Minggu, 14 Juni 2020

Riset Tegaskan Telur Tak Meningkatkan Risiko Sakit Jantung

Tidak perlu lagi ragu-ragu untuk sarapan telur. Meski dikenal punya kandungan kolesterol tinggi dalam kuning telurnya, sebutir telur tiap hari dipastikan tidak memicu stroke maupun serangan jantung.
Ini terungkap dalam sebuah penelitian yang melibatkan 215 ribu pria dan wanita sehat yang diamati selama 32 tahun. Temuan tersebut dipublikasikan dalam The British Medical Journal.

"Temuan dari penelitian sebelumnya tentang konsumsi telur dan penyakit kardiovaskular masih inconclusive," kata Dr Jean-Philippe Drouin-Chartier yang memimpin penelitian itu, dikutip dari Dailymail.

Dalam penelitian ini, sebagian besar partisipan mengonsumsi 1-5 butir telur tiap pekan. Mereka yang mengonsumsi lebih banyak telur memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) yang lebih tinggi, tetapi tidak teramati ada kaitannya dengan penyakit kardiovaskular.

"Telur punya banyak kandungan gizi positif, termasuk antioksidan, yang terbukti mengurangi stres oksidatif dan inflamasi," kata Dr Dominik Alexander dari EpidStat Institute yang juga terlibat dalam penelitian ini.

Sedih! Pengidap Penyakit Langka Ini Susah Cari Tisu Gara-gara Panic Buying

Panic buying imbas ancaman virus corona COVID-19 terjadi di mana-mana, termasuk di Syndey Australia. Toko-toko kehabisan stok barang sehari-hari, termasuk tisu.
Kondisi ini berdampak serius bagi Peter Exford, seorang pengidap Cystic Fibrosis. Ia mengidap kondisi langka yang membuat paru-parunya dipenuhi lendir pekat sehingga susah bernapas.

Untuk mengatasi kondisinya, ia mengonsumsi obat untuk mengencerkan lendir pernapasan. Efeknya, ia harus sering buang ingus dan dahak, dan karenanya ia sangat bergantung pada ketersediaan tisu.

Kelangkaan tisu akibat panik buying membuatnya sulit memenuhi kebutuhan tersebut. Sampai-sampai, ia memasang pengumuman di pintu apartemennya, mengetuk hati tetangganya untuk berbagai tisu, dan akan ditukarnya dengan segulung tisu toilet.

"Saya tidak bisa mendapatkan tisu di mana-mana di supermarket, saya mengidap cystic fibrosis dan membutuhkannya setiap hari," tulisnya, dalam foto yang diunggahnya juga di Twitter.

Sejak memasang pengumuman tersebut, ia banyak mendapat bantuan tak terduga. Seorang wanita disebutnya datang mengetuk pintu dan membawakan sebungkus tisu.

"Anaknya juga mengidap cystic fibrosis sehingga dia paham," tuturnya.

Mengenal Dansa dan Manfaatnya bagi Kesehatan

Dari 6 pasien virus corona COVID-19 di Indonesia, 5 punya keterkaitan dengan sebuah acara dansa. Bicara soal dansa, ternyata jenisnya ada macam-macam dan sebagian di antaranya bahkan termasuk cabang olahraga yang dikompetisikan.
Sebagai olahraga, dansa dinaungi oleh Ikatan Olahraga Dansa Indonesia (IODI). Dansa yang dikompetisikan antara lain adalah Latin Dance, meliputi cha cha, samba, rumba, paso doble, dan jive.

Salah seorang atlet dansa yang memperkuat Timnas Dance Sport Indonesia di ajang SEA Games 2019 lalu, Titanno Bayuseto Dahono, menjelaskan bahwa dansa sebenarnya sama seperti olahraga bela diri yang juga memadukan seni dan olahraga.

Dalam olahraga dansa, seorang atlet membutuhkan partnering skill bersama pasangan dansanya. Mereka juga dituntut untuk menjaga kecepatan, postur, dan timing yang presisi. Karenanya, kebugaran fisik dan mental harus selalu terjaga.

Kategori dansa lain yang juga populer menurut Titan adalah social dance. Walau lebih bersifat hiburan, social dance juga banyak dilakukan oleh dancer-dancer profesional.

"Mereka pun yang ikut social dance itu pun isinya guru-guru yang berkualitas, yang sudah ngajar secara internasional, yang sudah punya prestasi di luar negeri," jelas Titan.
https://cinemamovie28.com/cast/cynthia-garbutt/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar