Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berkomentar terkait penyebaran virus corona yang berasal dari Kota Wuhan, China. Ia memprediksi virus yang mulai muncul pada akhir Desember 2019 lalu akan melemah saat cuaca hangat.
"Panasnya (cuaca) biasanya (bisa) membunuh virus semacam ini," ungkapnya yang dikutip dari CNN.
Sebelumnya, Trump juga pernah memperkirakan kalau virus ini akan hilang pada musim panas di bulan April.
Mendengar hal ini, para ahli penyakit menular yang sedang berjuang melawan virus corona menganggap pendapat Trump masih terlalu dini dan tidak bisa dibuktikan secara pasti.
"Masih terlalu dini untuk menganggap segala sesuatu (virus corona) akan tenang di musim panas. Bahkan kami sebagai dokter masih belum tahu secara jelas apa itu benar atau tidak," jelas Dr Peter Hotez, ahli penyakit menular sekaligus dekan Fakultas Kedokteran Tropis Nasional di Baylor College of Medicine di Texas.
Dokter spesialis penyakit menular lainnya, Dr William Schaffner dari Vanderbilt University Medical Center juga ikut menanggapi pendapat Trump. Ia mengatakan, jika benar cuaca panas bisa melemahkan virus corona, itu bisa menjadi harapan yang besar. Sayangnya, itu belum terbukti.
Sementara itu, menurut data pada Senin lalu, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) mengatakan ada 398 orang suspek virus corona di 37 negara bagian. 12 orang dinyatakan positif, 318 negatif, dan 68 masih menunggu hasil uji lab.
"Meskipun begitu, banyak dari mereka dalam kondisi yang baik sekarang," tukas Trump.
Mematikan AC dan Buka Jendela Dianggap Mampu Kurangi Penyebaran Virus Corona
Selain selalu mencuci tangan dan menjaga kebersihan, peneliti sebut mematikan AC dan membuka jendela serta pintu secara berkala untuk mendapatkan sirkulasi air yang baik mampu mengurangi risiko tertular virus corona 2019-nCoV.
Mengutip Strait Times, studi sebelumnya telah banyak menyebut bahwa virus mampu bertahan di suhu udara dingin, rendah, dan kering. Karenanya banyak yang menganggap iklim negara tropis seperti Indonesia, Malaysia, dan Singapura tidak cocok untuk perkembangan virus corona.
Kepala Ilmuwan Kesehatan Departemen Kesehatan Singapura (MOH) Profesor Tan Chorh Chuan mengatakan bahwa kemungkinan persistensi virus di luar rumah lebih rendah, sebab kebanyakan rumah di Singapura memakai AC yang membuat suhu sekitar menjadi lebih dingin.
"Sebagian besar studi menyebut mereka (2019-nCoV) tidak bertahan baik di lingkungan panas dan lembab. Artinya lebih dari 30 derajat celcius, dan dengan tingkat kelembaban 80 persen," katanya.
Para ahli menyarankan bahwa cara lain untuk mengurangi penyebaran penyakit adalah dengan menjaga jendela dan pintu tetap terbuka. Sinar ultra-violet dan panas dari matahari juga disebut bisa membunuh virus.
"Menggunakan AC adalah suatu keharusan di Singapura, terlebih kalau cuaca sedang panas. Tapi ruangan tertutup yang tidak terlalu lembab dan dingin bisa menjadi penyebab penyakit pernapasan," pungkas Ketua Program Penyakit Menular di Universitas Nasional Singapura (NUS), Professor Hsu Li Yang.
https://nonton08.com/31-2/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar