan dokter praktek atau RS. Mudah-mudahan saja kita bisa bantu partisipasi target," pungkasnya.
Viral Dosen di Palembang Seks Oral dengan Anak Jalanan, Mungkinkah Pedofilia?
Oknum dosen laki-laki yang berinisial RK (43) diamankan polisi saat sedang melakukan seks oral dengan seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun yang merupakan anak jalanan di Palembang, Sumatera Selatan.
Aksi itu diduga terjadi di sebuah pondok kecil dekat Jalan Gubernur Bastari, pukul 23.30 WIB, Kamis (13/8). RK mengaku, kalau dirinya telah melakukan aksi cabul atau oral sex dengan remaja yang berusia 14 tahun. RK diduga bukan pertama kalinya melakukan aksi seks oral dengan anak jalanan. Ia juga memberi uang kepada remaja laki-laki tersebut berkisar Rp 20-25 ribu.
Menanggapi hal tersebut, seksolog dr Boyke Dian Nugraha, SpOG, MARS, menilai bahwa kemungkinan RK memiliki kelainan orientasi seksual, seperti contohnya biseksual, homoseksual, dan pedofilia. Namun, dr Boyke menyampaikan bahwa korban dari seorang pedofilia biasanya berusia sekitar 10-11 tahun.
"Kalau dia sudah berkeluarga, artinya dia gak mendapat kepuasan dari pasangannya. Bisa juga dia punya kecenderungan homoseksual. Kenapa gak cari orang dewasa saja? mungkin dia malu dan sulit," ujar dr Boyke saat dihubungi detikcom, Jumat (14/08/2020).
Tak hanya itu, dr Boyke juga mengungkapkan bahwa melakukan aksi seksual dengan seorang remaja yang 'mau dibayar' dapat membuat RK bisa mendominasi anak tersebut dan reputasinya sebagai dosen pun tetap terjaga.
"Kenapa dia cari anak jalanan? bisa juga karena dia kan membayar anak itu, jadinya bisa mendominasi dan si anak jalanan itu gak akan cerita-cerita, sehingga reputasi dia sebagai dosen tetap terjaga," pungkasnya.
https://indomovie28.net/life-of-sex-5/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar