Minggu, 14 Juni 2020

Penelitian Ungkap Alasan Orang Sering Menyentuh Wajah

Rutin mencuci tangan menjadi salah satu cara yang disarankan untuk mencegah penularan virus corona COVID-19. Tetapi hal ini akan percuma apabila tanpa sadar kita selalu menyentuh wajah setelah memegang sesuatu benda yang bisa saja terdapat bakteri atau virus di permukaannya.
"Virus yang mempengaruhi sistem pernapasan dapat masuk melalui selaput lendir yang berada di hidung, rongga mulut dan bibir," kata dokter spesialis penyakit menular di Florida, Dr Dawn Mueni Becker, seperti dikutip dari CNN.

"Kebersihan tangan yang buruk akan membuatmu mudah terinfeksi virus," lanjutnya.

Sering kali seseorang menyentuh wajahnya tanpa disadari dan sudah menjadi kebiasaan. Bahkan studi yang dilakukan di Universitas Sydney pada tahun 2015 menemukan seseorang bisa menyentuh wajahnya hingga 23 kali per jam.

Menurut studi lain pada tahun 2014, kebiasaan menyentuh wajah dilakukan sebagai respons spontan untuk mengurangi stres dan perasaan tidak nyaman.

"Menyentuh wajah begitu spontan dilakukan dan terjadi berkali-kali pada setiap harinya, terutama pada dalam situasi tertekan. Gerakan-gerakan ini biasanya tanpa sadar dilakukan seseorang," tulis peneliti dalam studi tersebut.

Riset Tegaskan Telur Tak Meningkatkan Risiko Sakit Jantung

Tidak perlu lagi ragu-ragu untuk sarapan telur. Meski dikenal punya kandungan kolesterol tinggi dalam kuning telurnya, sebutir telur tiap hari dipastikan tidak memicu stroke maupun serangan jantung.
Ini terungkap dalam sebuah penelitian yang melibatkan 215 ribu pria dan wanita sehat yang diamati selama 32 tahun. Temuan tersebut dipublikasikan dalam The British Medical Journal.

"Temuan dari penelitian sebelumnya tentang konsumsi telur dan penyakit kardiovaskular masih inconclusive," kata Dr Jean-Philippe Drouin-Chartier yang memimpin penelitian itu, dikutip dari Dailymail.

Dalam penelitian ini, sebagian besar partisipan mengonsumsi 1-5 butir telur tiap pekan. Mereka yang mengonsumsi lebih banyak telur memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi, tetapi tidak teramati ada kaitannya dengan penyakit kardiovaskular.

"Telur punya banyak kandungan gizi positif, termasuk antioksidan, yang terbukti mengurangi stres oksidatif dan inflamasi," kata Dr Dominik Alexander dari EpidStat Institute yang juga terlibat dalam penelitian ini.

Sedih! Pengidap Penyakit Langka Ini Susah Cari Tisu Gara-gara Panic Buying

Panic buying imbas ancaman virus corona COVID-19 terjadi di mana-mana, termasuk di Syndey Australia. Toko-toko kehabisan stok barang sehari-hari, termasuk tisu.
Kondisi ini berdampak serius bagi Peter Exford, seorang pengidap Cystic Fibrosis. Ia mengidap kondisi langka yang membuat paru-parunya dipenuhi lendir pekat sehingga susah bernapas.

Untuk mengatasi kondisinya, ia mengonsumsi obat untuk mengencerkan lendir pernapasan. Efeknya, ia harus sering buang ingus dan dahak, dan karenanya ia sangat bergantung pada ketersediaan tisu.

Kelangkaan tisu akibat panik buying membuatnya sulit memenuhi kebutuhan tersebut. Sampai-sampai, ia memasang pengumuman di pintu apartemennya, mengetuk hati tetangganya untuk berbagai tisu, dan akan ditukarnya dengan segulung tisu toilet.

"Saya tidak bisa mendapatkan tisu di mana-mana di supermarket, saya mengidap cystic fibrosis dan membutuhkannya setiap hari," tulisnya, dalam foto yang diunggahnya juga di Twitter.
https://cinemamovie28.com/cast/victoria-coburn/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar