Selasa, 11 Agustus 2020

Alasan Ilmiah Wanita Mudah Marah Saat PMS

Menstruasi merupakan perubahan fisiologis di dalam tubuh wanita yang terjadi secara berkala dan dipengaruhi oleh hormon reproduksi. Sudah menjadi rahasia umum saat menjelang menstruasi, wanita bisa mengalami perubahan suasana hati atau sering disebut premenstrual syndrome (PMS).
"Anda akan tahu naik turunnya emosi ini karena PMS jika dimulai secara konsisten seminggu hingga dua minggu sebelum menstruasi dan berhenti satu atau dua hari setelah menstruasi dimulai," ucap Carol Livoti, MD, Ginekolog di New York.

Bagi pria, rasanya mungkin menjengkelkan berhadapan dengan wanita yang sedang mengalami PMS. Hal ini membuat pria penasaran apa yang terjadi dan apakah bisa diobati?

Dilansir dari Everydayhealth, peneliti sebetulnya tidak tahu pasti alasan PMS bisa memicu gangguan emosi pada wanita, namun secara umum hal ini dianggap akibat gejolak hormon estrogen.

Saat siklus menstruasi, kadar estrogen meningkat perlahan sampai menstruasi wanita berakhir. Puncak hormonal dianggap menyebabkan perubahan suasana hati.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa hormon wanita berinteraksi dengan otak yang dapat mempengaruhi suasana hati saat PMS. Oleh sebab itu, suasana hati wanita cepat berubah.

"Penurunan kadar estrogen selama fase luteal dari siklus mungkin dapat menyebabkan penurunan serotonin, meskipun penelitian lebih lanjut perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi hubungan ini," jelas Livoti.

Dilansir dari Flohealth, sekitar 75 persen wanita merasakan gejala PMS sakit kepala, berat badan bertambah, kembung, payudara nyeri, gelisah, depresi, kelelahan, dan perasaan tidak terkendali. Rata-rata gejala ini dapat terjadi dalam 2 minggu sebelum menstruasi.

Penelitian lain mengatakan bahwa hal ini normal terjadi, karena saat menstruasi estrogen dan progesteron akan meningkat dan memberikan respon pada perubahan hormon. Oleh karena itu, jika pasangan dan atau ibu Anda mengalami PMS jangan mencari obat karena itu bukanlah sebuah penyakit.

5 Kabupaten Kota Ini Laporkan Kematian COVID-19 Terbanyak di Jawa Barat

 Dewi Nur Aisyah, PhD, selaku anggota Tim Pakar Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, menilai bahwa angka kematian akibat COVID-19 di Jawa Barat terbilang cukup kecil. Salah satu alasannya karena penanganan rumah sakit terhadap pasien Corona yang diklaim baik.
"Angka kematian di daerah Jawa Barat terbilang cukup kecil. Jika dilihat dari seluruh jumlah kasus positif di Jawa Barat, angka persentase kematiannya hanya sekitar 3,01 persen di bawah nasional dan rata-rata dunia," jelas Dewi melalui siaran pers di kanal YouTube BNPB pada Senin (10/8/2020).

Dikutip dari data yang diperoleh oleh Satgas COVID-19 per Minggu (9/8/2020), 5 wilayah di Jawa Barat yang memiliki angka kematian tertinggi akibat COVID-19 yakni:

1. Kota Depok
Jumlah kematian kumulatif sebanyak 47 kasus.

2. Kota Bandung
Jumlah kematian kumulatif sebanyak 46 kasus.

3. Kota Bogor
Jumlah kematian kumulatif sebanyak 19 kasus.

4. Kota Bekasi
jumlah kematian kumulatif sebanyak 29 kasus.

5. Bekasi
Jumlah kematian kumulatif sebanyak 31 kasus.

Dewi menjelaskan bahwa masih terdapat lima kabupaten/kota di Jawa Barat yang tidak memiliki angka kematian, yaitu Sukabumi, kota Sukabumi, Ciamis, Sumedang, dan Pangandaran. Oleh sebab itu, wilayah Jawa Barat masih berada di peringkat 100 hingga 300 dalam jumlah angka kematian COVID-19 di Indonesia.
https://kamumovie28.com/mata-batin-2-2/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar