Faktor perceraian rumah tangga kadang tidak hanya disebabkan masalah ekonomi tapi juga masalah ketimpangan gairah seksual. Seperti kasus viral suami di Tulungagung bercerai karena sering bertengkar, tak sanggup melayani permintaan bercinta sang istri.
Baca juga: Miss V 'Basah', Apakah Tanda Wanita Sedang Terangsang?
Psikolog klinis dari Personal Growth, Ni Made Diah Ayu Anggreni, mengatakan jika mengalami ketimpangan gairah seksual sebaiknya lakukan komunikasi dan buat kesepakatan dengan pasangan.
"Bisa dibuat kesepakatan bersama terkait dengan jadwal berhubungan. Apakah itu satu kali dalam sehari, atau bagaimana. Perlu diingat, bahwa kita harus mendapatkan consent dari pasangan dalam berhubungan," ujarnya kepada detikhealth, Minggu (16/08/2020).
Menurut Diah, berkomunikasi mengenai gairah seksual dapat dibahas melalui konseling pranikah. Pasangan dapat terbuka satu sama lain dan saling berkompromi dengan kekurangan satu sama lain mengenai kehidupan seksual.
Psikolog klinis lainnya dari Pro Help Center, Nuzulia Rahma Tristinarum, mengatakan cara menghindari adanya ketimpangan gairah seksual adalah dengan cara komunikasi yang menyenangkan. Komunikasi dapat dilakukan dengan bicara santai dan sampaikan dengan rasa hormat.
"Tidak dengan bahasa menyalahkan seperti 'kamu selalu begitu, kamu engga pernah, emang kamu engga bisa ngerti,'" ucap Rahma saat dihubungi detikcom, Minggu (16/08/2020).
"Cari solusi bersama. Bicarakan perasaan kita dengan penuh cinta, dengan tetap percaya diri, sampaikan saat situasi santai atau relax," tambahnya.
Gejala Tersembunyi Happy Hypoxia Tak Cuma Dialami Pasien Corona
Happy hypoxia, gejala ini bisa dialami pasien Corona dan berisiko fatal. Gejala happy hypoxia berisiko fatal karena pasien mengalami penurunan oksigen dalam darah tanpa disadari.
Menurut ahli paru dari RS Persahabatan, dr Erlang Samoedro, SpP, kondisi ini terjadi pada pasien Corona karena berkaitan dengan masalah di paru-paru.
"Penurunan oksigen di dalam darah tidak diikuti oleh rangsangannya, tidak sampai ke otak, jadi orangnya tidak sadar bahwa dia kadar oksigennya kurang," jelas dr Erlang saat dihubungi detikcom Kamis (13/8/2020).
Meski begitu, dr Erlang menegaskan happy hypoxia tidak hanya dialami oleh pasien Corona. Setiap pasien yang memang memiliki gangguan pada paru-paru secara luas dapat mengalaminya.
"Tidak selalu pasien Corona. Kalau pasien-pasien mengalami gangguan di paru secara luas, itu bisa jadi seperti itu, udara oksigen di dalam darahnya turun, tetapi dia tidak merasa sesak, jadi dia masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa," lanjutnya.
Dikutip dari jurnal The pathophysiology of 'happy' hypoxemia in COVID-19 yang dimuat pada 28 Juli 2020, happy hypoxemia atau silent hypoxemia memang tidak hanya ditemukan pada pasien COVID-19.
"Tetapi juga dapat terjadi pada pasien denganatelektasis," tulis jurnal tersebut dikutipdetikcom pada Minggu (16/8/2020).
Pasien atelektasis mengalami gangguan di dalam paru-paru. Bila atelektasis terjadi luas, kerja paru bisa jadi sangat melemah dan berpotensi menyebabkan gagal napas.
Namun, seberapa umum terjadi pada pasien Corona dan apakah kondisi happy hypoxia ini hanya bisa terjadi pada seseorang yang memiliki riwayat penyakit penyerta belum diketahui lebih lanjut. Prof Dr dr Siti Setiati, SpPD-KGER, menjelaskan belum ada laporan terkait hal tersebut.
"Belum ada laporannya. (Happy hypoxia) iya bisa berakibat fatal karena pasien yang mengalami kondisi tersebut tidak merasakan dan mendadak bisa merasa sesak napas hebat yang membahayakan," ujarnya saat dihubungi detikcom Minggu (16/8/2020).
https://indomovie28.net/falsely-accused/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar